Follow Us :              

Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah

  21 October 2026  |   07:00:00  |   dibaca : 92 
Kategori :
Bagikan :

Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah

21 October 2026 | 07:00:00 | dibaca : 92
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah
Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah
Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah
Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah
Jaga Keterjangkauan Harga dan Bahan Pokok, Jateng Telah Gelar 1.724 Gerakan Pangan Murah

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama 35 Kabupaten/Kota telah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 1.724 kali sepanjang tahun 2026, dengan omzet mencapai Rp31 miliar.

Hal itu terungkap saat Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., membuka GPM Serentak Tingkat Provinsi Jateng dalam rangka Hari Pangan Sedunia Tahun 2026 di Lapangan Tlogo Resort, Kabupaten Semarang pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurutnya, ketersediaan pangan yang melimpah harus diimbangi dengan keterjangkauan harga. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan intervensi agar masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha petani dan peternak.

“Ketersediaan stok saja tidak cukup, tanpa adanya keterjangkauan dari masyarakat,” ujarnya.

Gubernur mengatakan, pelaksanaan GPM memperhatikan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Maka dari itu, pemerintah daerah perlu melakukan survei terlebih dahulu untuk menentukan lokasi dan komoditas yang paling dibutuhkan oleh warga, sehingga intervensi harga tidak salah sasaran.

Dengan pendekatan tersebut, komoditas yang dijual dalam GPM dapat disesuaikan dengan kondisi pasokan dan kebutuhan masing-masing daerah. Wilayah yang kekurangan komoditas tertentu menjadi prioritas intervensi. 

Gubernur mengatakan, strategi tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, serta dinas terkait.

Selain menjaga keterjangkauan harga, GPM juga diharapkan mampu membantu mengendalikan inflasi di Jawa Tengah.

"Ketersediaan bahan pokok penting bagi masyarakat, begitu juga dengan keterjangkauan harga, sehingga Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang inflasinya bisa terkendali," ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, Widi Hartanto, melaporkan, sebanyak 1.724 kali GPM telah digelar di 35 Kabupaten/Kota sepanjang tahun 2026, dengan total omzet Rp31.032.488.764. Kegiatan ini melibatkan Bulog, BUMN, BUMD, koperasi, kelompok tani, BUMDes, dan mitra swasta.

Khusus GPM di Kabupaten Semarang, disediakan 7,5 ton beras dengan harga mulai dari Rp57.000/5 kg dan 2.000 liter minyak goreng seharga Rp15.500/liter. Tersedia pula telur, daging ayam, cabai, bawang merah, bawang putih, serta aneka buah dan sayuran.

Pemprov Jateng juga menyalurkan subsidi jagung sebanyak 12 ton dengan harga tebus Rp5.500/kg bagi peternak kecil yang memiliki kurang dari 5.000 ekor ternak. Selain itu, tersedia 5 ton beras bersubsidi seharga Rp12.000/kg dan 300 kg beras organik seharga Rp15.000/kg.

Dalam kegiatan itu, disalurkan pula Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) kepada 505 penerima manfaat, yakni 205 warga Desa Delik dan 300 warga Desa Tuntang.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, menyampaikan, inflasi Jateng berada di angka 3,18% atau lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 3,28%.

Meskipun relatif terkendali, stabilitas harga pangan masih menghadapi tantangan el nino, serangan hama tikus, biaya distribusi, serta peningkatan permintaan pada waktu tertentu.

“Gerakan Pangan Murah seperti yang kita laksanakan hari ini, apalagi serentak, harapannya bisa mengendalikan inflasi secara keseluruhan di Jawa Tengah,” katanya.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jateng juga mendorong penguatan produksi dan distribusi pangan, melalui perbaikan irigasi, pemasangan pompa air, pengendalian hama, kerja sama antardaerah, serta penguatan peran PT Jateng Agro Berdikari (JTAB).

Salah seorang warga, Purwati, mengaku harga sejumlah kebutuhan pokok di GPM lebih terjangkau. Ia mencontohkan bawang merah yang dijual Rp24.000/kg, sedangkan di warung mencapai Rp28.000/kg.

Begitu pula, gula pasir yang dijual Rp16.000/kg, lebih murah dibandingkan harga yang biasa ditemuinya sebesar Rp18.000/kg. Sementara minyak goreng dijual dengan harga Rp31.000/2 liter dan telur ayam Rp20.000/kg.

Warga lainnya, Maryam, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan tersebut. Ia berharap, pasar murah bisa lebih sering digelar agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

"Ya, alhamdulillah sangat terbantu. Mudah-mudahan sering ada ya di sini. Terima kasih Bapak Presiden, terima kasih Bapak Gubernur. Sering-sering mengadakan pasar seperti ini, sangat-sangat membantu," ungkapnya.

Sebab, barang pokok yang dijual dalam kegiatan tersebut dijual dengan harga lebih murah. Harga daging ayam di GPM Rp35.000/kg, sedangkan di pasar bisa mencapai Rp40.000/kg. Harga telur juga lebih murah, yakni Rp20.000/kg, dibandingkan harga pasar yang disebut mencapai Rp25.000-Rp26.000/kg.


Bagikan :

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama 35 Kabupaten/Kota telah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 1.724 kali sepanjang tahun 2026, dengan omzet mencapai Rp31 miliar.

Hal itu terungkap saat Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., membuka GPM Serentak Tingkat Provinsi Jateng dalam rangka Hari Pangan Sedunia Tahun 2026 di Lapangan Tlogo Resort, Kabupaten Semarang pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurutnya, ketersediaan pangan yang melimpah harus diimbangi dengan keterjangkauan harga. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan intervensi agar masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha petani dan peternak.

“Ketersediaan stok saja tidak cukup, tanpa adanya keterjangkauan dari masyarakat,” ujarnya.

Gubernur mengatakan, pelaksanaan GPM memperhatikan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Maka dari itu, pemerintah daerah perlu melakukan survei terlebih dahulu untuk menentukan lokasi dan komoditas yang paling dibutuhkan oleh warga, sehingga intervensi harga tidak salah sasaran.

Dengan pendekatan tersebut, komoditas yang dijual dalam GPM dapat disesuaikan dengan kondisi pasokan dan kebutuhan masing-masing daerah. Wilayah yang kekurangan komoditas tertentu menjadi prioritas intervensi. 

Gubernur mengatakan, strategi tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, serta dinas terkait.

Selain menjaga keterjangkauan harga, GPM juga diharapkan mampu membantu mengendalikan inflasi di Jawa Tengah.

"Ketersediaan bahan pokok penting bagi masyarakat, begitu juga dengan keterjangkauan harga, sehingga Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang inflasinya bisa terkendali," ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, Widi Hartanto, melaporkan, sebanyak 1.724 kali GPM telah digelar di 35 Kabupaten/Kota sepanjang tahun 2026, dengan total omzet Rp31.032.488.764. Kegiatan ini melibatkan Bulog, BUMN, BUMD, koperasi, kelompok tani, BUMDes, dan mitra swasta.

Khusus GPM di Kabupaten Semarang, disediakan 7,5 ton beras dengan harga mulai dari Rp57.000/5 kg dan 2.000 liter minyak goreng seharga Rp15.500/liter. Tersedia pula telur, daging ayam, cabai, bawang merah, bawang putih, serta aneka buah dan sayuran.

Pemprov Jateng juga menyalurkan subsidi jagung sebanyak 12 ton dengan harga tebus Rp5.500/kg bagi peternak kecil yang memiliki kurang dari 5.000 ekor ternak. Selain itu, tersedia 5 ton beras bersubsidi seharga Rp12.000/kg dan 300 kg beras organik seharga Rp15.000/kg.

Dalam kegiatan itu, disalurkan pula Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) kepada 505 penerima manfaat, yakni 205 warga Desa Delik dan 300 warga Desa Tuntang.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, menyampaikan, inflasi Jateng berada di angka 3,18% atau lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 3,28%.

Meskipun relatif terkendali, stabilitas harga pangan masih menghadapi tantangan el nino, serangan hama tikus, biaya distribusi, serta peningkatan permintaan pada waktu tertentu.

“Gerakan Pangan Murah seperti yang kita laksanakan hari ini, apalagi serentak, harapannya bisa mengendalikan inflasi secara keseluruhan di Jawa Tengah,” katanya.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jateng juga mendorong penguatan produksi dan distribusi pangan, melalui perbaikan irigasi, pemasangan pompa air, pengendalian hama, kerja sama antardaerah, serta penguatan peran PT Jateng Agro Berdikari (JTAB).

Salah seorang warga, Purwati, mengaku harga sejumlah kebutuhan pokok di GPM lebih terjangkau. Ia mencontohkan bawang merah yang dijual Rp24.000/kg, sedangkan di warung mencapai Rp28.000/kg.

Begitu pula, gula pasir yang dijual Rp16.000/kg, lebih murah dibandingkan harga yang biasa ditemuinya sebesar Rp18.000/kg. Sementara minyak goreng dijual dengan harga Rp31.000/2 liter dan telur ayam Rp20.000/kg.

Warga lainnya, Maryam, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan tersebut. Ia berharap, pasar murah bisa lebih sering digelar agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

"Ya, alhamdulillah sangat terbantu. Mudah-mudahan sering ada ya di sini. Terima kasih Bapak Presiden, terima kasih Bapak Gubernur. Sering-sering mengadakan pasar seperti ini, sangat-sangat membantu," ungkapnya.

Sebab, barang pokok yang dijual dalam kegiatan tersebut dijual dengan harga lebih murah. Harga daging ayam di GPM Rp35.000/kg, sedangkan di pasar bisa mencapai Rp40.000/kg. Harga telur juga lebih murah, yakni Rp20.000/kg, dibandingkan harga pasar yang disebut mencapai Rp25.000-Rp26.000/kg.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu