Foto : Mizan (Humas Jateng)
Foto : Mizan (Humas Jateng)
DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan ketersediaan bahan pangan di wilayahnya menjelang Ramadan, meskipun cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, pihaknya akan melakukan pengendalian harga serta memastikan stok bahan pangan menjelang Ramadan. Selain itu, pengendalian laju inflasi juga akan terus dilakukan sepanjang tahun.
“Masalah inflasi selalu kami pantau. Kalau ada gejolak, tentu kami ambil langkah untuk mengendalikan harga di Jawa Tengah,” ucapnya usai menjadi narasumber acara Mutiara Ramadhan di Studio I TVRI Jawa Tengah, Jalan Pucang Gading Raya, Mranggen, Kabupaten Demak pada Selasa, 20 Januari 2026.
Sekda mengungkapkan, hingga kini harga bahan pokok di Jateng masih cukup stabil. Kolaborasi dengan Bulog juga dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan, guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ia mengatakan, Ramadan memiliki karakter berbeda dibanding bulan lainnya, karena aktivitas ekonomi masyarakat meningkat selama sebulan penuh. Oleh karena itu, koordinasi dengan pihak-pihak terkait perlu dilakukan sejak awal.
Tak hanya itu, Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga yang selama ini dilakukan di pasar-pasar tradisional.
“Pemantauan harga kami lakukan setiap hari. Kalau ada gejolak, segera kami tindak lanjuti. Kenaikan harga itu mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi harus tetap terkendali,” ucap Sekda.
Terkait cuaca ekstrem yang memicu gagal panen di sejumlah daerah, seperti Pati, Jepara, Kudus, dan Grobogan, Sekda menyatakan, dampak terhadap ketersediaan pangan masih relatif aman. Saat ini, pemerintah sudah melakukan pendataan lahan terdampak puso atau gagal panen, serta menyiapkan langkah perlindungan bagi petani.
“Kami sudah identifikasi dampak bencana dan menyiapkan asuransi untuk petani. Dampaknya terhadap stok pangan belum besar, karena hanya di beberapa lokasi,” ujarnya.
Sebagai informasi, produktivitas pangan di Provinsi Jateng tahun 2025 sudah memenuhi target dari pemerintah pusat. Hal ini sekaligus menjadi langkah awal untuk meneguhkan posisi Jawa Tengah sebagai penumpu pangan nasional.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, hingga November 2025 produktivitas padi di Jateng mencapai 11.377.731 ton gabah kering panen (GKP), atau setara dengan 9.397.904 ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu berasal dari luas tanam padi sekitar 2.025.782 hektare dengan luas panen sekitar 1.673.012 hektare. Capaian itu menempatkan Jawa Tengah sebagai tiga besar kontributor padi nasional.
Sebelumnya, Pimpinan Wilayah Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kanwil Jawa Tengah–DIY, Sri Muniati, memastikan bahwa ketersediaan pangan di wilayahnya aman hingga Juni 2026. Tercatat, stok beras di Jateng mencapai 339.094 ton.
DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan ketersediaan bahan pangan di wilayahnya menjelang Ramadan, meskipun cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, pihaknya akan melakukan pengendalian harga serta memastikan stok bahan pangan menjelang Ramadan. Selain itu, pengendalian laju inflasi juga akan terus dilakukan sepanjang tahun.
“Masalah inflasi selalu kami pantau. Kalau ada gejolak, tentu kami ambil langkah untuk mengendalikan harga di Jawa Tengah,” ucapnya usai menjadi narasumber acara Mutiara Ramadhan di Studio I TVRI Jawa Tengah, Jalan Pucang Gading Raya, Mranggen, Kabupaten Demak pada Selasa, 20 Januari 2026.
Sekda mengungkapkan, hingga kini harga bahan pokok di Jateng masih cukup stabil. Kolaborasi dengan Bulog juga dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan, guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ia mengatakan, Ramadan memiliki karakter berbeda dibanding bulan lainnya, karena aktivitas ekonomi masyarakat meningkat selama sebulan penuh. Oleh karena itu, koordinasi dengan pihak-pihak terkait perlu dilakukan sejak awal.
Tak hanya itu, Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga yang selama ini dilakukan di pasar-pasar tradisional.
“Pemantauan harga kami lakukan setiap hari. Kalau ada gejolak, segera kami tindak lanjuti. Kenaikan harga itu mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi harus tetap terkendali,” ucap Sekda.
Terkait cuaca ekstrem yang memicu gagal panen di sejumlah daerah, seperti Pati, Jepara, Kudus, dan Grobogan, Sekda menyatakan, dampak terhadap ketersediaan pangan masih relatif aman. Saat ini, pemerintah sudah melakukan pendataan lahan terdampak puso atau gagal panen, serta menyiapkan langkah perlindungan bagi petani.
“Kami sudah identifikasi dampak bencana dan menyiapkan asuransi untuk petani. Dampaknya terhadap stok pangan belum besar, karena hanya di beberapa lokasi,” ujarnya.
Sebagai informasi, produktivitas pangan di Provinsi Jateng tahun 2025 sudah memenuhi target dari pemerintah pusat. Hal ini sekaligus menjadi langkah awal untuk meneguhkan posisi Jawa Tengah sebagai penumpu pangan nasional.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, hingga November 2025 produktivitas padi di Jateng mencapai 11.377.731 ton gabah kering panen (GKP), atau setara dengan 9.397.904 ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu berasal dari luas tanam padi sekitar 2.025.782 hektare dengan luas panen sekitar 1.673.012 hektare. Capaian itu menempatkan Jawa Tengah sebagai tiga besar kontributor padi nasional.
Sebelumnya, Pimpinan Wilayah Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kanwil Jawa Tengah–DIY, Sri Muniati, memastikan bahwa ketersediaan pangan di wilayahnya aman hingga Juni 2026. Tercatat, stok beras di Jateng mencapai 339.094 ton.
Berita Terbaru