Follow Us :              

Wujudkan Zero TBC 2030, Pemprov Jateng akan Upayakan Pengadaan Portable X-Ray pada 2026

  11 September 2025  |   14:00:00  |   dibaca : 574 
Kategori :
Bagikan :


Wujudkan Zero TBC 2030, Pemprov Jateng akan Upayakan Pengadaan Portable X-Ray pada 2026

11 September 2025 | 14:00:00 | dibaca : 574
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya dalam menangani kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayahnya. Berbagai upaya dan kerja-kerja kolaboratif dengan sejumlah sektor dilakukan untuk mewujudkan target Zero TBC pada tahun 2030. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, mengatakan, capaian penanganan TBC di Jateng masih di bawah target yang telah ditetapkan. Maka dari itu, diperlukan upaya yang lebih intensif agar penanganan TBC bisa berjalan optimal sesuai dengan harapan.

“Kami mengajak organisasi profesi dan asosiasi kesehatan, untuk bersama-sama memperkuat penemuan kasus dan pengobatan TBC,” ucapnya dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Public Private Mix (PPM) TBC dan Intervensi TBC-HIV yang digelar di Rooms Inc Hotel Pemuda, Kota Semarang pada Kamis, 11 September 2025.

Ia mengungkapkan, penggunaan mobile/portable x-ray menjadi salah satu terobosan penting dalam mempercepat deteksi kasus TBC. Perangkat ini memungkinkan pemeriksaan dilakukan di berbagai daerah yang sulit dijangkau atau tidak memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap. 

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan, Jateng ditunjuk sebagai salah satu dari 8 provinsi yang menjadi proyek percontohan Zero TBC 2030. Maka dari itu, ia mengajak dinas-dinas terkait untuk bersinergi dalam mengatasi persoalan TBC di daerah. 

“Kita harus terus bekerja keras,” tegasnya.

Ia mengatakan, hingga kini angka kematian akibat TBC masih tergolong tinggi. Oleh karena itu, program Jogo Tonggo dinilai perlu kembali digencarkan, mengingat penanganan TBC memiliki kesamaan dengan langkah-langkah yang dilakukan saat menghadapi pandemi Covid-19. 

“Banyak pasien tidak tuntas menjalani pengobatan, bahkan ada yang mengalami resistansi (ketahanan/kebal terhadap) obat. Karena itu, program Speling harus digerakkan secara masif, demikian pula program Jogo Tonggo, seperti saat kita menangani Covid-19,” kata Wagub.  

Adapun terkait pengadaan portable x-ray, Wagub menegaskan bahwa program ini sudah masuk dalam rancangan anggaran tahun 2026. Dengan adanya alat tersebut, harapannya deteksi kasus TBC dapat dilakukan dengan lebih cepat, sehingga penanganannya pun bisa lebih maksimal.

Ia menambahkan, keberhasilan dalam menekan jumlah kasus TBC tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga mempengaruhi keberlanjutan pembangunan di Jateng.

“Kalau angka TBC bisa ditekan, investor akan semakin yakin pada kualitas sumber daya manusia (SDM) kita. Karena itu, kolaborasi lintas profesi dan semua pihak adalah kunci untuk mewujudkan Zero TBC 2030,” ucapnya. 

Dalam kesempatan itu, Pemprov Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan teladan di tingkat provinsi. Penghargaan tersebut diberikan kepada Hildan Awaludin dari Puskesmas Kedungbanteng Banyumas atas prestasinya sebagai Petugas Tanggap Darurat Bencana di Puskesmas.

Penghargaan juga diberikan kepada Nugroho Lazuardi dari RSUD dr. Adhyatma Semarang untuk kategori Tenaga Kesehatan Inovatif di RS Pemerintah, serta dr. Agus Fitrianto dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto atas prestasinya sebagai Tenaga Medis Inovatif di RS Pemerintah.

Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada tiga daerah dengan kontribusi tertinggi dalam implementasi kolaborasi TBC-HIV, yakni Kabupaten Demak sebagai peringkat pertama, disusul Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magelang.

Tak hanya itu, dilaksanakan pula penandatanganan Nota Kesepakatan atau MoU bersama organisasi profesi kesehatan dalam rangka mendukung program Speling Melesat (Dokter Spesialis Keliling Mendekatkan Layanan Kesehatan Masyarakat). Inovasi ini bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan deteksi TBC di seluruh Jateng.


Bagikan :

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya dalam menangani kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayahnya. Berbagai upaya dan kerja-kerja kolaboratif dengan sejumlah sektor dilakukan untuk mewujudkan target Zero TBC pada tahun 2030. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, mengatakan, capaian penanganan TBC di Jateng masih di bawah target yang telah ditetapkan. Maka dari itu, diperlukan upaya yang lebih intensif agar penanganan TBC bisa berjalan optimal sesuai dengan harapan.

“Kami mengajak organisasi profesi dan asosiasi kesehatan, untuk bersama-sama memperkuat penemuan kasus dan pengobatan TBC,” ucapnya dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Public Private Mix (PPM) TBC dan Intervensi TBC-HIV yang digelar di Rooms Inc Hotel Pemuda, Kota Semarang pada Kamis, 11 September 2025.

Ia mengungkapkan, penggunaan mobile/portable x-ray menjadi salah satu terobosan penting dalam mempercepat deteksi kasus TBC. Perangkat ini memungkinkan pemeriksaan dilakukan di berbagai daerah yang sulit dijangkau atau tidak memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap. 

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan, Jateng ditunjuk sebagai salah satu dari 8 provinsi yang menjadi proyek percontohan Zero TBC 2030. Maka dari itu, ia mengajak dinas-dinas terkait untuk bersinergi dalam mengatasi persoalan TBC di daerah. 

“Kita harus terus bekerja keras,” tegasnya.

Ia mengatakan, hingga kini angka kematian akibat TBC masih tergolong tinggi. Oleh karena itu, program Jogo Tonggo dinilai perlu kembali digencarkan, mengingat penanganan TBC memiliki kesamaan dengan langkah-langkah yang dilakukan saat menghadapi pandemi Covid-19. 

“Banyak pasien tidak tuntas menjalani pengobatan, bahkan ada yang mengalami resistansi (ketahanan/kebal terhadap) obat. Karena itu, program Speling harus digerakkan secara masif, demikian pula program Jogo Tonggo, seperti saat kita menangani Covid-19,” kata Wagub.  

Adapun terkait pengadaan portable x-ray, Wagub menegaskan bahwa program ini sudah masuk dalam rancangan anggaran tahun 2026. Dengan adanya alat tersebut, harapannya deteksi kasus TBC dapat dilakukan dengan lebih cepat, sehingga penanganannya pun bisa lebih maksimal.

Ia menambahkan, keberhasilan dalam menekan jumlah kasus TBC tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga mempengaruhi keberlanjutan pembangunan di Jateng.

“Kalau angka TBC bisa ditekan, investor akan semakin yakin pada kualitas sumber daya manusia (SDM) kita. Karena itu, kolaborasi lintas profesi dan semua pihak adalah kunci untuk mewujudkan Zero TBC 2030,” ucapnya. 

Dalam kesempatan itu, Pemprov Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan teladan di tingkat provinsi. Penghargaan tersebut diberikan kepada Hildan Awaludin dari Puskesmas Kedungbanteng Banyumas atas prestasinya sebagai Petugas Tanggap Darurat Bencana di Puskesmas.

Penghargaan juga diberikan kepada Nugroho Lazuardi dari RSUD dr. Adhyatma Semarang untuk kategori Tenaga Kesehatan Inovatif di RS Pemerintah, serta dr. Agus Fitrianto dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto atas prestasinya sebagai Tenaga Medis Inovatif di RS Pemerintah.

Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada tiga daerah dengan kontribusi tertinggi dalam implementasi kolaborasi TBC-HIV, yakni Kabupaten Demak sebagai peringkat pertama, disusul Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magelang.

Tak hanya itu, dilaksanakan pula penandatanganan Nota Kesepakatan atau MoU bersama organisasi profesi kesehatan dalam rangka mendukung program Speling Melesat (Dokter Spesialis Keliling Mendekatkan Layanan Kesehatan Masyarakat). Inovasi ini bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan deteksi TBC di seluruh Jateng.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu