Follow Us :              

Kebutuhan Ustad Meningkat Saat Pandemi, Taj Yasin Minta Pesantren Fokus Cetak Kader Pengajar

  23 May 2021  |   13:00:00  |   dibaca : 584 
Kategori :
Bagikan :


Kebutuhan Ustad Meningkat Saat Pandemi, Taj Yasin Minta Pesantren Fokus Cetak Kader Pengajar

23 May 2021 | 13:00:00 | dibaca : 584
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

BREBES -Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyerahkan santunan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) kepada puluhan anak yatim, kaum duafa, serta bantuan untuk musala dan TPQ di Desa Karangsembung, Kecamatan Songgom, Brebes, Minggu (23/5/2021).  

Selain Taj Yasin beserta istri, Nawal Arafah, kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah alumnus Ponpes Al Anwar yang tergabung dalam Himpunan Mutakhorijin Mutakhorijat Al-Anwar Sarang (Himma) Brebes. Acara ini dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan. 

Dalam kesempatan itu, Taj Yasin menyerahkan secara simbolis bantuan untuk Musala Nurul Islam dan TPQ Nurul Anwar Brebes masing-masing senilai Rp25 juta,peralatan sekolah kepada 50 anak yatim serta santunan untuk 15 duafa. 

Salah seorang penerima bantuan, Agus Riyanto mengatakan bantuan BAZNAS Jateng sebesar Rp25 juta akan digunakan untuk merenovasi toilet,  pemasangan plafon musala, dan sarana umum lainnya yang sudah rusak. 

"Alhamdulillah kami sangat senang, terima kasih yang telah memberikan sumbangan untuk musala kami. Saya selaku pengurus Musala Nurul Islam sekaligus mewakili warga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemprov Jateng," ucapnya. 

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan seorang anak yatim, Riski Pratama, yang mengaku senang mendapatkan bantuan peralatan sekolah. Pelajar kelas IV SD Negeri 1 Karangsembung itu mengatakan ia akan semakin giat belajar dan mengaji. 

"Tadi dipanggil ke acara ini untuk menerima tas sekolah. Saya sangat senang dapat bantuan ini," katanya.  

Pada sambutannya, Taj Yasin menyampaikan tentang keutamaan membantu masyarakat miskin, kepada para alumnus Ponpes Al-Anwar Sarang. Selain itu, ia juga tak lupa mengingatkan tentang pentingnya menjaga protokol kesehatan dalam pelaksanakan ibadah bersama. 

Taj Yasin mencontohkan,bila sebelumnya pengajian bisa dihadiri sampai ribuan orang, di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, hal itu tidak bisa lagi dilakukan. Demi menghindari penyebaran Covid-19, pengajian harus dilakukan dalam jumlah terbatas. Misalnya, jika biasanya majelis dengan 100 jemaah, maka dapat dipecah menjadi separuh atau dengan jumlah lebih kecil lagi. 

"Kita dituntut untuk mengerti supaya tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Bagaimana caranya supaya sama-sama enak, yaitu ngajinya dibatasi." 

Di satu sisi, kondisi ini membatasi keleluasaan masyarakat untuk berkumpul dalam jumlah besar, tetapi di sisi lain, hal ini membuka kesempatan bagi para alumni pondok untuk mengajar. 

"Kalau ngajinya dibatasi, artinya butuh lebih banyak orang yang bisa menyampaikan ilmu. Karena yang awalnya majelis 100 orang diampu satu orang, sekarang dipecah-pecah dan semakin kecil maka butuh banyak ustad," terangnya. 

Untuk mengantisipasi kebutuhan pengajar agama atau guru mengaji di tengah pandemi, Taj Yasin meminta pondok pesantren fokus untuk mencetak kader-kader yang tidak hanya memahami ilmu yang didapat selama belajar di pesantren, tetapi juga bersedia mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat. 

"Saya ingin pondok-pondok pesantren fokus mencetak kader yang bisa mengajar dan bersedia mengajar. Yang pintar banyak, tapi yang mau mengajar, itu yang susah. Mau mengajar atau tidak?" tanyanya pada para santri. 

Acara yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu berakhir sekitar pukul 16.30. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Idror Maimoen.


Bagikan :

BREBES -Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyerahkan santunan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) kepada puluhan anak yatim, kaum duafa, serta bantuan untuk musala dan TPQ di Desa Karangsembung, Kecamatan Songgom, Brebes, Minggu (23/5/2021).  

Selain Taj Yasin beserta istri, Nawal Arafah, kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah alumnus Ponpes Al Anwar yang tergabung dalam Himpunan Mutakhorijin Mutakhorijat Al-Anwar Sarang (Himma) Brebes. Acara ini dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan. 

Dalam kesempatan itu, Taj Yasin menyerahkan secara simbolis bantuan untuk Musala Nurul Islam dan TPQ Nurul Anwar Brebes masing-masing senilai Rp25 juta,peralatan sekolah kepada 50 anak yatim serta santunan untuk 15 duafa. 

Salah seorang penerima bantuan, Agus Riyanto mengatakan bantuan BAZNAS Jateng sebesar Rp25 juta akan digunakan untuk merenovasi toilet,  pemasangan plafon musala, dan sarana umum lainnya yang sudah rusak. 

"Alhamdulillah kami sangat senang, terima kasih yang telah memberikan sumbangan untuk musala kami. Saya selaku pengurus Musala Nurul Islam sekaligus mewakili warga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemprov Jateng," ucapnya. 

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan seorang anak yatim, Riski Pratama, yang mengaku senang mendapatkan bantuan peralatan sekolah. Pelajar kelas IV SD Negeri 1 Karangsembung itu mengatakan ia akan semakin giat belajar dan mengaji. 

"Tadi dipanggil ke acara ini untuk menerima tas sekolah. Saya sangat senang dapat bantuan ini," katanya.  

Pada sambutannya, Taj Yasin menyampaikan tentang keutamaan membantu masyarakat miskin, kepada para alumnus Ponpes Al-Anwar Sarang. Selain itu, ia juga tak lupa mengingatkan tentang pentingnya menjaga protokol kesehatan dalam pelaksanakan ibadah bersama. 

Taj Yasin mencontohkan,bila sebelumnya pengajian bisa dihadiri sampai ribuan orang, di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, hal itu tidak bisa lagi dilakukan. Demi menghindari penyebaran Covid-19, pengajian harus dilakukan dalam jumlah terbatas. Misalnya, jika biasanya majelis dengan 100 jemaah, maka dapat dipecah menjadi separuh atau dengan jumlah lebih kecil lagi. 

"Kita dituntut untuk mengerti supaya tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Bagaimana caranya supaya sama-sama enak, yaitu ngajinya dibatasi." 

Di satu sisi, kondisi ini membatasi keleluasaan masyarakat untuk berkumpul dalam jumlah besar, tetapi di sisi lain, hal ini membuka kesempatan bagi para alumni pondok untuk mengajar. 

"Kalau ngajinya dibatasi, artinya butuh lebih banyak orang yang bisa menyampaikan ilmu. Karena yang awalnya majelis 100 orang diampu satu orang, sekarang dipecah-pecah dan semakin kecil maka butuh banyak ustad," terangnya. 

Untuk mengantisipasi kebutuhan pengajar agama atau guru mengaji di tengah pandemi, Taj Yasin meminta pondok pesantren fokus untuk mencetak kader-kader yang tidak hanya memahami ilmu yang didapat selama belajar di pesantren, tetapi juga bersedia mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat. 

"Saya ingin pondok-pondok pesantren fokus mencetak kader yang bisa mengajar dan bersedia mengajar. Yang pintar banyak, tapi yang mau mengajar, itu yang susah. Mau mengajar atau tidak?" tanyanya pada para santri. 

Acara yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu berakhir sekitar pukul 16.30. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Idror Maimoen.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu