Follow Us :              

Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat

  13 August 2026  |   11:00:00  |   dibaca : 129 
Kategori :
Bagikan :

Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat

13 August 2026 | 11:00:00 | dibaca : 129
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
Pemprov Jateng Uji Coba Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat

Foto : Mizan (Humas Jateng)

WONOGIRI – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengurangi backlog atau kebutuhan rumah tak hanya dilakukan dengan menambah jumlah rumah yang dibangun. Inovasi teknologi konstruksi juga mulai diuji untuk membuat pembangunan rumah lebih cepat dan lebih murah.

Salah satunya melalui penggunaan bata interlock dalam pembangunan rumah baru bagi warga di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, yang diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Kamis, 13 Agustus 2026. 

Bekerja sama dengan PT Semen Indonesia (Persero), Pemprov Jateng menguji penggunaan bata interlock sebagai alternatif pembangunan rumah bantuan pemerintah.

Wagub mengatakan, teknologi tersebut memungkinkan pembangunan rumah dilakukan dengan biaya yang lebih efisien. Contohnya, rumah berukuran 30m2 itu dibangun dengan anggaran sekitar Rp60 juta.

“Kalau dihitung oleh tukang, biasanya 1 meter persegi itu Rp3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi, habisnya Rp90 juta. Tetapi alhamdulillah pembangunan ini kita biayai dengan angka Rp60 juta,” ucapnya.

Selain menghemat biaya, penggunaan bata interlock juga mempercepat waktu pembangunan. Rumah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 1,5 bulan.

Menurutnya, efisiensi tersebut menjadi alasan Pemprov Jateng mulai menguji penerapan teknologi bata interlock pada program bantuan pembangunan rumah.

“Ini yang kita dorong untuk pemakaian, pengaplikasian khususnya untuk bantuan-bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah,” ucap Wagub.

Saat ini, uji coba baru diterapkan pada dua rumah. Selanjutnya, Pemprov Jateng akan mengevaluasi hasilnya sebelum memperluas penggunaan bata interlock pada pembangunan rumah bantuan di daerah lain.

Wagub berharap, inovasi serupa dapat diterapkan pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat, sehingga pembangunan rumah layak huni dapat dilakukan dengan biaya lebih ringan dan tidak semakin membebani penerima manfaat.
 
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jateng menangani persoalan perumahan yang masih cukup besar. Pada 2026, intervensi APBD Jawa Tengah diarahkan untuk peningkatan kualitas 5.111 rumah tidak layak huni (RTLH) yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 235 unit berada di Kabupaten Wonogiri.

Selain memperbaiki rumah yang sudah ada, Pemprov Jateng juga mengalokasikan pembangunan baru untuk menangani backlog perumahan sebanyak 120 unit, adapun 20 unit di antaranya berada di Wonogiri.

Salah satu penerima bantuan rumah menggunakan bata interlock adalah Isnano Dalhari Nuryanto. Warga Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri itu sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta-Rp2 juta per bulan. 

Ia juga masih menanggung kebutuhan dua anaknya yang bersekolah. Sebelum menerima bantuan, Isnano bersama keluarganya masih menumpang. Kini, rumah yang sebelumnya hanya menjadi harapan sudah berdiri dan siap ditempati keluarganya.

Bagi Isnano, bantuan tersebut bukan sekadar bangunan baru, tetapi kesempatan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarganya.


Bagikan :

WONOGIRI – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengurangi backlog atau kebutuhan rumah tak hanya dilakukan dengan menambah jumlah rumah yang dibangun. Inovasi teknologi konstruksi juga mulai diuji untuk membuat pembangunan rumah lebih cepat dan lebih murah.

Salah satunya melalui penggunaan bata interlock dalam pembangunan rumah baru bagi warga di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, yang diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Kamis, 13 Agustus 2026. 

Bekerja sama dengan PT Semen Indonesia (Persero), Pemprov Jateng menguji penggunaan bata interlock sebagai alternatif pembangunan rumah bantuan pemerintah.

Wagub mengatakan, teknologi tersebut memungkinkan pembangunan rumah dilakukan dengan biaya yang lebih efisien. Contohnya, rumah berukuran 30m2 itu dibangun dengan anggaran sekitar Rp60 juta.

“Kalau dihitung oleh tukang, biasanya 1 meter persegi itu Rp3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi, habisnya Rp90 juta. Tetapi alhamdulillah pembangunan ini kita biayai dengan angka Rp60 juta,” ucapnya.

Selain menghemat biaya, penggunaan bata interlock juga mempercepat waktu pembangunan. Rumah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 1,5 bulan.

Menurutnya, efisiensi tersebut menjadi alasan Pemprov Jateng mulai menguji penerapan teknologi bata interlock pada program bantuan pembangunan rumah.

“Ini yang kita dorong untuk pemakaian, pengaplikasian khususnya untuk bantuan-bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah,” ucap Wagub.

Saat ini, uji coba baru diterapkan pada dua rumah. Selanjutnya, Pemprov Jateng akan mengevaluasi hasilnya sebelum memperluas penggunaan bata interlock pada pembangunan rumah bantuan di daerah lain.

Wagub berharap, inovasi serupa dapat diterapkan pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat, sehingga pembangunan rumah layak huni dapat dilakukan dengan biaya lebih ringan dan tidak semakin membebani penerima manfaat.
 
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jateng menangani persoalan perumahan yang masih cukup besar. Pada 2026, intervensi APBD Jawa Tengah diarahkan untuk peningkatan kualitas 5.111 rumah tidak layak huni (RTLH) yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 235 unit berada di Kabupaten Wonogiri.

Selain memperbaiki rumah yang sudah ada, Pemprov Jateng juga mengalokasikan pembangunan baru untuk menangani backlog perumahan sebanyak 120 unit, adapun 20 unit di antaranya berada di Wonogiri.

Salah satu penerima bantuan rumah menggunakan bata interlock adalah Isnano Dalhari Nuryanto. Warga Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri itu sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta-Rp2 juta per bulan. 

Ia juga masih menanggung kebutuhan dua anaknya yang bersekolah. Sebelum menerima bantuan, Isnano bersama keluarganya masih menumpang. Kini, rumah yang sebelumnya hanya menjadi harapan sudah berdiri dan siap ditempati keluarganya.

Bagi Isnano, bantuan tersebut bukan sekadar bangunan baru, tetapi kesempatan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarganya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu