Follow Us :              

Kunjungi Transmigran Asal Jateng di Lampung, Gubernur Disambut Hangat Puluhan Warga

  07 January 2026  |   08:00:00  |   dibaca : 513 
Kategori :
Bagikan :


Kunjungi Transmigran Asal Jateng di Lampung, Gubernur Disambut Hangat Puluhan Warga

07 January 2026 | 08:00:00 | dibaca : 513
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

LAMPUNG — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengunjungi transmigran asal Jawa Tengah di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung pada Rabu, 7 Januari 2026.

Saat berkunjung ke Balai Desa Bagelan, ia disambut oleh puluhan warga. Suasana hangat dan riuhnya percakapan berbahasa Jawa tak ubahnya seperti berkunjung ke daerah di Jawa Tengah. Sebab, mayoritas penduduk Desa Bagelen berasal dari Jawa. 

Sebagai informasi, puluhan warga Jateng bagian Kedu Selatan dikirim ke Lampung oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1905. Kemudian, mereka membuka lahan dan dibuatkan permukiman yang sekarang bernama Desa Bagelen. Pada tahun 1906-1908, program itu semakin berkembang, bahkan menjangkau beberapa daerah di Lampung.

Salah seorang warga Desa Bagelan, Warkim Prawiroatmojo, menuturkan, nama desanya diambil dari wilayah asal kakek buyutnya di Jateng serta nama seorang tokoh. Tak ayal, adat istiadat dari daerah asal kakeknya sekaligus generasi awal sesepuh Desa Bagelen itu terus dipertahankan sampai saat ini.

"Mbah saya itu asalnya Kedu Selatan, sekarang Purworejo. Ada dari Semawung, Borok, Wonoroto, maka sebutannya Nyai Bagelen atau Nyai Roro Timur. Lalu agar biar rukun, warga keturunan Jawa di Sumatera membuat Paguyuban Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera)," ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan rasa senangnya karena Gubernur Jateng mau berkunjung dan menyapa warga Desa Bagelen. 

Warga lainnya, Tito, berterima kasih kepada Gubernur yang sudah berkenan hadir menengok keluarga jauhnya di Lampung.

"Artinya kami dianggap sebagai saudara jauh, tetapi tetap di hati. Kami berharap akan banyak kerja sama dalam bidang pertanian dan perkebunan untuk kemajuan Desa Bagelen," katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, kunjungannya ke Desa Bagelen menjadi kebanggaan tersendiri. 

"Saya ingin nlusup (menyelinap) jejak sejarah di sini, karena di Lampung ini 60 persen warganya berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah. Saya lihat warga transmigran di sini sudah makmur," ucapnya. 

Harapannya, kondisi masyarakat dan wilayah di desa itu semakin subur, makmur, tertib, tentram, dan sejahtera, yang dalam ungkapan Jawanya gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Gubernur juga berpesan kepada masyarakat Jateng yang ada di perantauan, khususnya para transmigran agar mereka bisa beradaptasi di tempat tinggalnya. Sebab, para warga yang sudah puluhan tahun melakukan transmigrasi, bahkan lahir di sana sudah berkomitmen untuk menetap di daerah tersebut.

"Mereka sudah membangun desa di Lampung. Jadi, di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung. Artinya biar bisa menyesuaikan daerahnya masing-masing," katanya.


Bagikan :

LAMPUNG — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengunjungi transmigran asal Jawa Tengah di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung pada Rabu, 7 Januari 2026.

Saat berkunjung ke Balai Desa Bagelan, ia disambut oleh puluhan warga. Suasana hangat dan riuhnya percakapan berbahasa Jawa tak ubahnya seperti berkunjung ke daerah di Jawa Tengah. Sebab, mayoritas penduduk Desa Bagelen berasal dari Jawa. 

Sebagai informasi, puluhan warga Jateng bagian Kedu Selatan dikirim ke Lampung oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1905. Kemudian, mereka membuka lahan dan dibuatkan permukiman yang sekarang bernama Desa Bagelen. Pada tahun 1906-1908, program itu semakin berkembang, bahkan menjangkau beberapa daerah di Lampung.

Salah seorang warga Desa Bagelan, Warkim Prawiroatmojo, menuturkan, nama desanya diambil dari wilayah asal kakek buyutnya di Jateng serta nama seorang tokoh. Tak ayal, adat istiadat dari daerah asal kakeknya sekaligus generasi awal sesepuh Desa Bagelen itu terus dipertahankan sampai saat ini.

"Mbah saya itu asalnya Kedu Selatan, sekarang Purworejo. Ada dari Semawung, Borok, Wonoroto, maka sebutannya Nyai Bagelen atau Nyai Roro Timur. Lalu agar biar rukun, warga keturunan Jawa di Sumatera membuat Paguyuban Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera)," ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan rasa senangnya karena Gubernur Jateng mau berkunjung dan menyapa warga Desa Bagelen. 

Warga lainnya, Tito, berterima kasih kepada Gubernur yang sudah berkenan hadir menengok keluarga jauhnya di Lampung.

"Artinya kami dianggap sebagai saudara jauh, tetapi tetap di hati. Kami berharap akan banyak kerja sama dalam bidang pertanian dan perkebunan untuk kemajuan Desa Bagelen," katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, kunjungannya ke Desa Bagelen menjadi kebanggaan tersendiri. 

"Saya ingin nlusup (menyelinap) jejak sejarah di sini, karena di Lampung ini 60 persen warganya berasal dari Jawa, terutama Jawa Tengah. Saya lihat warga transmigran di sini sudah makmur," ucapnya. 

Harapannya, kondisi masyarakat dan wilayah di desa itu semakin subur, makmur, tertib, tentram, dan sejahtera, yang dalam ungkapan Jawanya gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Gubernur juga berpesan kepada masyarakat Jateng yang ada di perantauan, khususnya para transmigran agar mereka bisa beradaptasi di tempat tinggalnya. Sebab, para warga yang sudah puluhan tahun melakukan transmigrasi, bahkan lahir di sana sudah berkomitmen untuk menetap di daerah tersebut.

"Mereka sudah membangun desa di Lampung. Jadi, di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung. Artinya biar bisa menyesuaikan daerahnya masing-masing," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu