Follow Us :              

Pariwisata Jateng Unggul Secara Nasional, Gubernur Andalkan Aglomerasi dan Desa Wisata

  08 January 2026  |   12:00:00  |   dibaca : 659 
Kategori :
Bagikan :


Pariwisata Jateng Unggul Secara Nasional, Gubernur Andalkan Aglomerasi dan Desa Wisata

08 January 2026 | 12:00:00 | dibaca : 659
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG – Sektor pariwisata Jawa Tengah terus menunjukkan peningkatan performa. Berdasarkan riset dari CNBC Indonesia Research, Jawa Tengah menempati daftar teratas provinsi dengan total pendapatan daya tarik wisata alam komersial tertinggi.

Hal ini sejalan dengan tingginya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke berbagai destinasi populer di wilayah ini. 

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyampaikan, strategi pengembangan pariwisata di wilayahnya menitikberatkan pada keterpaduan antarwilayah atau aglomerasi dan penguatan potensi desa wisata. Bahkan, hal itu mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor pariwisata, serta menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).

“Salah satu upaya untuk menaikkan PAD kita, di antaranya dengan memperkuat dan memperbanyak obyek  wisata,” ucap Gubernur di kantornya pada Kamis, 8 Januari 2026.

Ia menyampaikan, Jawa Tengah memiliki keunggulan melalui pengembangan kawasan aglomerasi pariwisata di Kabupaten Semarang dan Magelang. Selain itu, provinsi ini juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai tulang punggung pemerataan ekonomi daerah.

“Kita punya aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, sama Rawa Pening. Kita punya seribu desa wisata,” ucapnya.

Gubernur menyampaikan, pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Desa wisata yang awalnya berskala lokal, didorong untuk naik kelas menjadi destinasi regional, hingga internasional.

Pemerintah Provinsi Jateng bersama pemerintah kabupaten/kota sudah menetapkan sejumlah desa wisata, melalui surat keputusan kepala daerah sebagai dasar pembinaan dan pengembangan desa.

Selain wisata berbasis alam dan sejarah, Pemprov juga mendorong adanya keanekaragaman pariwisata untuk memperluas segmentasi pasar, di antaranya wisata kuliner, budaya, dan wisata ramah muslim. Hal ini menjadi bagian dari strategi penguatan daya saing pariwisata Jawa Tengah.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke Jawa Tengah pada tahun 2024 sebanyak 68,88 juta orang atau meningkat 22% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara kunjungan wisatawan mancanegara, naik 28% menjadi 593.168 orang.

Sejumlah destinasi unggulan, seperti Masjid Syeikh Zayed Surakarta, Kota Lama Semarang, Candi Prambanan, serta Kawasan Borobudur dan Dieng menjadi magnet utama kunjungan wisata di Jateng.


Bagikan :

SEMARANG – Sektor pariwisata Jawa Tengah terus menunjukkan peningkatan performa. Berdasarkan riset dari CNBC Indonesia Research, Jawa Tengah menempati daftar teratas provinsi dengan total pendapatan daya tarik wisata alam komersial tertinggi.

Hal ini sejalan dengan tingginya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke berbagai destinasi populer di wilayah ini. 

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyampaikan, strategi pengembangan pariwisata di wilayahnya menitikberatkan pada keterpaduan antarwilayah atau aglomerasi dan penguatan potensi desa wisata. Bahkan, hal itu mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor pariwisata, serta menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).

“Salah satu upaya untuk menaikkan PAD kita, di antaranya dengan memperkuat dan memperbanyak obyek  wisata,” ucap Gubernur di kantornya pada Kamis, 8 Januari 2026.

Ia menyampaikan, Jawa Tengah memiliki keunggulan melalui pengembangan kawasan aglomerasi pariwisata di Kabupaten Semarang dan Magelang. Selain itu, provinsi ini juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai tulang punggung pemerataan ekonomi daerah.

“Kita punya aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, sama Rawa Pening. Kita punya seribu desa wisata,” ucapnya.

Gubernur menyampaikan, pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Desa wisata yang awalnya berskala lokal, didorong untuk naik kelas menjadi destinasi regional, hingga internasional.

Pemerintah Provinsi Jateng bersama pemerintah kabupaten/kota sudah menetapkan sejumlah desa wisata, melalui surat keputusan kepala daerah sebagai dasar pembinaan dan pengembangan desa.

Selain wisata berbasis alam dan sejarah, Pemprov juga mendorong adanya keanekaragaman pariwisata untuk memperluas segmentasi pasar, di antaranya wisata kuliner, budaya, dan wisata ramah muslim. Hal ini menjadi bagian dari strategi penguatan daya saing pariwisata Jawa Tengah.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke Jawa Tengah pada tahun 2024 sebanyak 68,88 juta orang atau meningkat 22% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara kunjungan wisatawan mancanegara, naik 28% menjadi 593.168 orang.

Sejumlah destinasi unggulan, seperti Masjid Syeikh Zayed Surakarta, Kota Lama Semarang, Candi Prambanan, serta Kawasan Borobudur dan Dieng menjadi magnet utama kunjungan wisata di Jateng.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu