Follow Us :              

Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 

  08 October 2026  |   08:30:00  |   dibaca : 120 
Kategori :
Bagikan :

Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 

08 October 2026 | 08:30:00 | dibaca : 120
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 
Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 
Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 
Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 
Perkuat Perlindungan Wilayah Pantura, Pemprov Jateng dan BOPPJ Masifkan Penanaman Mangrove 

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG — Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan memasifkan penanaman pohon bakau (mangrove) di wilayah Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, sebelum proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa dimulai.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Kepala BOPPJ, Fadil Imran, saat beraudiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Kamis, 8 Oktober 2026. 

Rencananya, penanaman mangrove juga akan dilakukan bersama masyarakat dalam waktu dekat ini. 

"Presiden sudah memerintahkan BOPPJ untuk mengoptimalkan perlindungan ekologis dan pengembangan ekonomi masyarakat di pantura (pantai utara). Salah satu wilayah yang menjadi titik untuk dikelola adalah Kota Semarang, Demak, dan Kendal," ucap Fadil.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat maupun komunitas-komunitas menjadi penting dalam upaya menjaga wilayah pesisir. 

“Giant Sea Wall dalam konsep besarnya adalah pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, juga dibahas sejumlah praktik baik penanaman dan pengelolaan mangrove di Jawa Tengah. Salah satunya adalah praktik yang dilakukan tokoh pemuda di Kabupaten Brebes, Mohammad Bangkit. Ia berhasil menggerakkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ekowisata Hutan Mangrove di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. 

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, langkah yang akan dilakukan oleh BOPPJ selaras dengan program Mageri Segoro yang sudah dilakukan di seluruh pesisir Jawa Tengah. 

Tercatat, panjang garis pantai di Jateng mencapai 1.127,85 km, terdiri dari wilayah pantura sepanjang 651,47 km; pansela (pantai selatan) sepanjang 343,50 km; dan Karimunjawa sepanjang 132,88 km.

Ia mengatakan, kawasan pesisir harus dijaga, karena berkaitan langsung dengan permukiman, tambak, kawasan perikanan, industri, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat.

"Tentu saja program BOPPJ itu selaras dengan program Jawa Tengah. Kita punya program Mageri Segoro yang sudah melibatkan seluruh komponen masyarakat," ucapnya.

Khusus di kawasan pantura, Gubernur menjelaskan bahwa tantangannya cukup kompleks. Tidak hanya abrasi dan erosi yang menyebabkan mundurnya garis pantai, tetapi juga banjir, rob, penurunan muka tanah, sedimentasi, dan lainnya. Maka dari itu, perlindungan di kawasan pantura membutuhkan penanganan terpadu.

Terkait penanganan jangka panjang sudah ada konsep Giant Sea Wall sepanjang kawasan Pantura Jawa yang menjadi proyek strategis nasional. Adapun pembangunan tanggul laut raksasa di Jawa Tengah ini akan membentang sekitar 274,7 km dari wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Pati, dan Rembang.

"Sebelum adanya Giant Sea Wall berdiri, harapannya masyarakat sudah terbiasa dengan penanaman mangrove, cemara, kelapa nyiur, dan sebagainya, sehingga upaya pencegahan sejak dini ini (dilakukan) sebelum (pembangunan Giant Sea Wall) dilaksanakan," ucap Gubernur.


Bagikan :

SEMARANG — Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan memasifkan penanaman pohon bakau (mangrove) di wilayah Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, sebelum proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa dimulai.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Kepala BOPPJ, Fadil Imran, saat beraudiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Kamis, 8 Oktober 2026. 

Rencananya, penanaman mangrove juga akan dilakukan bersama masyarakat dalam waktu dekat ini. 

"Presiden sudah memerintahkan BOPPJ untuk mengoptimalkan perlindungan ekologis dan pengembangan ekonomi masyarakat di pantura (pantai utara). Salah satu wilayah yang menjadi titik untuk dikelola adalah Kota Semarang, Demak, dan Kendal," ucap Fadil.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat maupun komunitas-komunitas menjadi penting dalam upaya menjaga wilayah pesisir. 

“Giant Sea Wall dalam konsep besarnya adalah pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, juga dibahas sejumlah praktik baik penanaman dan pengelolaan mangrove di Jawa Tengah. Salah satunya adalah praktik yang dilakukan tokoh pemuda di Kabupaten Brebes, Mohammad Bangkit. Ia berhasil menggerakkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ekowisata Hutan Mangrove di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. 

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, langkah yang akan dilakukan oleh BOPPJ selaras dengan program Mageri Segoro yang sudah dilakukan di seluruh pesisir Jawa Tengah. 

Tercatat, panjang garis pantai di Jateng mencapai 1.127,85 km, terdiri dari wilayah pantura sepanjang 651,47 km; pansela (pantai selatan) sepanjang 343,50 km; dan Karimunjawa sepanjang 132,88 km.

Ia mengatakan, kawasan pesisir harus dijaga, karena berkaitan langsung dengan permukiman, tambak, kawasan perikanan, industri, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat.

"Tentu saja program BOPPJ itu selaras dengan program Jawa Tengah. Kita punya program Mageri Segoro yang sudah melibatkan seluruh komponen masyarakat," ucapnya.

Khusus di kawasan pantura, Gubernur menjelaskan bahwa tantangannya cukup kompleks. Tidak hanya abrasi dan erosi yang menyebabkan mundurnya garis pantai, tetapi juga banjir, rob, penurunan muka tanah, sedimentasi, dan lainnya. Maka dari itu, perlindungan di kawasan pantura membutuhkan penanganan terpadu.

Terkait penanganan jangka panjang sudah ada konsep Giant Sea Wall sepanjang kawasan Pantura Jawa yang menjadi proyek strategis nasional. Adapun pembangunan tanggul laut raksasa di Jawa Tengah ini akan membentang sekitar 274,7 km dari wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Pati, dan Rembang.

"Sebelum adanya Giant Sea Wall berdiri, harapannya masyarakat sudah terbiasa dengan penanaman mangrove, cemara, kelapa nyiur, dan sebagainya, sehingga upaya pencegahan sejak dini ini (dilakukan) sebelum (pembangunan Giant Sea Wall) dilaksanakan," ucap Gubernur.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu