Follow Us :              

Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional

  01 October 2026  |   09:00:00  |   dibaca : 86 
Kategori :
Bagikan :

Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional

01 October 2026 | 09:00:00 | dibaca : 86
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional
Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional
Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional
Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional
Produksi Jagung Capai 2,68 juta Ton, Kukuhkan Posisi Jateng sebagai Lumbung Pangan Nasional

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SUKOHARJO — Produksi jagung Jawa Tengah pada Januari-September 2026 sudah mencapai 2,68 juta ton. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun. Capaian ini mengukuhkah Provinsi Jateng sebagai lumbung pangan nasional. 

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dalam acara Panen Raya Jagung di Lahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo pada Kamis, 1 Oktober 2026. 

“Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi, tetapi juga jagung,” ucapnya. 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung Jateng pada 2025 mencapai sekitar 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28%. Jumlah tersebut berkontribusi sekitar 17,02% terhadap produksi jagung nasional, sekaligus menempatkan Jateng sebagai produsen jagung terbesar kedua secara nasional.

Gubernur menekankan beberapa faktor utama untuk mempertahankan produksi jagung, mulai dari menjaga lahan pertanian agar tidak beralih fungsi, memastikan ketersediaan air dan pupuk hingga kelancaran distribusinya.

Khusus persoalan air, menurutnya yang terpenting adalah memastikan air benar-benar sampai ke lahan pertanian.

Terkait upaya memperkuat sumber air, hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain membuat sumur dalam, sumur dangkal, jaringan irigasi, hingga embung. Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk agar petani tidak kesulitan saat memasuki musim tanam.

Ia optimis, produksi pangan Jateng dapat terus ditingkatkan. Terlebih, panen jagung masih dapat dilakukan di tengah musim kemarau, sementara luas tanam diperkirakan kembali meningkat saat memasuki musim penghujan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, panen raya menjadi bagian dari upaya menjaga capaian produksi jagung di Jawa Tengah.

Ia mengatakan, produksi jagung hingga saat ini berada di kisaran 72% dari target 3,7 juta ton. Sukoharjo menjadi salah satu daerah yang ikut menopang capaian tersebut.

Upaya menjaga produksi juga dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Tahun ini terdapat lebih dari 300 paket penanganan jaringan irigasi tersier di Jateng.

Selain itu, pemerintah memberikan dukungan alat dan mesin pertanian untuk membantu petani mulai dari proses pengolahan lahan hingga panen dan pascapanen.

Pemprov Jateng juga memberikan stimulan benih jagung hibrida melalui APBD untuk lahan seluas 3.200 hektare. Sementara dukungan dari APBN yang terealisasi melalui kontrak mencapai 87.867 hektare di 21 kabupaten dan 2 kota. 

Adapun dari sisi ekonomi, harga jagung saat ini dinilai cukup baik bagi petani. Ka Distannak Jateng menyebut, harga jagung pipilan berada di kisaran Rp7.000-Rp7.500/kg, meskipun besarannya dipengaruhi tingkat kadar air.

Ia menjelaskan, jagung memiliki pasar yang kuat, karena komoditas ini menjadi salah satu bahan penting bagi industri pakan. Oleh karena itu, peningkatan produksi jagung perlu dibarengi pengelolaan pascapanen serta penyerapan hasil agar bisa memberikan nilai tambah bagi petani.


Bagikan :

SUKOHARJO — Produksi jagung Jawa Tengah pada Januari-September 2026 sudah mencapai 2,68 juta ton. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun. Capaian ini mengukuhkah Provinsi Jateng sebagai lumbung pangan nasional. 

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dalam acara Panen Raya Jagung di Lahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo pada Kamis, 1 Oktober 2026. 

“Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi, tetapi juga jagung,” ucapnya. 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung Jateng pada 2025 mencapai sekitar 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28%. Jumlah tersebut berkontribusi sekitar 17,02% terhadap produksi jagung nasional, sekaligus menempatkan Jateng sebagai produsen jagung terbesar kedua secara nasional.

Gubernur menekankan beberapa faktor utama untuk mempertahankan produksi jagung, mulai dari menjaga lahan pertanian agar tidak beralih fungsi, memastikan ketersediaan air dan pupuk hingga kelancaran distribusinya.

Khusus persoalan air, menurutnya yang terpenting adalah memastikan air benar-benar sampai ke lahan pertanian.

Terkait upaya memperkuat sumber air, hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain membuat sumur dalam, sumur dangkal, jaringan irigasi, hingga embung. Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk agar petani tidak kesulitan saat memasuki musim tanam.

Ia optimis, produksi pangan Jateng dapat terus ditingkatkan. Terlebih, panen jagung masih dapat dilakukan di tengah musim kemarau, sementara luas tanam diperkirakan kembali meningkat saat memasuki musim penghujan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, panen raya menjadi bagian dari upaya menjaga capaian produksi jagung di Jawa Tengah.

Ia mengatakan, produksi jagung hingga saat ini berada di kisaran 72% dari target 3,7 juta ton. Sukoharjo menjadi salah satu daerah yang ikut menopang capaian tersebut.

Upaya menjaga produksi juga dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Tahun ini terdapat lebih dari 300 paket penanganan jaringan irigasi tersier di Jateng.

Selain itu, pemerintah memberikan dukungan alat dan mesin pertanian untuk membantu petani mulai dari proses pengolahan lahan hingga panen dan pascapanen.

Pemprov Jateng juga memberikan stimulan benih jagung hibrida melalui APBD untuk lahan seluas 3.200 hektare. Sementara dukungan dari APBN yang terealisasi melalui kontrak mencapai 87.867 hektare di 21 kabupaten dan 2 kota. 

Adapun dari sisi ekonomi, harga jagung saat ini dinilai cukup baik bagi petani. Ka Distannak Jateng menyebut, harga jagung pipilan berada di kisaran Rp7.000-Rp7.500/kg, meskipun besarannya dipengaruhi tingkat kadar air.

Ia menjelaskan, jagung memiliki pasar yang kuat, karena komoditas ini menjadi salah satu bahan penting bagi industri pakan. Oleh karena itu, peningkatan produksi jagung perlu dibarengi pengelolaan pascapanen serta penyerapan hasil agar bisa memberikan nilai tambah bagi petani.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu