Foto : Adit (Humas Jateng)
Foto : Adit (Humas Jateng)
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat, setidaknya ada 51 kejadian bencana di wilayahnya pada 1 Januari-1 Februari 2026. Maka dari itu, masyarakat diimbau tetap waspada mengingat hujan masih berpotensi terjadi hingga 9 Februari 2026.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, jenis bencana yang terjadi di provinsi ini, meliputi banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga cuaca ekstrem. Kejadian tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jateng.
Sejumlah bencana yang terjadi mengakibatkan 7 orang meninggal dunia, 5 orang luka-luka, 9.729 orang mengungsi, dan 308.108 orang terdampak. Selain itu, bencana juga menyebabkan kerusakan rumah tinggal, fasilitas umum, hingga lahan pertanian dan lahan perikanan.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menangani bencana di wilayahnya. Langkah cepat yang diambil, mulai dari mengupayakan rekayasa cuaca hingga memastikan distribusi logistik kepada warga yang terdampak.
“Kami memastikan semua warga terdampak mendapatkan bantuan, dan tim di lapangan bisa bekerja tanpa kendala teknis,” ucapnya usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Jateng di Gedung Berlian, Kota Semarang pada Senin, 2 Februari 2026.
Selain itu, Pemprov juga melakukan pemulihan akses jalur-jalur logistik yang terdampak. Keberhasilan pemulihan akses menjadi hal yang sangat krusial, agar bantuan pangan dan medis bisa mencapai lokasi pengungsian.
Tak hanya itu, optimalisasi pompa untuk mempercepat penanganan banjir di sejumlah wilayah juga terus diupayakan.
Sementara di lokasi pengungsian, Pemprov Jateng menyediakan layanan pemulihan trauma (trauma healing) dan psikososial untuk para korban bencana. Seperti yang terlihat di Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang pada Jumat, 30 Januari 2026. Anak-anak dan ibu-ibu yang mengungsi secara rutin mendapatkan layanan psikososial dan trauma healing dari para petugas.
Meskipun penanganan bencana difokuskan pada penyelamatan warga dan penyaluran bantuan darurat, Sekda menyatakan bahwa rencana rehabilitasi pascabencana sudah disiapkan, sembari menunggu cuaca benar-benar stabil.
"Setelah situasi kedaruratan ini teratasi dan genangan benar-benar hilang, kami akan segera masuk ke tahap penanganan pascabencana untuk perbaikan infrastruktur yang rusak," ucap Sekda.
Selain itu, Sekda mengimbau masyarakat tetap siaga dan aktif melaporkan kondisi darurat, melalui kanal pengaduan cepat agar tim reaksi cepat dapat segera meluncur ke lokasi.
Beberapa kanal yang dapat dikontak adalah call center 112, WhatsApp Pusdalops 08813809409, dan Dinas Sosial Provinsi Jateng (024) 8454962.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani–Semarang pada 2 Februari 2026 pukul 14.15 WIB, potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir/kilat dan angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah hingga 9 Februari 2026.
Prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita, mengimbau masyarakat untuk waspada, tetapi tetap tenang akan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan longsor, dengan menjauhi bantaran sungai serta menghindari aktivitas di daerah rawan longsor.
Tak hanya itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas di luar ruangan saat hujan disertai kilat/petir dan angin kencang, serta menghindari tempat-tempat terbuka, pohon besar, baliho, atau tiang listrik yang berpotensi roboh.
"Pemerintah Daerah dan pihak terkait (diminta) melakukan upaya mitigasi/pengurangan risiko bencana, termasuk menyebarluaskan informasi peringatan dini kepada masyarakat," katanya.
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat, setidaknya ada 51 kejadian bencana di wilayahnya pada 1 Januari-1 Februari 2026. Maka dari itu, masyarakat diimbau tetap waspada mengingat hujan masih berpotensi terjadi hingga 9 Februari 2026.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, jenis bencana yang terjadi di provinsi ini, meliputi banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga cuaca ekstrem. Kejadian tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jateng.
Sejumlah bencana yang terjadi mengakibatkan 7 orang meninggal dunia, 5 orang luka-luka, 9.729 orang mengungsi, dan 308.108 orang terdampak. Selain itu, bencana juga menyebabkan kerusakan rumah tinggal, fasilitas umum, hingga lahan pertanian dan lahan perikanan.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menangani bencana di wilayahnya. Langkah cepat yang diambil, mulai dari mengupayakan rekayasa cuaca hingga memastikan distribusi logistik kepada warga yang terdampak.
“Kami memastikan semua warga terdampak mendapatkan bantuan, dan tim di lapangan bisa bekerja tanpa kendala teknis,” ucapnya usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Jateng di Gedung Berlian, Kota Semarang pada Senin, 2 Februari 2026.
Selain itu, Pemprov juga melakukan pemulihan akses jalur-jalur logistik yang terdampak. Keberhasilan pemulihan akses menjadi hal yang sangat krusial, agar bantuan pangan dan medis bisa mencapai lokasi pengungsian.
Tak hanya itu, optimalisasi pompa untuk mempercepat penanganan banjir di sejumlah wilayah juga terus diupayakan.
Sementara di lokasi pengungsian, Pemprov Jateng menyediakan layanan pemulihan trauma (trauma healing) dan psikososial untuk para korban bencana. Seperti yang terlihat di Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang pada Jumat, 30 Januari 2026. Anak-anak dan ibu-ibu yang mengungsi secara rutin mendapatkan layanan psikososial dan trauma healing dari para petugas.
Meskipun penanganan bencana difokuskan pada penyelamatan warga dan penyaluran bantuan darurat, Sekda menyatakan bahwa rencana rehabilitasi pascabencana sudah disiapkan, sembari menunggu cuaca benar-benar stabil.
"Setelah situasi kedaruratan ini teratasi dan genangan benar-benar hilang, kami akan segera masuk ke tahap penanganan pascabencana untuk perbaikan infrastruktur yang rusak," ucap Sekda.
Selain itu, Sekda mengimbau masyarakat tetap siaga dan aktif melaporkan kondisi darurat, melalui kanal pengaduan cepat agar tim reaksi cepat dapat segera meluncur ke lokasi.
Beberapa kanal yang dapat dikontak adalah call center 112, WhatsApp Pusdalops 08813809409, dan Dinas Sosial Provinsi Jateng (024) 8454962.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani–Semarang pada 2 Februari 2026 pukul 14.15 WIB, potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir/kilat dan angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah hingga 9 Februari 2026.
Prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita, mengimbau masyarakat untuk waspada, tetapi tetap tenang akan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan longsor, dengan menjauhi bantaran sungai serta menghindari aktivitas di daerah rawan longsor.
Tak hanya itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas di luar ruangan saat hujan disertai kilat/petir dan angin kencang, serta menghindari tempat-tempat terbuka, pohon besar, baliho, atau tiang listrik yang berpotensi roboh.
"Pemerintah Daerah dan pihak terkait (diminta) melakukan upaya mitigasi/pengurangan risiko bencana, termasuk menyebarluaskan informasi peringatan dini kepada masyarakat," katanya.
Berita Terbaru