Follow Us :              

Produksi Padi di Jawa Tengah Surplus, Pemprov Pastikan Pasokan Pangan Aman

  03 March 2026  |   10:00:00  |   dibaca : 617 
Kategori :
Bagikan :


Produksi Padi di Jawa Tengah Surplus, Pemprov Pastikan Pasokan Pangan Aman

03 March 2026 | 10:00:00 | dibaca : 617
Kategori :
Bagikan :

Foto : Sigit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Sigit (Humas Jateng)

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan pasokan pangan di wilayah aman. Sebab, produksi padi pada awal tahun 2026 dalam kondisi surplus. 

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menyatakan, perkiraan produksi gabah kering giling (GKG) Januari–Maret 2026 mencapai sekitar 3,35 juta ton, dengan potensi surplus beras setelah dikonversi dengan kebutuhan konsumsi mencapai sekitar 900 ribu ton.

“Secara produksi kita surplus. Tantangannya sekarang adalah bagaimana distribusi dan tata kelolanya, agar pasokan tetap di Jawa Tengah dan mendukung penguatan cadangan,” ucapnya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menerima audiensi dari Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah di Kota Semarang pada Selasa, 3 Maret 2026. 

Ia menyebut, saat ini harga gabah di tingkat petani berada di atas Harga Pokok Pembelian (HPP) Rp6.500/kg, bahkan di beberapa daerah menyentuh Rp6.700-Rp7.000 per kg. Meskipun demikian, harga beras di tingkat konsumen masih relatif terkendali di bawah Rp13.000/kg.

Kepala Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah (Kanwil) Jateng, Sri Muniati, mengatakan bahwa hingga awal Maret 2026, Bulog telah merealisasikan serapan gabah sebesar 63.909 ton setara beras. Angka tersebut setara 12,39% dari target pengadaan tahun 2026 sebesar 515.722 ton setara beras.

Ia mengungkapkan, momentum puncak panen yang diperkirakan berlangsung pada Maret–April, menjadi periode krusial untuk percepatan serapan gabah.

“Rata-rata serapan saat ini sekitar 3.000 ton per hari. Untuk mencapai target tahunan, diperlukan percepatan hingga sekitar 3.900 ton per hari,” ujarnya.

Artinya, masih diperlukan penguatan serapan sekitar 900 ton per hari agar target pengadaan tahun 2026 dapat tercapai, bahkan terlampaui.

Oleh karena itu, Bulog juga meminta dukungan dari Pemprov Jateng, agar pelaku industri pengolahan padi yang belum menjadi Mitra Pengadaan Pangan (MPP), dapat berkontribusi minimal 10% dari kapasitas produksinya untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.

Selain beras, Bulog Jateng mendapat tugas untuk menyerap jagung pipil kering sebagai Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dengan target 73.776 ton pada tahun 2026. Hingga 1 Maret 2026, realisasi serapan jagung mencapai 5.230,85 ton atau 7,09% dari target tahunan.

Di sisi komoditas minyak goreng rakyat, Bulog mencatat realisasi penerimaan MinyaKita sebesar 6.099.616 liter atau 90,06% dari rencana pengadaan 6.772.540 liter.

Tercatat, posisi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Jateng per 1 Maret 2026 sebesar 344.312 ton setara beras. Selain itu, jagung pipil kering sebanyak 8.103 ton dan stok minyak goreng totalnya 3.530.273 liter.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh lengah terhadap dinamika harga di tingkat petani maupun konsumen.

“Kita tidak boleh terlena. Jangan sampai terlena soal kenaikan harga. Segera intervensi agar tidak ada harga tinggi,” tegasnya.


Bagikan :

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan pasokan pangan di wilayah aman. Sebab, produksi padi pada awal tahun 2026 dalam kondisi surplus. 

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menyatakan, perkiraan produksi gabah kering giling (GKG) Januari–Maret 2026 mencapai sekitar 3,35 juta ton, dengan potensi surplus beras setelah dikonversi dengan kebutuhan konsumsi mencapai sekitar 900 ribu ton.

“Secara produksi kita surplus. Tantangannya sekarang adalah bagaimana distribusi dan tata kelolanya, agar pasokan tetap di Jawa Tengah dan mendukung penguatan cadangan,” ucapnya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menerima audiensi dari Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah di Kota Semarang pada Selasa, 3 Maret 2026. 

Ia menyebut, saat ini harga gabah di tingkat petani berada di atas Harga Pokok Pembelian (HPP) Rp6.500/kg, bahkan di beberapa daerah menyentuh Rp6.700-Rp7.000 per kg. Meskipun demikian, harga beras di tingkat konsumen masih relatif terkendali di bawah Rp13.000/kg.

Kepala Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah (Kanwil) Jateng, Sri Muniati, mengatakan bahwa hingga awal Maret 2026, Bulog telah merealisasikan serapan gabah sebesar 63.909 ton setara beras. Angka tersebut setara 12,39% dari target pengadaan tahun 2026 sebesar 515.722 ton setara beras.

Ia mengungkapkan, momentum puncak panen yang diperkirakan berlangsung pada Maret–April, menjadi periode krusial untuk percepatan serapan gabah.

“Rata-rata serapan saat ini sekitar 3.000 ton per hari. Untuk mencapai target tahunan, diperlukan percepatan hingga sekitar 3.900 ton per hari,” ujarnya.

Artinya, masih diperlukan penguatan serapan sekitar 900 ton per hari agar target pengadaan tahun 2026 dapat tercapai, bahkan terlampaui.

Oleh karena itu, Bulog juga meminta dukungan dari Pemprov Jateng, agar pelaku industri pengolahan padi yang belum menjadi Mitra Pengadaan Pangan (MPP), dapat berkontribusi minimal 10% dari kapasitas produksinya untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.

Selain beras, Bulog Jateng mendapat tugas untuk menyerap jagung pipil kering sebagai Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dengan target 73.776 ton pada tahun 2026. Hingga 1 Maret 2026, realisasi serapan jagung mencapai 5.230,85 ton atau 7,09% dari target tahunan.

Di sisi komoditas minyak goreng rakyat, Bulog mencatat realisasi penerimaan MinyaKita sebesar 6.099.616 liter atau 90,06% dari rencana pengadaan 6.772.540 liter.

Tercatat, posisi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Jateng per 1 Maret 2026 sebesar 344.312 ton setara beras. Selain itu, jagung pipil kering sebanyak 8.103 ton dan stok minyak goreng totalnya 3.530.273 liter.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh lengah terhadap dinamika harga di tingkat petani maupun konsumen.

“Kita tidak boleh terlena. Jangan sampai terlena soal kenaikan harga. Segera intervensi agar tidak ada harga tinggi,” tegasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu