Follow Us :              

Peringati Tahun Baru Hijriah, Jateng Gaungkan Jogo Kiai

  19 August 2020  |   19:30:00  |   dibaca : 241 

Bagikan :

Peringati Tahun Baru Hijriah, Jateng Gaungkan Jogo Kiai

19 August 2020 | 19:30:00 | dibaca : 241

Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Peringatan menyongsong Tahun Baru Islam 1442 Hijriah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah digelar sangat sederhana di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rabu (19/8/2020) malam. Selain doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara, juga dilakukan penyerahan santunan kepada keluarga korban meninggal karena COVID-19, anak yatim, dan kaum dhuafa. 

Momentum tersebut digunakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Jawa Tengah. Pesannya adalah agar seluruh masyarakat bersama-sama membangun kesadaran taat pada protokol kesehatan dan membangun kemanusiaan yang lebih tinggi. Terlebih saat ini masalah COVID-19, baik di Jawa Tengah maupun di Indonesia, belum selesai.

“Yuk kita bangun kesadaran bareng-bareng, taat pada protokol kesehatan yuk, dan kita tidak boleh patah semangat. Kita bisa bangkit memasuki tahun baru ini sehingga mental kita selalu tetap membara," katanya usai acara, didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dan Ketua MUI Jateng Ahmad Daroji.

Ganjar menjelaskan hari ini sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Dari pada menghukum lebih baik membangun kesadaran. Ia ingin kesadaran tersebut dibangun berdasarkan komunitas berbasis masyarakat sehingga keberadaan Jogo Tonggo dan perluasannya ke lingkup yang lebih kecil menjadi sangat penting.

Gaungkan Jogo Kiai

Setelah Jogo Santri, Gubernur Ganjar menggaungkan semangat Jogo Kiai untuk membangun kesadaran dan ketaatan pada protokol kesehatan. Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen didapuk untuk memimpin semangat Jogo Kiai dan Jogo Santri.

“Pak Wagub sekarang kita minta untuk memimpin Jogo Santri sama Jogo Kiai. Karena pondok pesantren ini khas,” kata Ganjar 

Diakuinya, ponpes memang harus memperbaiki adaptasi baru. Seperti halnya memperbaiki tempat wudhu, menyediakan fasilitas kesehatan, dan lainnya. Jika pondok pesantren tertata dengan baik maka baik kiai atau santri akan sehat.

Perilaku Jogo Kiai dan Jogo Santri ini merupakan bagian dari program Jogo Tonggo yang dilakukan di Jawa Tengah. Tidak menutup kemungkinan akan diisi dengan variasi Jogo Tonggo lainnya. Seperti halnya Jogo Pasar, Jogo Terminal, dan tempat lain. 

“Maka ini akan menjadi pola model penyesuaian terhadap kondisi di lingkungan terdekat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji menanggapi positif adanya semangat Jogo Kiai yang digaungkan gubernur. Sebab diakuinya jika akibat COVID-19, tidak sedikit pula kiai yang kena dan sampai meninggal dunia. Padahal satu orang kiai membawahi ribuan orang santri. Jika seorang kiai meninggal dunia maka berarti akan ada banyak santri yang kehilangan gurunya. 

“Karena mereka (kiai) itu berkerumun dengan santrinya, kadang dengan para pembantu, Sampai ada yang kena dan seda ini (meninggal dunia). Oleh karena itu sekarang kita jaga kiai-kiai ini bisa melaksanakan tugasnya dengan nyaman, dengan baik, dan aman,” kata Darodji.

Di antaranya dengan memberikan pesan pada santri, agar menjaga kiai dengan baik. Supaya kiai tetap bisa mengajarkan ilmu agama kepada santri. Mereka juga hendaknya menjaga kualitas makanan untuk kiainya supaya kondisi kesehatan tetap fit. 

“Frekuensi pengajiannya mungkin agak dikurangi. Itu termasuk Jogo Tonggo,” jelas Darodji.


Bagikan :

SEMARANG - Peringatan menyongsong Tahun Baru Islam 1442 Hijriah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah digelar sangat sederhana di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rabu (19/8/2020) malam. Selain doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara, juga dilakukan penyerahan santunan kepada keluarga korban meninggal karena COVID-19, anak yatim, dan kaum dhuafa. 

Momentum tersebut digunakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Jawa Tengah. Pesannya adalah agar seluruh masyarakat bersama-sama membangun kesadaran taat pada protokol kesehatan dan membangun kemanusiaan yang lebih tinggi. Terlebih saat ini masalah COVID-19, baik di Jawa Tengah maupun di Indonesia, belum selesai.

“Yuk kita bangun kesadaran bareng-bareng, taat pada protokol kesehatan yuk, dan kita tidak boleh patah semangat. Kita bisa bangkit memasuki tahun baru ini sehingga mental kita selalu tetap membara," katanya usai acara, didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dan Ketua MUI Jateng Ahmad Daroji.

Ganjar menjelaskan hari ini sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Dari pada menghukum lebih baik membangun kesadaran. Ia ingin kesadaran tersebut dibangun berdasarkan komunitas berbasis masyarakat sehingga keberadaan Jogo Tonggo dan perluasannya ke lingkup yang lebih kecil menjadi sangat penting.

Gaungkan Jogo Kiai

Setelah Jogo Santri, Gubernur Ganjar menggaungkan semangat Jogo Kiai untuk membangun kesadaran dan ketaatan pada protokol kesehatan. Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen didapuk untuk memimpin semangat Jogo Kiai dan Jogo Santri.

“Pak Wagub sekarang kita minta untuk memimpin Jogo Santri sama Jogo Kiai. Karena pondok pesantren ini khas,” kata Ganjar 

Diakuinya, ponpes memang harus memperbaiki adaptasi baru. Seperti halnya memperbaiki tempat wudhu, menyediakan fasilitas kesehatan, dan lainnya. Jika pondok pesantren tertata dengan baik maka baik kiai atau santri akan sehat.

Perilaku Jogo Kiai dan Jogo Santri ini merupakan bagian dari program Jogo Tonggo yang dilakukan di Jawa Tengah. Tidak menutup kemungkinan akan diisi dengan variasi Jogo Tonggo lainnya. Seperti halnya Jogo Pasar, Jogo Terminal, dan tempat lain. 

“Maka ini akan menjadi pola model penyesuaian terhadap kondisi di lingkungan terdekat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji menanggapi positif adanya semangat Jogo Kiai yang digaungkan gubernur. Sebab diakuinya jika akibat COVID-19, tidak sedikit pula kiai yang kena dan sampai meninggal dunia. Padahal satu orang kiai membawahi ribuan orang santri. Jika seorang kiai meninggal dunia maka berarti akan ada banyak santri yang kehilangan gurunya. 

“Karena mereka (kiai) itu berkerumun dengan santrinya, kadang dengan para pembantu, Sampai ada yang kena dan seda ini (meninggal dunia). Oleh karena itu sekarang kita jaga kiai-kiai ini bisa melaksanakan tugasnya dengan nyaman, dengan baik, dan aman,” kata Darodji.

Di antaranya dengan memberikan pesan pada santri, agar menjaga kiai dengan baik. Supaya kiai tetap bisa mengajarkan ilmu agama kepada santri. Mereka juga hendaknya menjaga kualitas makanan untuk kiainya supaya kondisi kesehatan tetap fit. 

“Frekuensi pengajiannya mungkin agak dikurangi. Itu termasuk Jogo Tonggo,” jelas Darodji.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu