Follow Us :              

Penuhi Harapan Ganjar, Kongres Sampah II Berhasil Rumuskan Lima Rekomendasi

  26 June 2022  |   08:00:00  |   dibaca : 213 
Kategori :
Bagikan :


Penuhi Harapan Ganjar, Kongres Sampah II Berhasil Rumuskan Lima Rekomendasi

26 June 2022 | 08:00:00 | dibaca : 213
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

KLATEN - Kongres Sampah II berhasil membuahkan rekomendasi yang bisa diangkat menjadi kebijakan, seperti yang diharapkan Gubernur Jawa Tengah saat pembukaan acara ini. Terdapat lima rekomendasi pengelolaan sampah telah disepakati dan diikrarkan para peserta kongres. 

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Provinsi Jawa Tengah, Peni Rahayu mengatakan, rekomendasi dari Kongres Sampah di Paseban Candi Plaosan, Desa Bugisan, Prambanan, Klaten itu sangat bagus rumusannya. Rekomendasi tersebut sudah mulai terintegrasi dari hulu sampai hilir. 

"Tadi sudah ada kesepakatan, ada ikrar bersama yang dibacakan," kata Peni saat penutupan Kongres Sampah di Desa Bugisan, Klaten, Ahad (26/6/2022). 

Lima rumusan itu adalah, bergotong-royong berkolaborasi mewujudkan desa mandiri sampah; ngelongi, nganggo, ngolah (kurangi, pakai, olah)  yang disingkat telung -ng. Sebagai bentuk komitmen, pengelolaan sampah harus menjadi mata ajaran atau kurikulum sekolah di segala tingkatan. 

Selanjutnya, adalah komitmen untuk melakukan penguatan kelembagaan yang didukung kebijakan, sumber daya ilmu pengetahuan yang inovatif dan ramah lingkungan. Serta upaya mewujudjan koneksitas hubungan antar pihak/aktor penting pengelolaan sampah, serta adanya poin komitmen pengelolaan sampah menjadi program politik calon pemimpin. "Apapun, eksekutif ataupun yudikatif, mereka harus punya program kerja di sektor lingkungan. Karena saat ini sudah sangat kita butuhkan, untuk segera melakukan pelestarian," ujar Peni. 

Dia menambahkan, sesuai hasil masing-masing komisi dalam Kongres Sampah yang dihelat dua hari ini, juga mencetuskan agar pengelolaan sampah dimulai dari yang terkecil, yaitu dari rumah tangga. Hal ini mengingat sampah terbanyak terbesar berasal dari rumah tangga. 

"Perlakuan sampah dari rumah tangga dalam mengelola sampah. Kalau yang terkecil sudah tertangani, seperti dijadikan pupuk. Dari rumah tangga, (lalu) ke RT. Di RT mungkin bisa dibuat bank sampah," jelasnya. Bahkan konsep bank sampah ini juga bisa dipakai sampai pada tingkat kelurahan. 

Peserta Kongres Sampah Deden Lesmana asal Cirebon Jawa Barat mengaku, kegiatan Kongres Sampah yang dihadirinya ini akan dicontohnya. Supaya nanti bisa dilakukan di wilayahnya. 

"Kami dari keluarga Keraton Cirebon ingin juga melakukan kegiatan ini. Bahkan tidak hanya Cirebon, di Jawa Barat juga. Dengan kegiatan seperti ini, masyarakat jadi lebih merasakan bahwa sampah ada komunitasnya," aku Deden. 

Lewat forum seperti ini, Deden merasa lebih bersemangat lagi untuk menjadikan lingkungannya menjadi lebih baik lagi. Ia yakin, dengan lingkungan yang bersih dan lestari bisa mewujudkan masyarakat yang gemah-ripah loh jinawi kerto raharjo (subur dan sejahtera) seperti harapan para leluhurnya. Deden menyadari, untuk mewujudkan hal itu tidak mudah. Tantangan semakin berat seiring semakin tingginya populasi penduduk. "Kondisi sampah sudah terlalu banyak dibandingkan jumlah penduduk," ucapnya. 

Perwakilan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Jateng, Suyanto menilai positif atas pelibatan mereka pada kongres ini. "Kontribusi pemulung sangat besar (soal sampah). Kami berterimakasih, dengan adanya Kongres Sampah. Semoga ke depannya kami bisa berkolaborasi dengan pemerintah," ucapnya.


Bagikan :

KLATEN - Kongres Sampah II berhasil membuahkan rekomendasi yang bisa diangkat menjadi kebijakan, seperti yang diharapkan Gubernur Jawa Tengah saat pembukaan acara ini. Terdapat lima rekomendasi pengelolaan sampah telah disepakati dan diikrarkan para peserta kongres. 

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Provinsi Jawa Tengah, Peni Rahayu mengatakan, rekomendasi dari Kongres Sampah di Paseban Candi Plaosan, Desa Bugisan, Prambanan, Klaten itu sangat bagus rumusannya. Rekomendasi tersebut sudah mulai terintegrasi dari hulu sampai hilir. 

"Tadi sudah ada kesepakatan, ada ikrar bersama yang dibacakan," kata Peni saat penutupan Kongres Sampah di Desa Bugisan, Klaten, Ahad (26/6/2022). 

Lima rumusan itu adalah, bergotong-royong berkolaborasi mewujudkan desa mandiri sampah; ngelongi, nganggo, ngolah (kurangi, pakai, olah)  yang disingkat telung -ng. Sebagai bentuk komitmen, pengelolaan sampah harus menjadi mata ajaran atau kurikulum sekolah di segala tingkatan. 

Selanjutnya, adalah komitmen untuk melakukan penguatan kelembagaan yang didukung kebijakan, sumber daya ilmu pengetahuan yang inovatif dan ramah lingkungan. Serta upaya mewujudjan koneksitas hubungan antar pihak/aktor penting pengelolaan sampah, serta adanya poin komitmen pengelolaan sampah menjadi program politik calon pemimpin. "Apapun, eksekutif ataupun yudikatif, mereka harus punya program kerja di sektor lingkungan. Karena saat ini sudah sangat kita butuhkan, untuk segera melakukan pelestarian," ujar Peni. 

Dia menambahkan, sesuai hasil masing-masing komisi dalam Kongres Sampah yang dihelat dua hari ini, juga mencetuskan agar pengelolaan sampah dimulai dari yang terkecil, yaitu dari rumah tangga. Hal ini mengingat sampah terbanyak terbesar berasal dari rumah tangga. 

"Perlakuan sampah dari rumah tangga dalam mengelola sampah. Kalau yang terkecil sudah tertangani, seperti dijadikan pupuk. Dari rumah tangga, (lalu) ke RT. Di RT mungkin bisa dibuat bank sampah," jelasnya. Bahkan konsep bank sampah ini juga bisa dipakai sampai pada tingkat kelurahan. 

Peserta Kongres Sampah Deden Lesmana asal Cirebon Jawa Barat mengaku, kegiatan Kongres Sampah yang dihadirinya ini akan dicontohnya. Supaya nanti bisa dilakukan di wilayahnya. 

"Kami dari keluarga Keraton Cirebon ingin juga melakukan kegiatan ini. Bahkan tidak hanya Cirebon, di Jawa Barat juga. Dengan kegiatan seperti ini, masyarakat jadi lebih merasakan bahwa sampah ada komunitasnya," aku Deden. 

Lewat forum seperti ini, Deden merasa lebih bersemangat lagi untuk menjadikan lingkungannya menjadi lebih baik lagi. Ia yakin, dengan lingkungan yang bersih dan lestari bisa mewujudkan masyarakat yang gemah-ripah loh jinawi kerto raharjo (subur dan sejahtera) seperti harapan para leluhurnya. Deden menyadari, untuk mewujudkan hal itu tidak mudah. Tantangan semakin berat seiring semakin tingginya populasi penduduk. "Kondisi sampah sudah terlalu banyak dibandingkan jumlah penduduk," ucapnya. 

Perwakilan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Jateng, Suyanto menilai positif atas pelibatan mereka pada kongres ini. "Kontribusi pemulung sangat besar (soal sampah). Kami berterimakasih, dengan adanya Kongres Sampah. Semoga ke depannya kami bisa berkolaborasi dengan pemerintah," ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu