Follow Us :              

Laksanakan PTM dengan Tertib Ganjar Ingin SMPN 5 Semarang Jadi Percontohan

  29 September 2021  |   08:00:00  |   dibaca : 169 
Kategori :
Bagikan :


Laksanakan PTM dengan Tertib Ganjar Ingin SMPN 5 Semarang Jadi Percontohan

29 September 2021 | 08:00:00 | dibaca : 169
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan sistem pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SMPN 5 Semarang bisa menjadi contoh bagi sekolah lain. Sekolah ini memiliki skenario yang mengatur siswa saat masuk dan berada di area sekolah dengan sangat baik dan tertib. Bahkan kesalahan melintasi jalur khusus keluar tanpa sengaja, juga mendapat teguran, sekalipun yang melakukan adalah Ganjar. 

"Maaf Pak, itu jalur untuk keluar. Untuk masuk (kelas) lewat sini," tegur Kepala SMPN 5 Semarang, Teguh Waluyo, saat mendampingi Ganjar Pranowo melihat praktik PTM terbatas, Rabu (29/9/2021) pagi. 

Pada Ganjar Teguh menjelaskan, skenario tersebut dibuat setelah mempelajari data selama mengikuti uji coba PTM tingkat provinsi pada bulan April lalu. Setelah data terkumpul,  skenario dan SOP itu kemudian dibagikan kepada guru, siswa, dan orang tua. Bahkan juga memasang informasi skenario dan SOP di depan gerbang sekolah agar masyarakat lain juga tahu. Seperti SOP masuk lingkungan sekolah, kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, beribadah, dan pulang sekolah. 

"Jadi harus ada skenario masuknya seperti apa, cek suhu, cuci tangan, bermasker, dan masuk kelas itu seperti apa. Kami menyadari anak yang datang tidak sedikit dan kadang banyak (berbarengan) maka kita bantu dengan garis (penunjuk arah), putih untuk masuk kelas, kuning untuk keluar," jelasnya terkait sistem PTM yang digunakan.

Ganjar melihat, selain ruang kelas telah dilengkapi  pembatas transparan di masing-masing meja. Guru yang bertugas juga terlihat tegas mengingatkan siswa untuk menjaga jarak minimal 1-2 meter. 

Terkait pengaturan jadwal peserta PTM, sekolah ini menerapkan pembagian berdasarkan nomer urut absensi, bukan ganjil-genap. 

"Siswa yang belajar di sekolah diatur berdasarkan nomor urut absen tiap kelas. Misal 1-16 masuk selama satu pekan pertama, pekan kedua nomor urut selanjutnya, bergantian," katanya. 

Pagi ini sebelum mengunjungi SMPN 5 Semarang, Ganjar lebih dulu mampir ke dua sekolah dasar. Dari ketiga sekolah ini, menurutnya, pelaksanaan PTM  di SMPN 5 adalah yang terbaik. 

"Tadi keliling ada satu SD tidak disiplin, gurunya tidak disiplin, lalu satu SD lagi bagus karena bisa disiplin. SMPN 5 ini paling bagus karena anak-anak yang datang sebelum jam 8 diberikan tempat holding (tunggu). Mereka menunggu dulu, antre dulu, terus kemudian duduknya berjarak. Ini kebiasaan yang menurut saya bagus dan tinggal diteruskan saja," kata Ganjar usai sidak. 

Ganjar meminta agar pelaksanaan PTM terbatas di SMPN 5 Semarang tetap dikawal. Hal itu untuk memastikan sistem yang telah berjalan dengan baik itu bisa konsisten dan berkelanjutan bahkan bisa menjadi percontohan. 

"Tadi minta untuk dikawal, kalau sistemnya seperti ini aman. Apalagi rata-rata sudah divaksin. Tadi saya lihat kelas juga ditutup, anak-anak disiplin karena mungkin sudah SMP. Kalau kebiasaan ini bisa berjalan dua minggu saja, ini potensi bisa jadi contoh," katanya.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan sistem pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SMPN 5 Semarang bisa menjadi contoh bagi sekolah lain. Sekolah ini memiliki skenario yang mengatur siswa saat masuk dan berada di area sekolah dengan sangat baik dan tertib. Bahkan kesalahan melintasi jalur khusus keluar tanpa sengaja, juga mendapat teguran, sekalipun yang melakukan adalah Ganjar. 

"Maaf Pak, itu jalur untuk keluar. Untuk masuk (kelas) lewat sini," tegur Kepala SMPN 5 Semarang, Teguh Waluyo, saat mendampingi Ganjar Pranowo melihat praktik PTM terbatas, Rabu (29/9/2021) pagi. 

Pada Ganjar Teguh menjelaskan, skenario tersebut dibuat setelah mempelajari data selama mengikuti uji coba PTM tingkat provinsi pada bulan April lalu. Setelah data terkumpul,  skenario dan SOP itu kemudian dibagikan kepada guru, siswa, dan orang tua. Bahkan juga memasang informasi skenario dan SOP di depan gerbang sekolah agar masyarakat lain juga tahu. Seperti SOP masuk lingkungan sekolah, kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, beribadah, dan pulang sekolah. 

"Jadi harus ada skenario masuknya seperti apa, cek suhu, cuci tangan, bermasker, dan masuk kelas itu seperti apa. Kami menyadari anak yang datang tidak sedikit dan kadang banyak (berbarengan) maka kita bantu dengan garis (penunjuk arah), putih untuk masuk kelas, kuning untuk keluar," jelasnya terkait sistem PTM yang digunakan.

Ganjar melihat, selain ruang kelas telah dilengkapi  pembatas transparan di masing-masing meja. Guru yang bertugas juga terlihat tegas mengingatkan siswa untuk menjaga jarak minimal 1-2 meter. 

Terkait pengaturan jadwal peserta PTM, sekolah ini menerapkan pembagian berdasarkan nomer urut absensi, bukan ganjil-genap. 

"Siswa yang belajar di sekolah diatur berdasarkan nomor urut absen tiap kelas. Misal 1-16 masuk selama satu pekan pertama, pekan kedua nomor urut selanjutnya, bergantian," katanya. 

Pagi ini sebelum mengunjungi SMPN 5 Semarang, Ganjar lebih dulu mampir ke dua sekolah dasar. Dari ketiga sekolah ini, menurutnya, pelaksanaan PTM  di SMPN 5 adalah yang terbaik. 

"Tadi keliling ada satu SD tidak disiplin, gurunya tidak disiplin, lalu satu SD lagi bagus karena bisa disiplin. SMPN 5 ini paling bagus karena anak-anak yang datang sebelum jam 8 diberikan tempat holding (tunggu). Mereka menunggu dulu, antre dulu, terus kemudian duduknya berjarak. Ini kebiasaan yang menurut saya bagus dan tinggal diteruskan saja," kata Ganjar usai sidak. 

Ganjar meminta agar pelaksanaan PTM terbatas di SMPN 5 Semarang tetap dikawal. Hal itu untuk memastikan sistem yang telah berjalan dengan baik itu bisa konsisten dan berkelanjutan bahkan bisa menjadi percontohan. 

"Tadi minta untuk dikawal, kalau sistemnya seperti ini aman. Apalagi rata-rata sudah divaksin. Tadi saya lihat kelas juga ditutup, anak-anak disiplin karena mungkin sudah SMP. Kalau kebiasaan ini bisa berjalan dua minggu saja, ini potensi bisa jadi contoh," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu