Follow Us :              

Jawa Tengah Perkuat Regenerasi Petani dan Inovasi Pertanian Demi Jaga Ketahanan Pangan

  24 April 2026  |   13:00:00  |   dibaca : 135 
Kategori :
Bagikan :


Jawa Tengah Perkuat Regenerasi Petani dan Inovasi Pertanian Demi Jaga Ketahanan Pangan

24 April 2026 | 13:00:00 | dibaca : 135
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Mizan (Humas Jateng)

TEMANGGUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya melakukan regenerasi petani serta mendorong berbagai inovasi di sektor pertanian, untuk menjaga ketahanan pangan di wilayahnya. 

Sebab, regenerasi petani merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan swasembada serta menjaga ketahanan pangan dengan lebih kuat.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, dalam Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial Jawa Tengah di Agro Center Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung pada Jumat, 24 April 2026.

Pada kesempatan itu, Sekda mengapresiasi konsistensi petani milenial dan para alumni pelatihan pertanian yang terus memberikan kontribusi, sekaligus mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bentuk kontribusi nyata di lapangan. Yang lebih penting, bagaimana teman-teman ini mampu mendorong anak-anak muda untuk mau bertani,” ujarnya.

Ia menyebut, saat ini Jateng memiliki sekitar 630 ribu petani milenial. Keberadaan mereka menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan regenerasi petani, mengingat mayoritas petani di era ini berada pada rentang usia 40–60 tahun.

“Regenerasi ini menjadi kunci. Dengan sumber daya manusia (SDM) baru yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis pertanian akan semakin efisien dan produktif,” ucap Sekda.

Dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian, Pemprov Jateng juga memperkuat kebijakan perlindungan lahan pertanian melalui Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan lahan pertanian tetap terjaga dan tidak mudah beralih fungsi. Nantinya, lahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan pertanian akan dilindungi dengan lebih ketat.

“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi. Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga,” ucap Sekda.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air dan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Pemprov Jateng mendorong peningkatan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya daerah tangkapan air yang berperan penting dalam sistem pertanian.

Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, menyampaikan bahwa apel siaga ini diikuti oleh 300 penyuluh pertanian dari 17 kabupaten/kota, serta 300 Duta Petani Milenial.

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antara petani milenial dan penyuluh pertanian dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

“Kami berharap, kolaborasi ini semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata, bukan hanya di Jawa Tengah, tetapi juga secara nasional,” ujarnya.

Rayndra menambahkan, pengembangan petani milenial terus menunjukkan tren positif. Sejak 2019, jaringan petani muda di Jateng telah berkembang hingga anggotanya hampir mencapai 35 ribu orang.

Upaya perubahan stigma juga terus dilakukan, agar sektor pertanian semakin diminati generasi muda sebagai profesi yang produktif dan menjanjikan.

"Stigma anak muda terhadap pertanian memang identik dengan kotor, kucel, kumuh, tidak keren. Lah itulah upaya kami dari Duta Petani Milenial untuk mengubah stigma itu," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa program swasembada pangan tahun 2026 sejalan dengan visi Jateng sebagai lumbung pangan nasional.

Target luas tanam padi pada tahun 2026 ditetapkan sebesar 2,38 juta hektare, dengan realisasi hingga saat ini mencapai 683.782 hektare.

"Setiap hari, penambahan tanam mencapai rata-rata 7.000 hingga 8.000 hektare" ujarnya.

Adapun produksi padi hingga Mei 2026 diproyeksikan mencapai 4,69 juta ton gabah kering giling (GKG), dari target total sebanyak 10,55 juta ton.

Selain padi, berbagai komoditas lain juga terus didorong. Tercatat, produksi cabai sebanyak 80.892 ton, bawang merah 144.705 ton, serta daging sapi 245.747 ton. 

"Jawa Tengah juga menjadi kontributor utama produksi bawang putih nasional, dengan capaian 63,9 persen," ucap Ka Distannak Jateng.

Guna mendukung percepatan produksi pangan, Pemprov Jateng menerapkan berbagai macam strategi, antara lain meningkatkan indeks pertanaman, mengendalikan organisme pengganggu tanaman, serta beradaptasi dengan perubahan iklim.

Tak hanya itu, berbagai inovasi juga terus dikembangkan, salah satunya sistem percepatan tanam berkelanjutan atau pola “sepur”, yang mengintegrasikan proses panen hingga penanaman secara cepat untuk mengoptimalkan lahan.

"Ini adalah optimalisasi lahan untuk intensifikasi dan percepatan luas tambah tanam di Jawa Tengah," ucap Ka Distannak Jateng.


Bagikan :

TEMANGGUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya melakukan regenerasi petani serta mendorong berbagai inovasi di sektor pertanian, untuk menjaga ketahanan pangan di wilayahnya. 

Sebab, regenerasi petani merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan swasembada serta menjaga ketahanan pangan dengan lebih kuat.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, dalam Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial Jawa Tengah di Agro Center Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung pada Jumat, 24 April 2026.

Pada kesempatan itu, Sekda mengapresiasi konsistensi petani milenial dan para alumni pelatihan pertanian yang terus memberikan kontribusi, sekaligus mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bentuk kontribusi nyata di lapangan. Yang lebih penting, bagaimana teman-teman ini mampu mendorong anak-anak muda untuk mau bertani,” ujarnya.

Ia menyebut, saat ini Jateng memiliki sekitar 630 ribu petani milenial. Keberadaan mereka menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan regenerasi petani, mengingat mayoritas petani di era ini berada pada rentang usia 40–60 tahun.

“Regenerasi ini menjadi kunci. Dengan sumber daya manusia (SDM) baru yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis pertanian akan semakin efisien dan produktif,” ucap Sekda.

Dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian, Pemprov Jateng juga memperkuat kebijakan perlindungan lahan pertanian melalui Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan lahan pertanian tetap terjaga dan tidak mudah beralih fungsi. Nantinya, lahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan pertanian akan dilindungi dengan lebih ketat.

“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi. Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga,” ucap Sekda.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air dan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Pemprov Jateng mendorong peningkatan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya daerah tangkapan air yang berperan penting dalam sistem pertanian.

Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, menyampaikan bahwa apel siaga ini diikuti oleh 300 penyuluh pertanian dari 17 kabupaten/kota, serta 300 Duta Petani Milenial.

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antara petani milenial dan penyuluh pertanian dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

“Kami berharap, kolaborasi ini semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata, bukan hanya di Jawa Tengah, tetapi juga secara nasional,” ujarnya.

Rayndra menambahkan, pengembangan petani milenial terus menunjukkan tren positif. Sejak 2019, jaringan petani muda di Jateng telah berkembang hingga anggotanya hampir mencapai 35 ribu orang.

Upaya perubahan stigma juga terus dilakukan, agar sektor pertanian semakin diminati generasi muda sebagai profesi yang produktif dan menjanjikan.

"Stigma anak muda terhadap pertanian memang identik dengan kotor, kucel, kumuh, tidak keren. Lah itulah upaya kami dari Duta Petani Milenial untuk mengubah stigma itu," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa program swasembada pangan tahun 2026 sejalan dengan visi Jateng sebagai lumbung pangan nasional.

Target luas tanam padi pada tahun 2026 ditetapkan sebesar 2,38 juta hektare, dengan realisasi hingga saat ini mencapai 683.782 hektare.

"Setiap hari, penambahan tanam mencapai rata-rata 7.000 hingga 8.000 hektare" ujarnya.

Adapun produksi padi hingga Mei 2026 diproyeksikan mencapai 4,69 juta ton gabah kering giling (GKG), dari target total sebanyak 10,55 juta ton.

Selain padi, berbagai komoditas lain juga terus didorong. Tercatat, produksi cabai sebanyak 80.892 ton, bawang merah 144.705 ton, serta daging sapi 245.747 ton. 

"Jawa Tengah juga menjadi kontributor utama produksi bawang putih nasional, dengan capaian 63,9 persen," ucap Ka Distannak Jateng.

Guna mendukung percepatan produksi pangan, Pemprov Jateng menerapkan berbagai macam strategi, antara lain meningkatkan indeks pertanaman, mengendalikan organisme pengganggu tanaman, serta beradaptasi dengan perubahan iklim.

Tak hanya itu, berbagai inovasi juga terus dikembangkan, salah satunya sistem percepatan tanam berkelanjutan atau pola “sepur”, yang mengintegrasikan proses panen hingga penanaman secara cepat untuk mengoptimalkan lahan.

"Ini adalah optimalisasi lahan untuk intensifikasi dan percepatan luas tambah tanam di Jawa Tengah," ucap Ka Distannak Jateng.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu