Follow Us :              

Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi

  01 October 2026  |   12:30:00  |   dibaca : 94 
Kategori :
Bagikan :

Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi

01 October 2026 | 12:30:00 | dibaca : 94
Kategori :
Bagikan :

Foto : Sigit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi
Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi
Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi
Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi
Hadiri Showcase Lumbung Karya Indonesia, Gubernur Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pengolahan Pangan Lokal Bernilai Jual Tinggi

Foto : Sigit (Humas Jateng)

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., terus mendorong peningkatan nilai jual produk pangan lokal melalui upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayahnya.

Upaya tersebut dilakukan lain melalui berbagai pelatihan, memperluas cakupan pasar, hingga mengangkat berbagai macam potensi desa.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Kamis, 1 Oktober 2026.
 
Berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM tahun 2025, Jateng memiliki sekitar 4,06 juta UMKM yang tersebar di berbagai daerah. Adapun dari jumlah itu, sebesar 97,95% merupakan usaha mikro. Produk-produk UMKM yang dipasarkan berupa olahan pangan khas masing-masing daerah. 

Gubernur berharap, bahan pangan lokal yang dimiliki daerah dapat diolah oleh para pelaku UMKM menjadi produk yang memiliki kualitas, citra, legalitas, sertifikasi, dan akses pasar yang kuat. Dengan demikian, hal ini mampu menumbuhkan ekonomi daerah. 

"Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas," ucapnya.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memberikan dukungan melalui pendampingan dan pembinaan UMKM. Bank Jateng juga sudah memberikan kredit dengan suku bunga rendah kepada pelaku UMKM agar dapat berkembang dan naik kelas.

Di satu sisi, keterlibatan _stakeholder_ atau instansi lain juga menjadi hal penting. Salah satunya, seperti event Lumbung Karya Indonesia yang telah mengkurasi serta memberikan pembinaan kepada para pelaku UMKM.

"Saya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia. Kalau bisa event seperti ini bisa dilakukan setiap bulan," ucap Gubernur.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Santoso, mengatakan bahwa acara Lumbung Karya Indonesia sangat diperlukan untuk pengembangan UMKM. Terlebih tema yang diangkat berkaitan dengan pengolahan produk pangan lokal dan ketahanan pangan.

“Kami senang hadir ke sini untuk acara Lumbung Karya Indonesia, karena ada start up, ekonomi kreatif subsektor kuliner, dan UMKM. Tiga hal ini diharapkan dapat berkontribusi dalam perekonomian. Apalagi di Jawa Tengah ini industri pengolahan dan pertanian menjadi penopang," katanya.

Dalam event tersebut juga diberikan penghargaan untuk enam kategori, meliputi Best Local Roots Innovation yang diraih oleh Tococo Indonesia, ?Best Innovation & Transformation diterima oleh Nirbaya Mocaf, Best Business Readiness diterima PT Allisha Gesang Sejahtera, ?Most Impactful & Replicable diterima Dalem Wangi, dan ?Best Growth Potential diterima oleh Cumi Item Rasa Yang Berkah.

Semua UMKM penerima penghargaan dalam Lumbung Karya Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Misalnya, Nirbaya Mocaf merupakan UMKM yang diinisiasi oleh Lapas Nirbaya di Nusakambangan. UMKM tersebut melibatkan warga binaan lapas untuk membuat beraneka macam produk olahan dari singkong, mulai dari tepung mocaf, gula dari kulit singkong yang kemudian diolah menjadi kombucha, sampai olahan ampas kulit singkong untuk pakan ayam petelur.

"Bahan singkong diambil dari wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk kebun singkong yang ditanam sendiri oleh warga binaan. Kami beli harga sesuai yang ditetapkan pemerintah. (Selama) satu minggu, produksi kami (menggunakan) 2 ton singkong. Tepung mocaf juga kami olah menjadi es krim, jadi 80 persen bahan es krim dari singkong" ucap Kalapas Nirbaya Nusakambangan, Helmi Najih.


Bagikan :

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., terus mendorong peningkatan nilai jual produk pangan lokal melalui upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayahnya.

Upaya tersebut dilakukan lain melalui berbagai pelatihan, memperluas cakupan pasar, hingga mengangkat berbagai macam potensi desa.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Kamis, 1 Oktober 2026.
 
Berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM tahun 2025, Jateng memiliki sekitar 4,06 juta UMKM yang tersebar di berbagai daerah. Adapun dari jumlah itu, sebesar 97,95% merupakan usaha mikro. Produk-produk UMKM yang dipasarkan berupa olahan pangan khas masing-masing daerah. 

Gubernur berharap, bahan pangan lokal yang dimiliki daerah dapat diolah oleh para pelaku UMKM menjadi produk yang memiliki kualitas, citra, legalitas, sertifikasi, dan akses pasar yang kuat. Dengan demikian, hal ini mampu menumbuhkan ekonomi daerah. 

"Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas," ucapnya.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memberikan dukungan melalui pendampingan dan pembinaan UMKM. Bank Jateng juga sudah memberikan kredit dengan suku bunga rendah kepada pelaku UMKM agar dapat berkembang dan naik kelas.

Di satu sisi, keterlibatan _stakeholder_ atau instansi lain juga menjadi hal penting. Salah satunya, seperti event Lumbung Karya Indonesia yang telah mengkurasi serta memberikan pembinaan kepada para pelaku UMKM.

"Saya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia. Kalau bisa event seperti ini bisa dilakukan setiap bulan," ucap Gubernur.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Santoso, mengatakan bahwa acara Lumbung Karya Indonesia sangat diperlukan untuk pengembangan UMKM. Terlebih tema yang diangkat berkaitan dengan pengolahan produk pangan lokal dan ketahanan pangan.

“Kami senang hadir ke sini untuk acara Lumbung Karya Indonesia, karena ada start up, ekonomi kreatif subsektor kuliner, dan UMKM. Tiga hal ini diharapkan dapat berkontribusi dalam perekonomian. Apalagi di Jawa Tengah ini industri pengolahan dan pertanian menjadi penopang," katanya.

Dalam event tersebut juga diberikan penghargaan untuk enam kategori, meliputi Best Local Roots Innovation yang diraih oleh Tococo Indonesia, ?Best Innovation & Transformation diterima oleh Nirbaya Mocaf, Best Business Readiness diterima PT Allisha Gesang Sejahtera, ?Most Impactful & Replicable diterima Dalem Wangi, dan ?Best Growth Potential diterima oleh Cumi Item Rasa Yang Berkah.

Semua UMKM penerima penghargaan dalam Lumbung Karya Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Misalnya, Nirbaya Mocaf merupakan UMKM yang diinisiasi oleh Lapas Nirbaya di Nusakambangan. UMKM tersebut melibatkan warga binaan lapas untuk membuat beraneka macam produk olahan dari singkong, mulai dari tepung mocaf, gula dari kulit singkong yang kemudian diolah menjadi kombucha, sampai olahan ampas kulit singkong untuk pakan ayam petelur.

"Bahan singkong diambil dari wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk kebun singkong yang ditanam sendiri oleh warga binaan. Kami beli harga sesuai yang ditetapkan pemerintah. (Selama) satu minggu, produksi kami (menggunakan) 2 ton singkong. Tepung mocaf juga kami olah menjadi es krim, jadi 80 persen bahan es krim dari singkong" ucap Kalapas Nirbaya Nusakambangan, Helmi Najih.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu