Follow Us :              

Rangkaian Perayaan Waisak Jadi Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi Borobudur

  31 May 2026  |   19:00:00  |   dibaca : 98 
Kategori :
Bagikan :


Rangkaian Perayaan Waisak Jadi Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi Borobudur

31 May 2026 | 19:00:00 | dibaca : 98
Kategori :
Bagikan :

Foto : Sigit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Sigit (Humas Jateng)

KAB MAGELANG – Pelataran Candi Borobudur dipenuhi ribuan lampion yang menerangi langit malam. Senyum para pengunjung merekah saat lampion diterbangkan dengan harapan-harapan baik sebagai simbol kebersamaan.

Pada Minggu malam, 31 Mei 2026, ribuan pengunjung di Marga Utama kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, bersama-sama menerbangkan sebanyak 2.570 lampion perdamaian sebagai penutup rangkaian perayaan Waisak 2570 BE/2026.

Para pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara, untuk menyambut perayaan keagamaan tahunan sekaligus menyaksikan suasana sakral dan indahnya lampion yang dilepaskan ke langit pada malam Waisak.

Mereka rela membeli tiket sejak jauh-jauh hari untuk menjadi bagian dari perayaan tersebut. Tak hanya itu, sejumlah penginapan di Kabupaten Magelang juga penuh menjelang perayaan itu.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, yang hadir pada malam itu, mengapresiasi rangkaian kegiatan keagamaan yang juga mengangkat potensi perekonomian di kawasan Borobudur tersebut.

Menurutnya, sebagai kegiatan rutin tahunan, Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, antara lain meningkatkan tingkat hunian homestay serta mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat di sekitar candi.

"Semua penginapan, homestay yang di sini penuh semua. Tentu saja juga untuk UMKM masyarakat di sekitar Borobudur juga punya dampak yang signifikan," ujarnya yang pada malam itu juga ikut menerbangkan lampion di langit Borobudur.

Sekda berharap momen tersebut bisa menjadi trigger (pemicu) bagi masyarakat untuk berkunjung ke Borobudur. Saat ini, umat Buddha yang hadir tidak hanya dari Jawa Tengah, tetapi dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Hartati Murdaya mengaku bersyukur bahwa peringatan Waisak membawa dampak bagi perekonomian masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

Buktinya, penginapan milik masyarakat terus berkembang dan mengalami peningkatan jumlah yang signifikan, hingga sering kali tidak cukup menampung kunjungan umat yang datang. Beruntungnya, banyak hotel baru yang juga penuh saat peringatan Waisak Nasional.

Selain itu, rangkaian peringatan Waisak berlangsung cukup panjang dan melibatkan banyak orang, antara lain pengobatan gratis untuk lebih dari 7.000 pasien; prosesi pengambilan air suci di Umbul Jumprit, Temanggung; pengambilan api abadi di Mrapen, Grobogan; serta Dharma Santi Waisak yang dilanjutkan dengan pelepasan 2.570 lentera Waisak.

Sementara itu, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyatakan bahwa Perayaan Waisak di Borobudur menjadi simbol kuat bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi perdamaian, menghargai keberagaman, serta mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

Ia mengatakan, Indonesia sebagai bangsa yang besar tentu membutuhkan persatuan dan perdamaian. Hal itu menjadi modal kuat dalam melakukan pembangunan.

"Oleh karena itu, saya mengajak seluruh umat Buddha di Indonesia untuk terus menjadi pelopor perdamaian, memperkuat semangat toleransi, serta berkontribusi aktif dalam menjaga persaudaraan lintas agama," katanya.

Pada kesempatan itu, turut hadir para menteri Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago; Menteri Kebudayaan, Fadli Zon; Menteri Agama, Nasaruddin Umar; dan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana.


Bagikan :

KAB MAGELANG – Pelataran Candi Borobudur dipenuhi ribuan lampion yang menerangi langit malam. Senyum para pengunjung merekah saat lampion diterbangkan dengan harapan-harapan baik sebagai simbol kebersamaan.

Pada Minggu malam, 31 Mei 2026, ribuan pengunjung di Marga Utama kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, bersama-sama menerbangkan sebanyak 2.570 lampion perdamaian sebagai penutup rangkaian perayaan Waisak 2570 BE/2026.

Para pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara, untuk menyambut perayaan keagamaan tahunan sekaligus menyaksikan suasana sakral dan indahnya lampion yang dilepaskan ke langit pada malam Waisak.

Mereka rela membeli tiket sejak jauh-jauh hari untuk menjadi bagian dari perayaan tersebut. Tak hanya itu, sejumlah penginapan di Kabupaten Magelang juga penuh menjelang perayaan itu.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, yang hadir pada malam itu, mengapresiasi rangkaian kegiatan keagamaan yang juga mengangkat potensi perekonomian di kawasan Borobudur tersebut.

Menurutnya, sebagai kegiatan rutin tahunan, Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, antara lain meningkatkan tingkat hunian homestay serta mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat di sekitar candi.

"Semua penginapan, homestay yang di sini penuh semua. Tentu saja juga untuk UMKM masyarakat di sekitar Borobudur juga punya dampak yang signifikan," ujarnya yang pada malam itu juga ikut menerbangkan lampion di langit Borobudur.

Sekda berharap momen tersebut bisa menjadi trigger (pemicu) bagi masyarakat untuk berkunjung ke Borobudur. Saat ini, umat Buddha yang hadir tidak hanya dari Jawa Tengah, tetapi dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Hartati Murdaya mengaku bersyukur bahwa peringatan Waisak membawa dampak bagi perekonomian masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

Buktinya, penginapan milik masyarakat terus berkembang dan mengalami peningkatan jumlah yang signifikan, hingga sering kali tidak cukup menampung kunjungan umat yang datang. Beruntungnya, banyak hotel baru yang juga penuh saat peringatan Waisak Nasional.

Selain itu, rangkaian peringatan Waisak berlangsung cukup panjang dan melibatkan banyak orang, antara lain pengobatan gratis untuk lebih dari 7.000 pasien; prosesi pengambilan air suci di Umbul Jumprit, Temanggung; pengambilan api abadi di Mrapen, Grobogan; serta Dharma Santi Waisak yang dilanjutkan dengan pelepasan 2.570 lentera Waisak.

Sementara itu, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyatakan bahwa Perayaan Waisak di Borobudur menjadi simbol kuat bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi perdamaian, menghargai keberagaman, serta mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

Ia mengatakan, Indonesia sebagai bangsa yang besar tentu membutuhkan persatuan dan perdamaian. Hal itu menjadi modal kuat dalam melakukan pembangunan.

"Oleh karena itu, saya mengajak seluruh umat Buddha di Indonesia untuk terus menjadi pelopor perdamaian, memperkuat semangat toleransi, serta berkontribusi aktif dalam menjaga persaudaraan lintas agama," katanya.

Pada kesempatan itu, turut hadir para menteri Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago; Menteri Kebudayaan, Fadli Zon; Menteri Agama, Nasaruddin Umar; dan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu