Follow Us :              

Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri

  22 October 2026  |   07:00:00  |   dibaca : 52 
Kategori :
Bagikan :

Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri

22 October 2026 | 07:00:00 | dibaca : 52
Kategori :
Bagikan :

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri
Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri
Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri
Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri
Program Santri Obah Pemprov Jateng, Wujudkan Mimpi Santri Kuliah di Luar Negeri

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

SEMARANG – Berawal dari keinginan sederhana untuk belajar bahasa Mandarin saat duduk di bangku kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs), Akhmad Khafidz Al Mubarok kini berhasil mewujudkan mimpinya menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. 

Santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah itu kini tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, Cina.

Perjalanan Khafidz hingga menginjakkan kaki di Negeri Tirai Bambu tidak lepas dari ketekunan belajar, dukungan keluarga dan lingkungan pesantren, serta kesempatan yang diperolehnya melalui program Beasiswa Santri dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).

Bagi Khafidz, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan. Lebih dari itu, program tersebut menjadi penopang penting bagi keluarganya agar ia dapat melanjutkan studi di luar negeri tanpa harus menambah beban finansial orang tua.

“Terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang telah menyelenggarakan program Beasiswa Santri,” ucapnya saat dihubungi dari Kota Semarang pada Rabu, 22 Oktober 2026. 

Kisah Khafidz menjadi gambaran bahwa santri memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri, tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam bidang sains dan teknologi. Melalui dukungan pendidikan yang tepat, cita-cita melanjutkan studi hingga ke tingkat internasional bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Keinginannya untuk berkuliah ke luar negeri bermula dari percakapan telepon dengan ayahnya, ketika ia masih duduk di kelas IX MTs. Di tengah percakapan tersebut, sang ayah menyarankannya untuk mulai belajar bahasa Mandarin. Menurut ayahnya, kemampuan berbahasa Mandarin dapat membuka peluang lebih luas bagi pengembangan karier dan masa depannya.

Pesan sederhana itu kemudian menjadi titik awal perjalanan panjang Khafidz. Ia mulai belajar menulis, membaca, memahami nada pengucapan, hingga menghafalkan kosakata bahasa Mandarin secara mandiri. Perjuangannya tidak mudah. Di lingkungan pesantren, bahasa yang diwajibkan adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris. 

Khafidz harus mempelajari bahasa Mandarin tanpa guru pendamping dan dengan keterbatasan akses penggunaan gawai. Beruntung, ia memiliki teman yang juga tertarik mempelajari bahasa Mandarin. Keduanya kemudian belajar bersama, saling membantu memahami materi dan menjaga semangat agar terus berkembang.
 
Saat duduk di kelas XII, Khafidz mendapat tawaran dari LP Ma’arif NU Jawa Tengah untuk mengikuti program persiapan kuliah ke Cina. Bersama sejumlah pelajar lain dari Jawa Tengah yang memiliki cita-cita serupa, ia mendapatkan kesempatan belajar bahasa Mandarin dengan bimbingan pengajar yang kompeten, termasuk penutur asli.

Program tersebut membantu meningkatkan kemampuan mendengar dan memahami bahasa Mandarin. Khafidz bersama beberapa peserta lainnya juga berhasil lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin yang menjadi salah satu modal penting untuk melanjutkan pendidikan di Cina.

Di tengah persiapannya menuju Cina, Khafidz mendapatkan informasi mengenai Beasiswa Santri Jawa Tengah melalui LFSP. Setelah mempelajari persyaratan dan tahapan seleksi, ia merasa bekal pendidikan yang diperolehnya selama berada di pondok dapat membantunya mengikuti proses tersebut. Ia pun memberanikan diri mendaftar. Bahkan, tahapan demi tahapan ujian ia lalui dengan baik.

Kabar kelulusannya sebagai penerima beasiswa santri Jawa Tengah kemudian disampaikan oleh ibunya. Khafidz menyambut kabar itu dengan penuh rasa syukur. 

“Beasiswa Santri Jawa Tengah memudahkan saya dan teman-teman penerima lainnya, dalam mengurangi beban finansial yang harus ditanggung oleh diri sendiri dan orang tua,” tuturnya.

Ia menambahkan, dukungan keluarga, para ustaz, dan teman-teman pesantren juga menjadi sumber motivasi yang membuatnya terus berjuang ketika menghadapi kesulitan.

Kini, Khafidz menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Dalian University of Technology. Baginya, kehidupan di luar negeri menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan saat tinggal di pesantren. Jika dahulu ia terbiasa bangun tidur bersama teman-teman dan menjalani aktivitas ibadah secara berjamaah, kini ia harus membiasakan diri menjalani rutinitas secara mandiri.
 
Pengalaman tersebut sekaligus memperluas wawasannya. Ia berkesempatan menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara, mempelajari pola kehidupan dan cara berpikir yang berbeda, serta mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan di lingkungan kampus, termasuk klub yang berkaitan dengan robotika.

Bagi Khafidz, pengalaman belajar di luar negeri bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, melainkan juga membangun kemandirian, memperluas jaringan, serta belajar menghargai perbedaan.

Ia berharap, ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Cina kelak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat serupa juga ditunjukkan Happy Aisyi Madina, penerima beasiswa santri Jawa Tengah yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Bagi Aisyi, kesempatan memperoleh beasiswa tersebut merupakan amanah besar sekaligus peluang berharga untuk melanjutkan pendidikan serta membantu meringankan beban finansial keluarganya.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas kesempatan yang telah diberikan kepadanya.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Jawa Tengah atas kesempatan yang sangat berharga dan amanah besar yang telah diberikan kepada saya,” ungkap Aisyi.

Tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan, ia juga memiliki tekad untuk kembali mengabdikan diri di Jateng, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar. Baginya, beasiswa tersebut dapat menjadi jalan untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.

Pada momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, Aisyi berpesan agar para santri di seluruh Indonesia tidak takut bermimpi besar dan berani mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

Ia meyakini, selama cita-cita yang diperjuangkan berada di jalan yang diridai Allah SWT, setiap usaha harus dijalani dengan keyakinan dan kesungguhan.

Secara terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengapresiasi peran santri yang ada di wilayahnya. Provinsi ini setidaknya memiliki 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. 

Ia menyampaikan, hal itu merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang dapat berkontribusi di berbagai bidang.

Sebagai bentuk apresiasi tersebut, Pemprov Jateng menginisiasi program Pesantren Obah. Melalui program itu, Pemprov juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.

Pada tahun 2026, disiapkan anggaran Rp6,8 miliar untuk memfasilitasi beasiswa di dalam negeri dan luar negeri. Peminat program ini mencapai 942 pendaftar. Adapun dari program tersebut, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Beberapa hari lalu, sebanyak 424 santri yang kuliah di Ma'had Aly juga menerima beasiswa. Beasiswa juga diberikan kepada 58 santri penggerak, yaitu santri yang aktif di organisasi intra dan ekstra kampus serta masih tinggal di pesantren.

Melalui berbagai program ada di Jateng, Gubernur berharap, santri tidak hanya memiliki kemampuan di bidang agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan lain, serta memiliki kepedulian sosial untuk menjawab tantangan zaman.


Bagikan :

SEMARANG – Berawal dari keinginan sederhana untuk belajar bahasa Mandarin saat duduk di bangku kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs), Akhmad Khafidz Al Mubarok kini berhasil mewujudkan mimpinya menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. 

Santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah itu kini tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, Cina.

Perjalanan Khafidz hingga menginjakkan kaki di Negeri Tirai Bambu tidak lepas dari ketekunan belajar, dukungan keluarga dan lingkungan pesantren, serta kesempatan yang diperolehnya melalui program Beasiswa Santri dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).

Bagi Khafidz, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan. Lebih dari itu, program tersebut menjadi penopang penting bagi keluarganya agar ia dapat melanjutkan studi di luar negeri tanpa harus menambah beban finansial orang tua.

“Terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang telah menyelenggarakan program Beasiswa Santri,” ucapnya saat dihubungi dari Kota Semarang pada Rabu, 22 Oktober 2026. 

Kisah Khafidz menjadi gambaran bahwa santri memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri, tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam bidang sains dan teknologi. Melalui dukungan pendidikan yang tepat, cita-cita melanjutkan studi hingga ke tingkat internasional bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Keinginannya untuk berkuliah ke luar negeri bermula dari percakapan telepon dengan ayahnya, ketika ia masih duduk di kelas IX MTs. Di tengah percakapan tersebut, sang ayah menyarankannya untuk mulai belajar bahasa Mandarin. Menurut ayahnya, kemampuan berbahasa Mandarin dapat membuka peluang lebih luas bagi pengembangan karier dan masa depannya.

Pesan sederhana itu kemudian menjadi titik awal perjalanan panjang Khafidz. Ia mulai belajar menulis, membaca, memahami nada pengucapan, hingga menghafalkan kosakata bahasa Mandarin secara mandiri. Perjuangannya tidak mudah. Di lingkungan pesantren, bahasa yang diwajibkan adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris. 

Khafidz harus mempelajari bahasa Mandarin tanpa guru pendamping dan dengan keterbatasan akses penggunaan gawai. Beruntung, ia memiliki teman yang juga tertarik mempelajari bahasa Mandarin. Keduanya kemudian belajar bersama, saling membantu memahami materi dan menjaga semangat agar terus berkembang.
 
Saat duduk di kelas XII, Khafidz mendapat tawaran dari LP Ma’arif NU Jawa Tengah untuk mengikuti program persiapan kuliah ke Cina. Bersama sejumlah pelajar lain dari Jawa Tengah yang memiliki cita-cita serupa, ia mendapatkan kesempatan belajar bahasa Mandarin dengan bimbingan pengajar yang kompeten, termasuk penutur asli.

Program tersebut membantu meningkatkan kemampuan mendengar dan memahami bahasa Mandarin. Khafidz bersama beberapa peserta lainnya juga berhasil lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin yang menjadi salah satu modal penting untuk melanjutkan pendidikan di Cina.

Di tengah persiapannya menuju Cina, Khafidz mendapatkan informasi mengenai Beasiswa Santri Jawa Tengah melalui LFSP. Setelah mempelajari persyaratan dan tahapan seleksi, ia merasa bekal pendidikan yang diperolehnya selama berada di pondok dapat membantunya mengikuti proses tersebut. Ia pun memberanikan diri mendaftar. Bahkan, tahapan demi tahapan ujian ia lalui dengan baik.

Kabar kelulusannya sebagai penerima beasiswa santri Jawa Tengah kemudian disampaikan oleh ibunya. Khafidz menyambut kabar itu dengan penuh rasa syukur. 

“Beasiswa Santri Jawa Tengah memudahkan saya dan teman-teman penerima lainnya, dalam mengurangi beban finansial yang harus ditanggung oleh diri sendiri dan orang tua,” tuturnya.

Ia menambahkan, dukungan keluarga, para ustaz, dan teman-teman pesantren juga menjadi sumber motivasi yang membuatnya terus berjuang ketika menghadapi kesulitan.

Kini, Khafidz menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Dalian University of Technology. Baginya, kehidupan di luar negeri menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan saat tinggal di pesantren. Jika dahulu ia terbiasa bangun tidur bersama teman-teman dan menjalani aktivitas ibadah secara berjamaah, kini ia harus membiasakan diri menjalani rutinitas secara mandiri.
 
Pengalaman tersebut sekaligus memperluas wawasannya. Ia berkesempatan menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara, mempelajari pola kehidupan dan cara berpikir yang berbeda, serta mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan di lingkungan kampus, termasuk klub yang berkaitan dengan robotika.

Bagi Khafidz, pengalaman belajar di luar negeri bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, melainkan juga membangun kemandirian, memperluas jaringan, serta belajar menghargai perbedaan.

Ia berharap, ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Cina kelak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat serupa juga ditunjukkan Happy Aisyi Madina, penerima beasiswa santri Jawa Tengah yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Bagi Aisyi, kesempatan memperoleh beasiswa tersebut merupakan amanah besar sekaligus peluang berharga untuk melanjutkan pendidikan serta membantu meringankan beban finansial keluarganya.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas kesempatan yang telah diberikan kepadanya.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Jawa Tengah atas kesempatan yang sangat berharga dan amanah besar yang telah diberikan kepada saya,” ungkap Aisyi.

Tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan, ia juga memiliki tekad untuk kembali mengabdikan diri di Jateng, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar. Baginya, beasiswa tersebut dapat menjadi jalan untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.

Pada momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, Aisyi berpesan agar para santri di seluruh Indonesia tidak takut bermimpi besar dan berani mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

Ia meyakini, selama cita-cita yang diperjuangkan berada di jalan yang diridai Allah SWT, setiap usaha harus dijalani dengan keyakinan dan kesungguhan.

Secara terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengapresiasi peran santri yang ada di wilayahnya. Provinsi ini setidaknya memiliki 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. 

Ia menyampaikan, hal itu merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang dapat berkontribusi di berbagai bidang.

Sebagai bentuk apresiasi tersebut, Pemprov Jateng menginisiasi program Pesantren Obah. Melalui program itu, Pemprov juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.

Pada tahun 2026, disiapkan anggaran Rp6,8 miliar untuk memfasilitasi beasiswa di dalam negeri dan luar negeri. Peminat program ini mencapai 942 pendaftar. Adapun dari program tersebut, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Beberapa hari lalu, sebanyak 424 santri yang kuliah di Ma'had Aly juga menerima beasiswa. Beasiswa juga diberikan kepada 58 santri penggerak, yaitu santri yang aktif di organisasi intra dan ekstra kampus serta masih tinggal di pesantren.

Melalui berbagai program ada di Jateng, Gubernur berharap, santri tidak hanya memiliki kemampuan di bidang agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan lain, serta memiliki kepedulian sosial untuk menjawab tantangan zaman.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu