Follow Us :              

Di Hadapan Ratusan Mahasiswa, Gus Yasin dan Ning Nawal Ajarkan Kepemimpinan ala Nabi

  10 March 2026  |   16:00:00  |   dibaca : 113 
Kategori :
Bagikan :


Di Hadapan Ratusan Mahasiswa, Gus Yasin dan Ning Nawal Ajarkan Kepemimpinan ala Nabi

10 March 2026 | 16:00:00 | dibaca : 113
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Mizan (Humas Jateng)

SURAKARTA – Suasana Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Selasa sore, 10 Maret 2026, terasa hangat menjelang waktu berbuka puasa. 

Ratusan mahasiswa duduk bersila mengikuti Kuliah Ramadan, mendengarkan cerita kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bersama istrinya, Nawal Arafah Yasin.

Bukan sekadar ceramah, diskusi itu menghadirkan sisi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang jarang disadari oleh banyak orang.

Wagub menyampaikan, salah satu pelajaran penting dari Rasulullah adalah seorang pemimpin juga manusia yang memiliki rasa takut dan cemas ketika menerima amanah besar.

“Ketika Nabi diangkat menjadi rasul, beliau juga merasakan takut dan khawatir. Bahkan, beliau meminta ditenangkan oleh istrinya. Itu menunjukkan bahwa dukungan keluarga adalah anugerah besar bagi seorang pemimpin,” ucapnya di hadapan para mahasiswa.

Gus Yasin menambahkan, keteladanan Nabi juga terlihat dari sifat-sifat utamanya, seperti siddiq (jujur/benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas). Nilai-nilai itu, menurutnya tetap relevan di era saat ini.

“Kita mungkin tidak bisa menandingi kejujuran Rasulullah. Karena itu, di era modern nilai-nilai itu harus dijaga lewat sistem yang transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Wagub menyampaikan bahwa menjadi pemimpin di masa sekarang tidaklah mudah. Rekam jejak pemimpin bisa dilacak dan kritik bisa datang dari berbagai arah.

“Sekarang mencari celah kesalahan pemimpin sangat mudah, karena semuanya terekam, tetapi kritik itu penting, selama disampaikan secara objektif,” katanya.

Ia mencontohkan, bahkan Nabi Muhammad SAW pun tidak luput dari kritik. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyampaikan kritik yang bersifat membangun, bukan hanya sekadar karena perbedaan kepentingan politik.

Sementara itu, Nawal Arafah Yasin dalam paparannya membahas tentang perspektif kepemimpinan perempuan dalam Islam. Ia juga menyampaikan bahwa Al-Qur’an menceritakan figur pemimpin perempuan yang berhasil, yakni Ratu Balqis dalam Surah An-Naml.

“Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Sulaiman menemukan seorang perempuan yang memimpin kaumnya, yaitu Ratu Balqis. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga bisa memiliki kapasitas kepemimpinan,” ujar Ning Nawal, sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, dalam sejarah Islam pun perempuan berperan penting saat mengambil keputusan. Salah satu contohnya adalah Ummu Salamah yang memberikan nasihat kepada Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Dari kisah itu, perempuan dapat berperan dalam musyawarah selama memiliki kemampuan dan tetap berpegang pada syariat.

“Yang paling penting dari seorang pemimpin adalah apa yang ada di dalam hatinya, keimanan dan akhlaknya. Bukan sekadar jabatan, kekayaan, atau kedudukannya,” ucap Ning Nawal.

Rektor UNS, Hartono, mengapresiasi kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta istri yang bersedia berbagi ilmu kepada para mahasiswa dalam kegiatan Kuliah Ramadan tersebut.

“Kami berharap kajian ini memberikan pencerahan bagi kita semua, khususnya dalam mengambil teladan kepemimpinan Rasulullah di kehidupan modern,” katanya.


Bagikan :

SURAKARTA – Suasana Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Selasa sore, 10 Maret 2026, terasa hangat menjelang waktu berbuka puasa. 

Ratusan mahasiswa duduk bersila mengikuti Kuliah Ramadan, mendengarkan cerita kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, bersama istrinya, Nawal Arafah Yasin.

Bukan sekadar ceramah, diskusi itu menghadirkan sisi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang jarang disadari oleh banyak orang.

Wagub menyampaikan, salah satu pelajaran penting dari Rasulullah adalah seorang pemimpin juga manusia yang memiliki rasa takut dan cemas ketika menerima amanah besar.

“Ketika Nabi diangkat menjadi rasul, beliau juga merasakan takut dan khawatir. Bahkan, beliau meminta ditenangkan oleh istrinya. Itu menunjukkan bahwa dukungan keluarga adalah anugerah besar bagi seorang pemimpin,” ucapnya di hadapan para mahasiswa.

Gus Yasin menambahkan, keteladanan Nabi juga terlihat dari sifat-sifat utamanya, seperti siddiq (jujur/benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas). Nilai-nilai itu, menurutnya tetap relevan di era saat ini.

“Kita mungkin tidak bisa menandingi kejujuran Rasulullah. Karena itu, di era modern nilai-nilai itu harus dijaga lewat sistem yang transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Wagub menyampaikan bahwa menjadi pemimpin di masa sekarang tidaklah mudah. Rekam jejak pemimpin bisa dilacak dan kritik bisa datang dari berbagai arah.

“Sekarang mencari celah kesalahan pemimpin sangat mudah, karena semuanya terekam, tetapi kritik itu penting, selama disampaikan secara objektif,” katanya.

Ia mencontohkan, bahkan Nabi Muhammad SAW pun tidak luput dari kritik. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyampaikan kritik yang bersifat membangun, bukan hanya sekadar karena perbedaan kepentingan politik.

Sementara itu, Nawal Arafah Yasin dalam paparannya membahas tentang perspektif kepemimpinan perempuan dalam Islam. Ia juga menyampaikan bahwa Al-Qur’an menceritakan figur pemimpin perempuan yang berhasil, yakni Ratu Balqis dalam Surah An-Naml.

“Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Sulaiman menemukan seorang perempuan yang memimpin kaumnya, yaitu Ratu Balqis. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga bisa memiliki kapasitas kepemimpinan,” ujar Ning Nawal, sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, dalam sejarah Islam pun perempuan berperan penting saat mengambil keputusan. Salah satu contohnya adalah Ummu Salamah yang memberikan nasihat kepada Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Dari kisah itu, perempuan dapat berperan dalam musyawarah selama memiliki kemampuan dan tetap berpegang pada syariat.

“Yang paling penting dari seorang pemimpin adalah apa yang ada di dalam hatinya, keimanan dan akhlaknya. Bukan sekadar jabatan, kekayaan, atau kedudukannya,” ucap Ning Nawal.

Rektor UNS, Hartono, mengapresiasi kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta istri yang bersedia berbagi ilmu kepada para mahasiswa dalam kegiatan Kuliah Ramadan tersebut.

“Kami berharap kajian ini memberikan pencerahan bagi kita semua, khususnya dalam mengambil teladan kepemimpinan Rasulullah di kehidupan modern,” katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu