Follow Us :              

Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing

  25 October 2026  |   09:00:00  |   dibaca : 63 
Kategori :
Bagikan :

Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing

25 October 2026 | 09:00:00 | dibaca : 63
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing
Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing
Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing
Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing
Perjuangan Panjang Akhirnya Membuahkan Hasil, Aksi Sigap Petugas dan Relawan Padamkan Titik Api di Gunung Sumbing

Foto : Fajar (Humas Jateng)

TEMANGGUNG — Perjuangan panjang melawan kebakaran hutan di Gunung Sumbing akhirnya membuahkan hasil setelah seluruh titik api dinyatakan padam 100 persen. Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita, keringat, dan kerja keras para petugas serta relawan yang tak kenal lelah melakukan pemadaman. Mereka berjibaku melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya. 

Salah satunya diceritakan oleh Jumari atau akrab disapa Petruk saat ditemui di Basecamp Pendakian Bimawari pada Minggu, 25 Oktober 2026. Sosok yang juga Wakil Ketua Basecamp Bimawari di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung itu merupakan salah seorang relawan yang ikut memadamkan api saat kebakaran terjadi di Gunung Sumbing.

Jumari menuturkan, begitu mendapat kabar bahwa kawasan Gunung Sumbing di sisi wilayah Wonosobo terbakar, ia bersama rekan-rekannya di Basecamp Pendakian Bimawari langsung bergerak cepat. Apalagi, saat mendapat kabar bahwa api mulai menjalar ke sisi wilayah Temanggung. 

"Mulai kebakaran itu kan jam 4 sore hari Senin (19/10/2026). Di sini dapat kabar dari Wonosobo. Jadi hari Selasa itu, kami melakukan penyisiran pendaki yang di atas atau di Segoro Wedhi. Lalu hari Rabu, kami mengamankan aset dulu, seperti patok (penanda) dan CCTV di sepanjang rute pendakian," ujarnya memulai cerita.

Setelah itu, pada Kamis (22/10/2026), personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Batursari untuk memadamkan titik api di sana. Selanjutnya pada Jumat (23/10/2026), personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Banaran untuk memadamkan api di Jalur Cepit dan Glapansari.

"Lalu pada hari Sabtu, api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi," ucap Jumari.

Jumari menyampaikan, pemadaman api di Gunung Sumbing tidak mudah, karena menghadapi beberapa kendala, di antaranya angin kencang yang membuat titik api mudah menjalar, kemudian medan terjal yang ada di titik kebakaran. Selain itu, juga upaya memadamkan api yang masih menggunakan cara manual.

"Proses pemadaman kita manual, pakai kayu," tuturnya.

Jumari juga menuturkan bahwa kebakaran Gunung Sumbing pada tahun 2026 ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya juga pernah terjadi kebakaran besar yang melanda Gunung Sumbing pada 2019. 

Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, menuturkan, kebakaran di Gunung Sumbing memiliki siklus 8 tahun sekali. Maka dari itu, ia meminta kepada Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan stakeholder terkait untuk menyiapkan infrastruktur di wilayah Gunung Sumbing.

"Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani, karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu, (dibuat juga) jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api," katanya.

Seorang warga Desa Wonosari, Muhadi, juga meminta agar ada bantuan infrastruktur dan beberapa alat yang bisa dikelola oleh masing-masing basecamp di wilayah Gunung Sumbing, seperti drone untuk memantau titik api dan jalur penyelamatan untuk mempercepat pemadaman api.

"Jadi kami minta beberapa alat agar kami dapat memetakan lebih awal, tidak hanya soal kebakaran, tetapi juga hal lain, termasuk pencarian kalau ada pendaki yang hilang atau tersesat," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.,  menyatakan bahwa kebakaran di Gunung Sumbing sudah padam. Akan tetapi, ia meminta seluruh instansi terkait, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan relawan untuk tetap waspada. Menurutnya, pantauan dan evaluasi harus dilakukan dengan tepat agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Ia menilai, evaluasi dampak bencana kebakaran menjadi hal yang sangat penting. Data yang diperoleh harus faktual dan tepat, mulai dari dampak lingkungan berkaitan dengan vegetasi, hewan liar, hingga luasan petak yang terbakar di wilayah Wonosobo, Magelang, dan Temanggung.

Saat ini, tim di kawasan Sumbing diminta melakukan evaluasi, patroli, dan mempercepat rehabilitasi pascakebakaran.

"Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery (pulihkan). Kemudian, lakukan reboisasi pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk (ditanam). Reboisasi kita lakukan bersama," ucap Gubernur usai meninjau dan bertemu dengan relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan menggencarkan imbauan kepada masyarakat agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Beberapa di antaranya imbauan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sembarangan di wilayah gunung, dan lainnya.


Bagikan :

TEMANGGUNG — Perjuangan panjang melawan kebakaran hutan di Gunung Sumbing akhirnya membuahkan hasil setelah seluruh titik api dinyatakan padam 100 persen. Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita, keringat, dan kerja keras para petugas serta relawan yang tak kenal lelah melakukan pemadaman. Mereka berjibaku melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya. 

Salah satunya diceritakan oleh Jumari atau akrab disapa Petruk saat ditemui di Basecamp Pendakian Bimawari pada Minggu, 25 Oktober 2026. Sosok yang juga Wakil Ketua Basecamp Bimawari di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung itu merupakan salah seorang relawan yang ikut memadamkan api saat kebakaran terjadi di Gunung Sumbing.

Jumari menuturkan, begitu mendapat kabar bahwa kawasan Gunung Sumbing di sisi wilayah Wonosobo terbakar, ia bersama rekan-rekannya di Basecamp Pendakian Bimawari langsung bergerak cepat. Apalagi, saat mendapat kabar bahwa api mulai menjalar ke sisi wilayah Temanggung. 

"Mulai kebakaran itu kan jam 4 sore hari Senin (19/10/2026). Di sini dapat kabar dari Wonosobo. Jadi hari Selasa itu, kami melakukan penyisiran pendaki yang di atas atau di Segoro Wedhi. Lalu hari Rabu, kami mengamankan aset dulu, seperti patok (penanda) dan CCTV di sepanjang rute pendakian," ujarnya memulai cerita.

Setelah itu, pada Kamis (22/10/2026), personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Batursari untuk memadamkan titik api di sana. Selanjutnya pada Jumat (23/10/2026), personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Banaran untuk memadamkan api di Jalur Cepit dan Glapansari.

"Lalu pada hari Sabtu, api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi," ucap Jumari.

Jumari menyampaikan, pemadaman api di Gunung Sumbing tidak mudah, karena menghadapi beberapa kendala, di antaranya angin kencang yang membuat titik api mudah menjalar, kemudian medan terjal yang ada di titik kebakaran. Selain itu, juga upaya memadamkan api yang masih menggunakan cara manual.

"Proses pemadaman kita manual, pakai kayu," tuturnya.

Jumari juga menuturkan bahwa kebakaran Gunung Sumbing pada tahun 2026 ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya juga pernah terjadi kebakaran besar yang melanda Gunung Sumbing pada 2019. 

Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, menuturkan, kebakaran di Gunung Sumbing memiliki siklus 8 tahun sekali. Maka dari itu, ia meminta kepada Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan stakeholder terkait untuk menyiapkan infrastruktur di wilayah Gunung Sumbing.

"Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani, karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu, (dibuat juga) jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api," katanya.

Seorang warga Desa Wonosari, Muhadi, juga meminta agar ada bantuan infrastruktur dan beberapa alat yang bisa dikelola oleh masing-masing basecamp di wilayah Gunung Sumbing, seperti drone untuk memantau titik api dan jalur penyelamatan untuk mempercepat pemadaman api.

"Jadi kami minta beberapa alat agar kami dapat memetakan lebih awal, tidak hanya soal kebakaran, tetapi juga hal lain, termasuk pencarian kalau ada pendaki yang hilang atau tersesat," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.,  menyatakan bahwa kebakaran di Gunung Sumbing sudah padam. Akan tetapi, ia meminta seluruh instansi terkait, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan relawan untuk tetap waspada. Menurutnya, pantauan dan evaluasi harus dilakukan dengan tepat agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Ia menilai, evaluasi dampak bencana kebakaran menjadi hal yang sangat penting. Data yang diperoleh harus faktual dan tepat, mulai dari dampak lingkungan berkaitan dengan vegetasi, hewan liar, hingga luasan petak yang terbakar di wilayah Wonosobo, Magelang, dan Temanggung.

Saat ini, tim di kawasan Sumbing diminta melakukan evaluasi, patroli, dan mempercepat rehabilitasi pascakebakaran.

"Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery (pulihkan). Kemudian, lakukan reboisasi pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk (ditanam). Reboisasi kita lakukan bersama," ucap Gubernur usai meninjau dan bertemu dengan relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan menggencarkan imbauan kepada masyarakat agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Beberapa di antaranya imbauan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sembarangan di wilayah gunung, dan lainnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu