Foto : Ebron (Humas Jateng)
Foto : Ebron (Humas Jateng)
SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memberikan pesan mendalam mengenai konsep kepemimpinan dalam acara Pengajian dan Halalbihalal Majelis Ta'lim Nurul Qolbi di Wisma Perdamaian, Kota Semarang pada Jumat, 1 Mei 2026.
Ia menyampaikan, jabatan publik bukan alasan bagi seseorang untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Wagub merujuk pada teladan Rasulullah SAW saat menunaikan ibadah haji, yang justru membaur dengan rakyat hingga tidak bisa dibedakan antara pemimpin dan masyarakat biasa.
"Pemimpin itu terlihat akhlaknya, ketika ia tidak menonjolkan kepemimpinannya dan tidak ingin dilayani," katanya.
Ia bercerita, sering kali berpesan kepada tim protokolnya agar tidak bersikap berlebihan saat mendampingi di lapangan. Wagub tidak ingin keberadaan mereka justru menciptakan jarak dengan masyarakat.
"Saya sering sampaikan kepada kawan-kawan protokol, tugas kalian mengawal boleh, tetapi jangan berlebihan. Apalagi sampai mengusir atau menyingkirkan orang (saat jalan). Saya tidak suka," tegasnya.
Meskipun disediakan ajudan, Wagub berusaha mengerjakan hal-hal kecil secara mandiri saat di rumah, seperti mencuci piring atau pakaian sendiri.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan kepada para pejabat di lingkungan kerjanya agar tulus melayani masyarakat, sehingga mereka merasa nyaman dengan pemerintah.
"Tugas kita sebagai pemerintah bukan hanya soal administrasi, tetapi memastikan masyarakat tenang dan bisa tercukupi kebutuhannya. Masuk ke pasar untuk memastikan harga stabil agar rakyat bisa makan, itu adalah bagian dari takwa kita sebagai pelayan masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, kesuksesan seorang pemimpin tidak diukur dari megahnya protokoler, melainkan dari seberapa dekat dan bermanfaatnya ia bagi orang-orang di sekitarnya.
SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memberikan pesan mendalam mengenai konsep kepemimpinan dalam acara Pengajian dan Halalbihalal Majelis Ta'lim Nurul Qolbi di Wisma Perdamaian, Kota Semarang pada Jumat, 1 Mei 2026.
Ia menyampaikan, jabatan publik bukan alasan bagi seseorang untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Wagub merujuk pada teladan Rasulullah SAW saat menunaikan ibadah haji, yang justru membaur dengan rakyat hingga tidak bisa dibedakan antara pemimpin dan masyarakat biasa.
"Pemimpin itu terlihat akhlaknya, ketika ia tidak menonjolkan kepemimpinannya dan tidak ingin dilayani," katanya.
Ia bercerita, sering kali berpesan kepada tim protokolnya agar tidak bersikap berlebihan saat mendampingi di lapangan. Wagub tidak ingin keberadaan mereka justru menciptakan jarak dengan masyarakat.
"Saya sering sampaikan kepada kawan-kawan protokol, tugas kalian mengawal boleh, tetapi jangan berlebihan. Apalagi sampai mengusir atau menyingkirkan orang (saat jalan). Saya tidak suka," tegasnya.
Meskipun disediakan ajudan, Wagub berusaha mengerjakan hal-hal kecil secara mandiri saat di rumah, seperti mencuci piring atau pakaian sendiri.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan kepada para pejabat di lingkungan kerjanya agar tulus melayani masyarakat, sehingga mereka merasa nyaman dengan pemerintah.
"Tugas kita sebagai pemerintah bukan hanya soal administrasi, tetapi memastikan masyarakat tenang dan bisa tercukupi kebutuhannya. Masuk ke pasar untuk memastikan harga stabil agar rakyat bisa makan, itu adalah bagian dari takwa kita sebagai pelayan masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, kesuksesan seorang pemimpin tidak diukur dari megahnya protokoler, melainkan dari seberapa dekat dan bermanfaatnya ia bagi orang-orang di sekitarnya.
Berita Terbaru