Follow Us :              

Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak

  19 October 2026  |   13:00:00  |   dibaca : 46 
Kategori :
Bagikan :

Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak

19 October 2026 | 13:00:00 | dibaca : 46
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak
Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak
Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak
Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak
Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Serahkan Beasiswa bagi 424 Mahasantri dan 58 Santri Penggerak

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG — Mendekati peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyerahkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak di Jawa Tengah. 

Beasiswa tersebut merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas Gubernur Jateng dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen.

"Hari ini kita serahkan beasiswa terkait program Pesantren Obah, di antaranya beasiswa Ma'had Aly untuk santri yang kuliah di pesantren serta beasiswa santri penggerak yang aktif dan tinggal di pesantren," ucap Gubernur usai acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Senin, 19 Oktober 2026.

Gubernur menjelaskan, para santri penerima beasiswa sangat memahami seluk-beluk pesantren, mulai dari kearifan lokalnya, metodologi pengajarannya, dan sebagainya. Para santri yang berkuliah tersebut tidak hanya memahami tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga tradisi keilmuan di perguruan tinggi. 

“Santri adalah garda terdepan, tidak hanya ilmu dunia dan akhirat, tetapi juga menjaga NKRI dari degradasi moral generasi muda," katanya.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menambahkan, program beasiswa ini tidak hanya untuk membantu biaya pendidikan. Pemerintah Provinsi Jateng juga ingin mempertemukan mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi berbasis pesantren.

Ia juga membuka peluang untuk menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri Ma’had Aly. Mereka diharapkan dapat bertemu di daerah pengabdian, bertukar pandangan, serta bersama-sama melihat kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus umum dan KKN dari Ma’had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana,” ujarnya.

Wagub menambahkan, penentuan penerima beasiswa juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dan capaian akademik. Dengan demikian, bantuan pendidikan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan sekaligus mendukung keberlanjutan studinya.

Manfaat beasiswa tersebut dirasakan langsung oleh Alaika Hilma, mahasantri semester enam di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an (MAYQ) Kudus, jurusan Ulumul Qur’an, fakultas Ushuluddin. 

Sebelum menerima bantuan, ia harus menjalani pekerjaan lepas atau freelance untuk membantu memenuhi biaya kuliahnya.

Bagi Alaika, beasiswa dari Pemprov Jateng tidak hanya sekadar bantuan finansial, tetapi menjadi cara untuk mengurangi beban yang selama ini harus ia pikirkan di tengah kewajiban menyelesaikan pendidikan.

“Dengan adanya program ini, saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, proses pengajuan beasiswa di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an berjalan lancar, karena pihak lembaga turut membantu proses pemberkasan. Dari ma’had tersebut, sebanyak 13 mahasantri dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.

Pengalaman berbeda disampaikan Silvi Dyah Oktaviani, mahasiswa semester lima di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus. Selain menjalani perkuliahan, ia tinggal di Pondok Pesantren Bustanul Furqon Asy-Syafi’iyyah, sebuah pesantren mahasiswa di Kudus.

Rutinitasnya tidak berhenti setelah kegiatan akademik di kampus selesai. Ia juga aktif dalam organisasi kampus dan mengikuti kegiatan pesantren, termasuk mengaji selepas Magrib hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Di tengah padatnya aktivitas tersebut, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup masih menjadi hal yang harus diperhitungkan. 

Silvi mengaku, kebutuhan sehari-harinya masih dibantu orang tua. Oleh karena itu, ia mencari beasiswa untuk menunjang pendidikannya, hingga kemudian ia mengetahui informasi mengenai program Santri Penggerak.

“Saya memang lagi cari beasiswa buat pendukung pendidikan saya agar lebih semangat. Kebetulan saya juga berada di pondok pesantren,” ucapnya.

Ia menilai, bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban keuangan, tetapi juga menjadi dorongan bagi mahasiswa yang menjalani pendidikan di kampus sekaligus menuntut ilmu di pesantren.

“Menurut saya ini merupakan terobosan baru agar santri-santri sekaligus mahasiswa lebih semangat dalam belajar, menimba ilmu di universitas masing-masing ataupun di Ma’had Aly. Secara keuangan sangat membantu,” ucap Silvi.

Dalam program ini, setiap penerima beasiswa memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester selama 6 semester. Bantuan tersebut diharapkan mampu membantu mahasiswa dan mahasantri untuk melanjutkan pendidikan, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kapasitas akademik dan berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.


Bagikan :

SEMARANG — Mendekati peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyerahkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak di Jawa Tengah. 

Beasiswa tersebut merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas Gubernur Jateng dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen.

"Hari ini kita serahkan beasiswa terkait program Pesantren Obah, di antaranya beasiswa Ma'had Aly untuk santri yang kuliah di pesantren serta beasiswa santri penggerak yang aktif dan tinggal di pesantren," ucap Gubernur usai acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Senin, 19 Oktober 2026.

Gubernur menjelaskan, para santri penerima beasiswa sangat memahami seluk-beluk pesantren, mulai dari kearifan lokalnya, metodologi pengajarannya, dan sebagainya. Para santri yang berkuliah tersebut tidak hanya memahami tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga tradisi keilmuan di perguruan tinggi. 

“Santri adalah garda terdepan, tidak hanya ilmu dunia dan akhirat, tetapi juga menjaga NKRI dari degradasi moral generasi muda," katanya.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menambahkan, program beasiswa ini tidak hanya untuk membantu biaya pendidikan. Pemerintah Provinsi Jateng juga ingin mempertemukan mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi berbasis pesantren.

Ia juga membuka peluang untuk menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri Ma’had Aly. Mereka diharapkan dapat bertemu di daerah pengabdian, bertukar pandangan, serta bersama-sama melihat kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus umum dan KKN dari Ma’had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana,” ujarnya.

Wagub menambahkan, penentuan penerima beasiswa juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dan capaian akademik. Dengan demikian, bantuan pendidikan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan sekaligus mendukung keberlanjutan studinya.

Manfaat beasiswa tersebut dirasakan langsung oleh Alaika Hilma, mahasantri semester enam di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an (MAYQ) Kudus, jurusan Ulumul Qur’an, fakultas Ushuluddin. 

Sebelum menerima bantuan, ia harus menjalani pekerjaan lepas atau freelance untuk membantu memenuhi biaya kuliahnya.

Bagi Alaika, beasiswa dari Pemprov Jateng tidak hanya sekadar bantuan finansial, tetapi menjadi cara untuk mengurangi beban yang selama ini harus ia pikirkan di tengah kewajiban menyelesaikan pendidikan.

“Dengan adanya program ini, saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, proses pengajuan beasiswa di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an berjalan lancar, karena pihak lembaga turut membantu proses pemberkasan. Dari ma’had tersebut, sebanyak 13 mahasantri dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.

Pengalaman berbeda disampaikan Silvi Dyah Oktaviani, mahasiswa semester lima di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus. Selain menjalani perkuliahan, ia tinggal di Pondok Pesantren Bustanul Furqon Asy-Syafi’iyyah, sebuah pesantren mahasiswa di Kudus.

Rutinitasnya tidak berhenti setelah kegiatan akademik di kampus selesai. Ia juga aktif dalam organisasi kampus dan mengikuti kegiatan pesantren, termasuk mengaji selepas Magrib hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Di tengah padatnya aktivitas tersebut, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup masih menjadi hal yang harus diperhitungkan. 

Silvi mengaku, kebutuhan sehari-harinya masih dibantu orang tua. Oleh karena itu, ia mencari beasiswa untuk menunjang pendidikannya, hingga kemudian ia mengetahui informasi mengenai program Santri Penggerak.

“Saya memang lagi cari beasiswa buat pendukung pendidikan saya agar lebih semangat. Kebetulan saya juga berada di pondok pesantren,” ucapnya.

Ia menilai, bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban keuangan, tetapi juga menjadi dorongan bagi mahasiswa yang menjalani pendidikan di kampus sekaligus menuntut ilmu di pesantren.

“Menurut saya ini merupakan terobosan baru agar santri-santri sekaligus mahasiswa lebih semangat dalam belajar, menimba ilmu di universitas masing-masing ataupun di Ma’had Aly. Secara keuangan sangat membantu,” ucap Silvi.

Dalam program ini, setiap penerima beasiswa memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester selama 6 semester. Bantuan tersebut diharapkan mampu membantu mahasiswa dan mahasantri untuk melanjutkan pendidikan, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kapasitas akademik dan berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu