Follow Us :              

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri

  21 October 2026  |   19:00:00  |   dibaca : 69 
Kategori :
Bagikan :

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri

21 October 2026 | 19:00:00 | dibaca : 69
Kategori :
Bagikan :

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemprov Jateng Perkuat Dukungan bagi Pesantren dan Santri

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

TEGAL — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, peringatan Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan, melainkan juga menjadi pengingat bahwa santri berperan penting dalam menyiapkan masa depan bangsa.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Jateng Bersholawat dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pancasila, Kota Tegal pada Rabu, 21 Oktober 2026. 

Dalam acara tersebut, Gubernur hadir didampingi oleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen. Turut hadir Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono; Wakil Wali Kota Tegal, Iin Tazkiyatul Muthmainnah; Forkomida Jateng; serta sejumlah kepala daerah lain se-Jawa Tengah. Selain itu, ada ulama Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), serta Habib Bidin yang memberikan tausiyah dan memimpin selawat bersama.

"Hari Santri ini untuk mengenang dan menghormati resolusi jihad dalam melawan penjajah yang dulu dilaksanakan oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari dan para santri," ucap Gubernur.

Ia mengapresiasi peran santri yang ada di wilayahnya. Provinsi ini setidaknya memiliki 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. Hal itu menurutnya merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Provinsi Jawa telah menginisiasi program Pesantren Obah. Melalui program tersebut, Pemprov Jateng juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.

Pada tahun 2026, disiapkan anggaran sebesar Rp6,8 miliar untuk beasiswa pendidikan di dalam negeri dan luar negeri. Peminat program ini mencapai 942 pendaftar. Adapun dari program tersebut, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Beberapa hari lalu, sebanyak 424 santri yang berkuliah di Ma'had Aly juga menerima beasiswa. Program ini diberikan kepada santri penggerak, yaitu santri yang aktif di organisasi intra dan ekstra kampus serta masih tinggal di pesantren.

Selain beasiswa, Pemprov Jateng juga memberikan insentif guru agama, tali asih bagi santri penghafal Al-Qur'an, serta menyalurkan hibah dan bantuan renovasi pondok pesantren dan masjid.

Pada tahun 2025, insentif guru agama tercatat diberikan kepada 230.830 penerima, masing-masing Rp1,2 juta per tahun, dengan total anggaran kurang lebih Rp277 miliar. Bahkan, program ini masih berlanjut pada tahun 2026.

Dalam kesempatan itu, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Kabupaten Magelang, Muhammad Yusuf Chudlori, menceritakan secara singkat bagaimana peran santri, kiai, dan ulama dalam resolusi jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal itulah yang kemudian mendasari lahirnya Hari Santri Nasional. Maka dari itu, ia berpesan bahwa ada dua tugas para santri dan ulama, yaitu menjaga bangsa dan menjaga umat.

Dalam pesannya, tokoh yang akrab disapa Gus Yusuf itu menyinggung terkait kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kalimantan dan Sumatra, serta kebakaran di Gunung Sumbing. Ia mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk berdoa bersama agar musibah di Indonesia segera berakhir.

"Kita berdoa untuk saudara di Kalimantan dan Sumatra. Kita juga meminta kepada pemerintah dalam rangka menjaga bangsa, orang serakah yang membakar hutan dan lahan agar segera ditangkap dan diadili demi kemajuan Indonesia. Santri punya tugas juga untuk menjaga bangsa dan menjaga umat," katanya.

Terkait upaya menjaga umat, Gus Yusuf menyampaikan bahwa kiai dan ulama memiliki peran dengan ilmu dan pendidikan. Ia juga berterima kasih kepada Pemprov Jateng yang telah memberikan perhatian kepada 5.400 pesantren di wilayahnya, beserta para santri dan guru ngaji.

"Saya minta perhatiannya ditambah, karena pesantren masih butuh perhatian lebih, butuh rekognisi, jangan setengah-setengah kalau mau melindungi santri. Pemerintah harus berterima kasih pada kiai di kampung, guru ngaji di madin dan madrasah, dan guru di sekolah, karena beliau-beliau yang menjaga umat dari kerusakan," jelasnya.


Bagikan :

TEGAL — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, peringatan Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan, melainkan juga menjadi pengingat bahwa santri berperan penting dalam menyiapkan masa depan bangsa.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Jateng Bersholawat dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pancasila, Kota Tegal pada Rabu, 21 Oktober 2026. 

Dalam acara tersebut, Gubernur hadir didampingi oleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen. Turut hadir Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono; Wakil Wali Kota Tegal, Iin Tazkiyatul Muthmainnah; Forkomida Jateng; serta sejumlah kepala daerah lain se-Jawa Tengah. Selain itu, ada ulama Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), serta Habib Bidin yang memberikan tausiyah dan memimpin selawat bersama.

"Hari Santri ini untuk mengenang dan menghormati resolusi jihad dalam melawan penjajah yang dulu dilaksanakan oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari dan para santri," ucap Gubernur.

Ia mengapresiasi peran santri yang ada di wilayahnya. Provinsi ini setidaknya memiliki 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. Hal itu menurutnya merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Provinsi Jawa telah menginisiasi program Pesantren Obah. Melalui program tersebut, Pemprov Jateng juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.

Pada tahun 2026, disiapkan anggaran sebesar Rp6,8 miliar untuk beasiswa pendidikan di dalam negeri dan luar negeri. Peminat program ini mencapai 942 pendaftar. Adapun dari program tersebut, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Beberapa hari lalu, sebanyak 424 santri yang berkuliah di Ma'had Aly juga menerima beasiswa. Program ini diberikan kepada santri penggerak, yaitu santri yang aktif di organisasi intra dan ekstra kampus serta masih tinggal di pesantren.

Selain beasiswa, Pemprov Jateng juga memberikan insentif guru agama, tali asih bagi santri penghafal Al-Qur'an, serta menyalurkan hibah dan bantuan renovasi pondok pesantren dan masjid.

Pada tahun 2025, insentif guru agama tercatat diberikan kepada 230.830 penerima, masing-masing Rp1,2 juta per tahun, dengan total anggaran kurang lebih Rp277 miliar. Bahkan, program ini masih berlanjut pada tahun 2026.

Dalam kesempatan itu, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Kabupaten Magelang, Muhammad Yusuf Chudlori, menceritakan secara singkat bagaimana peran santri, kiai, dan ulama dalam resolusi jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal itulah yang kemudian mendasari lahirnya Hari Santri Nasional. Maka dari itu, ia berpesan bahwa ada dua tugas para santri dan ulama, yaitu menjaga bangsa dan menjaga umat.

Dalam pesannya, tokoh yang akrab disapa Gus Yusuf itu menyinggung terkait kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kalimantan dan Sumatra, serta kebakaran di Gunung Sumbing. Ia mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk berdoa bersama agar musibah di Indonesia segera berakhir.

"Kita berdoa untuk saudara di Kalimantan dan Sumatra. Kita juga meminta kepada pemerintah dalam rangka menjaga bangsa, orang serakah yang membakar hutan dan lahan agar segera ditangkap dan diadili demi kemajuan Indonesia. Santri punya tugas juga untuk menjaga bangsa dan menjaga umat," katanya.

Terkait upaya menjaga umat, Gus Yusuf menyampaikan bahwa kiai dan ulama memiliki peran dengan ilmu dan pendidikan. Ia juga berterima kasih kepada Pemprov Jateng yang telah memberikan perhatian kepada 5.400 pesantren di wilayahnya, beserta para santri dan guru ngaji.

"Saya minta perhatiannya ditambah, karena pesantren masih butuh perhatian lebih, butuh rekognisi, jangan setengah-setengah kalau mau melindungi santri. Pemerintah harus berterima kasih pada kiai di kampung, guru ngaji di madin dan madrasah, dan guru di sekolah, karena beliau-beliau yang menjaga umat dari kerusakan," jelasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu