Follow Us :              

Gubernur Jawa Tengah Sukses Populerkan Kembali Beras Andalan Raja Surakarta

  29 December 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 903 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Jawa Tengah Sukses Populerkan Kembali Beras Andalan Raja Surakarta

29 December 2022 | 10:00:00 | dibaca : 903
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung upaya pengembangan varietas tanaman lokal.  Varietas "Rojolele Srinuk" adalah salah satu di antaranya. Beras premium asal Kecamatan Delanggu - Klaten ini, sekarang menjadi primadona petani karena kualitas unggul dan harga jual yang tinggi. 

Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto mengatakan, sekarang budidaya Rojolele Srinuk sedang populer. Satu kilogram beras varietas ini mampu mencapai harga Rp 13.500 sampai Rp 14.500. 

Turut dijelaskan, Rojolele awalnya adalah varietas umum yang ditanam oleh petani di wilayah Delanggu. Namun karena masa tunggu panen yang mencapai 155 hari dan mudah roboh ditiup angin karena pohonnya relatif tinggi, maka petani memilih beralih ke varietas lain. Meskipun diakui, varietas Rojolele memiliki keunggulan rasa dan tekstur yang pulen. 

Kemudian, pada 2013-2019 Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan rekayasa varietas ini. Hasilnya, mereka berhasil mendapatkan varietas Rojolele yang lebih singkat masa panennya yaitu 110-120 hari. Selain itu varietas ini juga tahan dari penyakit serta tidak mudah roboh. 

Beras Rojolele Srinuk juga telah telah mendapatkan SK pelepasan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan nomor 481/HK.540/C/10/2019. Selain itu telah pula mendapat Hak Pelindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPT) Kementerian Pertanian RI nomor 00551/PPVT/S/2022. 

"Saat tanam dan panen Pak Ganjar berkunjung ke sini, itu menjadi mood booster (penyemangat) bagi kami dan para petani penggarap. Dan lagi pada saat panen Pak Ganjar membeli 100 kilogram beras Rojolele Srinuk waktu 2020,  setelah itu dimasak setelahnya memberi testimoni. Kan pengikutnya di media sosial banyak, hasilnya lumayan untuk penjualannya," papar Eksan Hartanto, dihubungi Kamis (29/12/2022). 

Sebagai informasi, di Desa Delanggu, terdapat 28 hektare area sawah dengan 40 petani penggarap. Sementara, hasil panen varietas ini mencapai 8 ton beras per bulan. Sementara di seluruh Kabupaten Klaten, Rojolele Srinuk telah ditanam di 24 Kecamatan dan menyebar ke 123 titik. Kini,¹ beras Rojolele Srinuk telah beredar di beberapa daerah. Selain pulau Jawa, produk petani Delanggu telah dinikmati hingga Bangka Belitung dan Ibukota DKI Jakarta.  

Eksan menyebut, pemasaran produk ini eksklusif. Sebab, dengan harga perkilogram yang mencapai Rp 14.500 segmen pembelinya dari kalangan terbatas. Selain itu, petani juga lebih diuntungkan dengan harga beli yang tinggi. 

"Kalau harga, konsumen tidak masalah dengan beras dari kami (Desa Delanggu). Hanya saja, beras varietas ini kan sempat tidak ditanam (karena alasan lama panen). Tetapi kan ada beras yang kemasannya saja ditulis Rojolele. Kami mencoba meyakinkan konsumen, bahwa ini (Rojolele Srinuk) merupakan Rojolele yang memang asli," tuturnya. 

Eksan mengatakan, pengembangan beras "Rojolele Srinuk" juga didukung oleh Pemerintah kabupaten (Pemkab) Klaten. Mulai dari fasilitasi peningkatan SDM, pemberantasan hama hingga upaya penyerapan hasil tani dengan memberdayakan perusahaan umum daerah untuk kemudian dibeli oleh para ASN di lingkup Pemkab Klaten. 

Keberadaan varietas Rojolele tidak bisa dipisahkan dari historis Klaten sebagai salah satu lumbung padi di kawasan Kasunanan Surakarta. Dikutip dari laman Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, beras varietas ini sudah ditanam sejak kekuasaan Raja Surakarta, Sinuhun ke-7. 

Cerita asal usulnya beras Rojolele berawal ketika, raja tertarik dengan tanaman padi jenis "wulu" yang tumbuh subur di kawasan Delanggu-Klaten. Sinuhun ke-7 lantas mengajak thole-thole (sebutan anak laki-laki) untuk ikut menanam, karena itu, Sinuhun ke-7 menamakan padi jenis"wulu"  dengan Rojolele, atau Raja bersama thole-thole menanam padi. Ini menyiratkan makna, raja dan rakyat kala itu kompak, untuk menjaga pasokan pangan.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung upaya pengembangan varietas tanaman lokal.  Varietas "Rojolele Srinuk" adalah salah satu di antaranya. Beras premium asal Kecamatan Delanggu - Klaten ini, sekarang menjadi primadona petani karena kualitas unggul dan harga jual yang tinggi. 

Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto mengatakan, sekarang budidaya Rojolele Srinuk sedang populer. Satu kilogram beras varietas ini mampu mencapai harga Rp 13.500 sampai Rp 14.500. 

Turut dijelaskan, Rojolele awalnya adalah varietas umum yang ditanam oleh petani di wilayah Delanggu. Namun karena masa tunggu panen yang mencapai 155 hari dan mudah roboh ditiup angin karena pohonnya relatif tinggi, maka petani memilih beralih ke varietas lain. Meskipun diakui, varietas Rojolele memiliki keunggulan rasa dan tekstur yang pulen. 

Kemudian, pada 2013-2019 Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan rekayasa varietas ini. Hasilnya, mereka berhasil mendapatkan varietas Rojolele yang lebih singkat masa panennya yaitu 110-120 hari. Selain itu varietas ini juga tahan dari penyakit serta tidak mudah roboh. 

Beras Rojolele Srinuk juga telah telah mendapatkan SK pelepasan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan nomor 481/HK.540/C/10/2019. Selain itu telah pula mendapat Hak Pelindungan Varietas Tanaman (PVT) dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPT) Kementerian Pertanian RI nomor 00551/PPVT/S/2022. 

"Saat tanam dan panen Pak Ganjar berkunjung ke sini, itu menjadi mood booster (penyemangat) bagi kami dan para petani penggarap. Dan lagi pada saat panen Pak Ganjar membeli 100 kilogram beras Rojolele Srinuk waktu 2020,  setelah itu dimasak setelahnya memberi testimoni. Kan pengikutnya di media sosial banyak, hasilnya lumayan untuk penjualannya," papar Eksan Hartanto, dihubungi Kamis (29/12/2022). 

Sebagai informasi, di Desa Delanggu, terdapat 28 hektare area sawah dengan 40 petani penggarap. Sementara, hasil panen varietas ini mencapai 8 ton beras per bulan. Sementara di seluruh Kabupaten Klaten, Rojolele Srinuk telah ditanam di 24 Kecamatan dan menyebar ke 123 titik. Kini,¹ beras Rojolele Srinuk telah beredar di beberapa daerah. Selain pulau Jawa, produk petani Delanggu telah dinikmati hingga Bangka Belitung dan Ibukota DKI Jakarta.  

Eksan menyebut, pemasaran produk ini eksklusif. Sebab, dengan harga perkilogram yang mencapai Rp 14.500 segmen pembelinya dari kalangan terbatas. Selain itu, petani juga lebih diuntungkan dengan harga beli yang tinggi. 

"Kalau harga, konsumen tidak masalah dengan beras dari kami (Desa Delanggu). Hanya saja, beras varietas ini kan sempat tidak ditanam (karena alasan lama panen). Tetapi kan ada beras yang kemasannya saja ditulis Rojolele. Kami mencoba meyakinkan konsumen, bahwa ini (Rojolele Srinuk) merupakan Rojolele yang memang asli," tuturnya. 

Eksan mengatakan, pengembangan beras "Rojolele Srinuk" juga didukung oleh Pemerintah kabupaten (Pemkab) Klaten. Mulai dari fasilitasi peningkatan SDM, pemberantasan hama hingga upaya penyerapan hasil tani dengan memberdayakan perusahaan umum daerah untuk kemudian dibeli oleh para ASN di lingkup Pemkab Klaten. 

Keberadaan varietas Rojolele tidak bisa dipisahkan dari historis Klaten sebagai salah satu lumbung padi di kawasan Kasunanan Surakarta. Dikutip dari laman Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, beras varietas ini sudah ditanam sejak kekuasaan Raja Surakarta, Sinuhun ke-7. 

Cerita asal usulnya beras Rojolele berawal ketika, raja tertarik dengan tanaman padi jenis "wulu" yang tumbuh subur di kawasan Delanggu-Klaten. Sinuhun ke-7 lantas mengajak thole-thole (sebutan anak laki-laki) untuk ikut menanam, karena itu, Sinuhun ke-7 menamakan padi jenis"wulu"  dengan Rojolele, atau Raja bersama thole-thole menanam padi. Ini menyiratkan makna, raja dan rakyat kala itu kompak, untuk menjaga pasokan pangan.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu