Follow Us :              

Kisah Sukses Anak Transmigran Asal Jawa Tengah Jadi Kepala Daerah

  07 January 2026  |   08:00:00  |   dibaca : 304 
Kategori :
Bagikan :


Kisah Sukses Anak Transmigran Asal Jawa Tengah Jadi Kepala Daerah

07 January 2026 | 08:00:00 | dibaca : 304
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

LAMPUNG – Berbekal ketekunan, keteguhan, dan etos kerja yang tinggi, banyak transmigran asal Jawa Tengah yang sukses dalam berkarir dan berwirausaha di lokasi trasmigrasi. Tak hanya orang tua, bahkan kesuksesan juga diraih anak-anaknya. 

Cerita sukses itu, salah satunya datang dari Provinsi Lampung. Kisah Riyanto Pamungkas, sosok yang kini menjabat sebagai Bupati Pringsewu Periode 2025-2030, merupakan anak bungsu dari sebelas bersaudara. Dahulu, orang tuanya bertransmigrasi dari Jawa ke Lampung.

"Orang tua saya itu transmigrasi mandiri pada tahun 1956. Jadi banyak sekali masyarakat Jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat yang transmigrasi ke Sumatera, khususnya di Lampung. Alhamdulillah, mereka sudah sangat berkontribusi untuk pembangunan yang ada di Lampung," ujar Riyanto saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., pada Rabu, 7 Januari 2026.

Etos kerja yang luar biasa dari kedua orang tuanya di tanah rantau membuahkan hasil yang baik. Diketahui, ayah Riyanto merupakan buruh dan ibunya seorang peracik kopi rumahan.

Dari situlah, Riyanto merintis usaha jualan kopi sangrai pada usia 21 tahun. Ia mampu mendirikan pabrik dengan merek kopi Klangenan pada tahun 2010 lalu, bahkan memberdayakan ratusan tenaga kerja lokal. Kesuksesan itu yang membuat Riyanto mendapatkan amanah untuk memimpin masyarakat Kabupaten Pringsewu.

"Di Pringsewu, mayoritas (warga) berasal (dari) Jawa, sekitar 70-an persen orang Jawa di sini. Saya ditakdirkan jadi Bupati yang notabene Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), untuk bisa memimpin masyarakat Pringsewu sampai tahun 2030," tuturnya.

Maka dari itu, Riyanto berpesan kepada masyarakat Jateng yang merantau agar mereka memiliki ketekunan, keteguhan, serta etos kerja yang tinggi. Sebab, hal itulah kunci menuju kesuksesan di mana pun mereka berada. 

Ia menambahkan, satu kiat khusus yaitu semangat bertahan tanpa melupakan jati diri atau asal-usulnya.

"Tetaplah rendah hati, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya identitas kita harus tetap dijaga. Pendatang tentu lebih fight ya dibandingkan orang asli karena pendatang bisa lebih berjuang, bisa lebih menahan lapar, menahan segalanya, karena tidak punya apa-apa. Lebih bisa bertahan," katanya.

Kisah serupa juga diceritakan oleh Jihan Nurlela. Lahir dari keluarga transmigran yang datang ke Lampung pada tahun 1982, Jihan kini mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Lampung mendampingi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal pada periode 2025-2030. Begitu juga, dua saudara kandungnya yang juga menjadi tokoh.

"Saya lahir dan besar di Lampung, ayah saya dari Jawa Timur, ibu dari Rembang, Jawa Tengah. Keduanya masyarakat transmigran pada tahun 1982," katanya.

Pada kesempatan itu, ia berpesan kepada seluruh masyarakat Jawa, khususnya Jateng, di mana pun mereka berada agar tetap menjaga budaya dan menurunkannya ke anak cucu. Masyarakat diaspora juga harus bisa ikut berkontribusi pada pembangunan di daerahnya sekarang atau daerah asalnya.

Jihan berharap, Provinsi Lampung dan Provinsi Jawa Tengah bisa terus berkolaborasi untuk memajukan kedua daerah bersama-sama. Beberapa kerja sama sudah dilakukan, harapannya upaya ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di kedua provinsi yang secara sejarah memiliki hubungan yang erat.

Dalam kunjungan ke Lampung, Gubernur Jawa Tengah melakukan kerja sama dengan Pemprov Lampung serta bertemu dengan tokoh-tokoh transmigran asal Jateng. 

Ia melihat masyarakat asal Jateng yang bertransmigrasi ke Lampung sudah banyak yang mendulang kesuksesan.

"Mereka sudah sukses membangun desa di Lampung. Jadi, di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung. Artinya agar bisa menyesuaikan daerahnya masing-masing,” ucapnya.


Bagikan :

LAMPUNG – Berbekal ketekunan, keteguhan, dan etos kerja yang tinggi, banyak transmigran asal Jawa Tengah yang sukses dalam berkarir dan berwirausaha di lokasi trasmigrasi. Tak hanya orang tua, bahkan kesuksesan juga diraih anak-anaknya. 

Cerita sukses itu, salah satunya datang dari Provinsi Lampung. Kisah Riyanto Pamungkas, sosok yang kini menjabat sebagai Bupati Pringsewu Periode 2025-2030, merupakan anak bungsu dari sebelas bersaudara. Dahulu, orang tuanya bertransmigrasi dari Jawa ke Lampung.

"Orang tua saya itu transmigrasi mandiri pada tahun 1956. Jadi banyak sekali masyarakat Jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat yang transmigrasi ke Sumatera, khususnya di Lampung. Alhamdulillah, mereka sudah sangat berkontribusi untuk pembangunan yang ada di Lampung," ujar Riyanto saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., pada Rabu, 7 Januari 2026.

Etos kerja yang luar biasa dari kedua orang tuanya di tanah rantau membuahkan hasil yang baik. Diketahui, ayah Riyanto merupakan buruh dan ibunya seorang peracik kopi rumahan.

Dari situlah, Riyanto merintis usaha jualan kopi sangrai pada usia 21 tahun. Ia mampu mendirikan pabrik dengan merek kopi Klangenan pada tahun 2010 lalu, bahkan memberdayakan ratusan tenaga kerja lokal. Kesuksesan itu yang membuat Riyanto mendapatkan amanah untuk memimpin masyarakat Kabupaten Pringsewu.

"Di Pringsewu, mayoritas (warga) berasal (dari) Jawa, sekitar 70-an persen orang Jawa di sini. Saya ditakdirkan jadi Bupati yang notabene Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), untuk bisa memimpin masyarakat Pringsewu sampai tahun 2030," tuturnya.

Maka dari itu, Riyanto berpesan kepada masyarakat Jateng yang merantau agar mereka memiliki ketekunan, keteguhan, serta etos kerja yang tinggi. Sebab, hal itulah kunci menuju kesuksesan di mana pun mereka berada. 

Ia menambahkan, satu kiat khusus yaitu semangat bertahan tanpa melupakan jati diri atau asal-usulnya.

"Tetaplah rendah hati, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya identitas kita harus tetap dijaga. Pendatang tentu lebih fight ya dibandingkan orang asli karena pendatang bisa lebih berjuang, bisa lebih menahan lapar, menahan segalanya, karena tidak punya apa-apa. Lebih bisa bertahan," katanya.

Kisah serupa juga diceritakan oleh Jihan Nurlela. Lahir dari keluarga transmigran yang datang ke Lampung pada tahun 1982, Jihan kini mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Lampung mendampingi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal pada periode 2025-2030. Begitu juga, dua saudara kandungnya yang juga menjadi tokoh.

"Saya lahir dan besar di Lampung, ayah saya dari Jawa Timur, ibu dari Rembang, Jawa Tengah. Keduanya masyarakat transmigran pada tahun 1982," katanya.

Pada kesempatan itu, ia berpesan kepada seluruh masyarakat Jawa, khususnya Jateng, di mana pun mereka berada agar tetap menjaga budaya dan menurunkannya ke anak cucu. Masyarakat diaspora juga harus bisa ikut berkontribusi pada pembangunan di daerahnya sekarang atau daerah asalnya.

Jihan berharap, Provinsi Lampung dan Provinsi Jawa Tengah bisa terus berkolaborasi untuk memajukan kedua daerah bersama-sama. Beberapa kerja sama sudah dilakukan, harapannya upaya ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di kedua provinsi yang secara sejarah memiliki hubungan yang erat.

Dalam kunjungan ke Lampung, Gubernur Jawa Tengah melakukan kerja sama dengan Pemprov Lampung serta bertemu dengan tokoh-tokoh transmigran asal Jateng. 

Ia melihat masyarakat asal Jateng yang bertransmigrasi ke Lampung sudah banyak yang mendulang kesuksesan.

"Mereka sudah sukses membangun desa di Lampung. Jadi, di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung. Artinya agar bisa menyesuaikan daerahnya masing-masing,” ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu