Follow Us :              

Ungkapan Kegembiraan, Gubernur Terima Sebungkus Bakso dari Peserta Mudik Gratis 2026 

  16 March 2026  |   09:00:00  |   dibaca : 330 
Kategori :
Bagikan :


Ungkapan Kegembiraan, Gubernur Terima Sebungkus Bakso dari Peserta Mudik Gratis 2026 

16 March 2026 | 09:00:00 | dibaca : 330
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

JAKARTA — Program Mudik Gratis Lebaran 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah disambut antusiasme ribuan pemudik. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mengungkapkan rasa gembira dan rasa terima kasihnya. 

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Lulik Setiyawan. Penjual bakso asal Kabupaten Karanganyar itu sengaja menghadiahkan sebungkus bakso untuk Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., karena merasa gembira bisa mengikuti program ini.  

Momen tersebut terjadi saat Gubernur Jateng menyapa para peserta Mudik Gratis 2026 di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada Senin,16 Maret 2026. 

Tepatnya, ketika ia menyapa para pemudik di bus nomor 21 tujuan Kabupaten Karanganyar. Saat tengah asyik berdialog dengan para pemudik, tiba-tiba Gubernur disodori sebungkus bakso.

"(Bapak) pekerjaannya apa, sudah ikut Mudik Gratis berapa kali?" tanya Gubernur saat berada di dekat tempat duduk Lulik.

Lulik menjawab bahwa ia bekerja sebagai pedagang bakso keliling. Lokasinya di kawasan Jakarta Selatan. Ia bercerita bahwa dirinya sudah ikut Mudik Gratis dari Pemprov Jateng sejak tahun 2016 dan bisa menghemat ongkos mudik ke Karanganyar.

Tak lama, Lulik menyodorkan sebungkus bakso yang khusus ia buatkan untuk Sang Gubernur. Sebungkus bakso itu sebagai ungkapan terima kasih, karena Pemprov Jateng telah mengadakan program Mudik Gratis tiap tahunnya.

"Pak, ngapunten. Niki kula damelke khusus kagem Pak Gubernur. (Pak, maaf. Ini saya buatkan khusus untuk Pak Gubernur)," ucap Lulik sembari menyunggingkan senyum. 

Gubernur pun menerima sebungkus bakso itu diselingi tawa hangat. Ia juga membalas dengan memberikan paket berisi makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

"Top, dikasih bakso. Besok baliknya ikut program Balik Rantau Gratis juga? Bisa ngirit dong. Penting senang dan sehat ya," ucap Gubernur menanggapi.

Saat ditemui di lokasi, Lulik bercerita sudah merantau ke Jakarta sejak lulus sekolah. Awalnya, ia ikut orang tuanya yang juga merantau ke Jakarta. Sebelumnya, ia sempat bekerja serabutan dan membantu orang tuanya jualan bakso. Kemudian, Lulik menikah dan memutuskan untuk berjualan bakso keliling sendiri, sementara istrinya jualan jamu keliling.

"Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua di sini, terus sempat kerja, terus mulai jualan bakso sendiri setelah menikah pada tahun 2012," ucapnya.

Penghasilan kotor Lulik dari jualan bakso keliling rata-rata Rp5 juta per bulan. Jumlah itu masih dipotong modal, biaya kontrak rumah, makan sehari-hari, serta biaya listrik dan air. 

"Kontrakan per bulan Rp800 ribu, kalau ditambah biaya makan, listrik, dan air ya total sebulan bisa sampai Rp1 juta," ungkap pria yang menyewa rumah ukuran kecil bersama istri dan anak-anaknya itu.

Dari pendapatan yang pas-pasan tersebut, ia masih harus menabung untuk biaya sekolah anak. Kalau masuk musim Lebaran, pengeluaran bisa lebih tinggi karena harus mudik ke kampung halaman. Beban tertinggi tentu saja ongkos tiket bus ke Karanganyar, yang saat Lebaran bisa tembus Rp600 ribu per orang.

"Mudik Gratis ini sangat membantu buat saya sekeluarga. Sudah ikut program ini dari 2016, kalau nggak salah. Dari dulu daftarnya masih antre di Kantor Badan Penghubung Jawa Tengah, sampai sekarang bisa daftar lewat aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN)," ujarnya.

Kisah di perantauan juga disampaikan oleh Bejo Fauzan, pedagang bakso di daerah Tanah Kusir, Jakarta. Bejo mengaku sudah merantau dan berjualan bakso Solo sejak tahun 1994. Ia mulai berjualan keliling menggunakan pikulan, kemudian menggunakan sepeda ontel, berlanjut pakai gerobak keliling, lalu membuka warung kaki lima, dan akhirnya dapat menyewa sebuah bangunan di wilayah Tanah Kusir.

"Di sini baru empat tahun, dulu warung tempel di depan situ, dulunya bangunan ini untuk warteg. Begitu sudah tidak digunakan warteg, saya masuk (kontrak). Sewanya sebulan Rp3,5 juta. Pendapatan bisa Rp6-7 juta per bulan," ujar warga asal Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar itu saat ditemui di warungnya sehari sebelum berangkat mudik.

Meskipun sudah puluhan tahun merantau, baru tahun ini Bejo dan keluarganya ikut program Mudik Gratis yang diselenggarakan oleh Pemprov Jateng. Tahun-tahun sebelumnya, ia tidak tahu kalau ada program tersebut. Setiap mudik, ia harus merogoh kantong yang cukup dalam hanya untuk membeli tiket seharga Rp600 ribu per orang.

"Baru tahu tahun ini dari Mas Lulik, lalu saya minta tolong untuk didaftarkan sekeluarga. Bersyukur sekali ada program Mudik Gratis ini, lumayan uangnya bisa beli susu anak dan buat bekal Lebaran di kampung," tuturnya.


Bagikan :

JAKARTA — Program Mudik Gratis Lebaran 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah disambut antusiasme ribuan pemudik. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mengungkapkan rasa gembira dan rasa terima kasihnya. 

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Lulik Setiyawan. Penjual bakso asal Kabupaten Karanganyar itu sengaja menghadiahkan sebungkus bakso untuk Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., karena merasa gembira bisa mengikuti program ini.  

Momen tersebut terjadi saat Gubernur Jateng menyapa para peserta Mudik Gratis 2026 di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada Senin,16 Maret 2026. 

Tepatnya, ketika ia menyapa para pemudik di bus nomor 21 tujuan Kabupaten Karanganyar. Saat tengah asyik berdialog dengan para pemudik, tiba-tiba Gubernur disodori sebungkus bakso.

"(Bapak) pekerjaannya apa, sudah ikut Mudik Gratis berapa kali?" tanya Gubernur saat berada di dekat tempat duduk Lulik.

Lulik menjawab bahwa ia bekerja sebagai pedagang bakso keliling. Lokasinya di kawasan Jakarta Selatan. Ia bercerita bahwa dirinya sudah ikut Mudik Gratis dari Pemprov Jateng sejak tahun 2016 dan bisa menghemat ongkos mudik ke Karanganyar.

Tak lama, Lulik menyodorkan sebungkus bakso yang khusus ia buatkan untuk Sang Gubernur. Sebungkus bakso itu sebagai ungkapan terima kasih, karena Pemprov Jateng telah mengadakan program Mudik Gratis tiap tahunnya.

"Pak, ngapunten. Niki kula damelke khusus kagem Pak Gubernur. (Pak, maaf. Ini saya buatkan khusus untuk Pak Gubernur)," ucap Lulik sembari menyunggingkan senyum. 

Gubernur pun menerima sebungkus bakso itu diselingi tawa hangat. Ia juga membalas dengan memberikan paket berisi makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

"Top, dikasih bakso. Besok baliknya ikut program Balik Rantau Gratis juga? Bisa ngirit dong. Penting senang dan sehat ya," ucap Gubernur menanggapi.

Saat ditemui di lokasi, Lulik bercerita sudah merantau ke Jakarta sejak lulus sekolah. Awalnya, ia ikut orang tuanya yang juga merantau ke Jakarta. Sebelumnya, ia sempat bekerja serabutan dan membantu orang tuanya jualan bakso. Kemudian, Lulik menikah dan memutuskan untuk berjualan bakso keliling sendiri, sementara istrinya jualan jamu keliling.

"Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua di sini, terus sempat kerja, terus mulai jualan bakso sendiri setelah menikah pada tahun 2012," ucapnya.

Penghasilan kotor Lulik dari jualan bakso keliling rata-rata Rp5 juta per bulan. Jumlah itu masih dipotong modal, biaya kontrak rumah, makan sehari-hari, serta biaya listrik dan air. 

"Kontrakan per bulan Rp800 ribu, kalau ditambah biaya makan, listrik, dan air ya total sebulan bisa sampai Rp1 juta," ungkap pria yang menyewa rumah ukuran kecil bersama istri dan anak-anaknya itu.

Dari pendapatan yang pas-pasan tersebut, ia masih harus menabung untuk biaya sekolah anak. Kalau masuk musim Lebaran, pengeluaran bisa lebih tinggi karena harus mudik ke kampung halaman. Beban tertinggi tentu saja ongkos tiket bus ke Karanganyar, yang saat Lebaran bisa tembus Rp600 ribu per orang.

"Mudik Gratis ini sangat membantu buat saya sekeluarga. Sudah ikut program ini dari 2016, kalau nggak salah. Dari dulu daftarnya masih antre di Kantor Badan Penghubung Jawa Tengah, sampai sekarang bisa daftar lewat aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN)," ujarnya.

Kisah di perantauan juga disampaikan oleh Bejo Fauzan, pedagang bakso di daerah Tanah Kusir, Jakarta. Bejo mengaku sudah merantau dan berjualan bakso Solo sejak tahun 1994. Ia mulai berjualan keliling menggunakan pikulan, kemudian menggunakan sepeda ontel, berlanjut pakai gerobak keliling, lalu membuka warung kaki lima, dan akhirnya dapat menyewa sebuah bangunan di wilayah Tanah Kusir.

"Di sini baru empat tahun, dulu warung tempel di depan situ, dulunya bangunan ini untuk warteg. Begitu sudah tidak digunakan warteg, saya masuk (kontrak). Sewanya sebulan Rp3,5 juta. Pendapatan bisa Rp6-7 juta per bulan," ujar warga asal Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar itu saat ditemui di warungnya sehari sebelum berangkat mudik.

Meskipun sudah puluhan tahun merantau, baru tahun ini Bejo dan keluarganya ikut program Mudik Gratis yang diselenggarakan oleh Pemprov Jateng. Tahun-tahun sebelumnya, ia tidak tahu kalau ada program tersebut. Setiap mudik, ia harus merogoh kantong yang cukup dalam hanya untuk membeli tiket seharga Rp600 ribu per orang.

"Baru tahu tahun ini dari Mas Lulik, lalu saya minta tolong untuk didaftarkan sekeluarga. Bersyukur sekali ada program Mudik Gratis ini, lumayan uangnya bisa beli susu anak dan buat bekal Lebaran di kampung," tuturnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu