Follow Us :              

Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura

  19 October 2026  |   07:00:00  |   dibaca : 121 
Kategori :
Bagikan :

Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura

19 October 2026 | 07:00:00 | dibaca : 121
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura
Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura
Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura
Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura
Harapan Baru Warga Timbulsloko Demak: 10 Tahun Melawan Rob, Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura

Foto : Adit (Humas Jateng)

DEMAK — Setelah satu dekade berjuang melawan ancaman abrasi dan banjir rob, warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, kini mendapatkan angin segar. Desa yang bertahun-tahun dilanda rob ini dipilih menjadi lokasi proyek percontohan atau Demonstration Plotting (Demplot) perlindungan Pantai Utara Jawa berbasis alam (Nature-based Solutions).

Hal itu ditandai dengan penanaman mangrove di Desa Timbulsloko oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Desa Timbulsloko pada Senin, 19 Oktober 2026. 

Acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan; Bupati Demak, Eisti'anah; Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari; Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin; serta berbagai elemen masyarakat, termasuk pelajar.

"Terima kasih atas penanaman mangrove, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat Timbulsloko. Harapannya, Desa Timbulsloko bisa pulih kembali," ucap Kepala Desa Timbulsloko, Nadhiri.

Ia menuturkan, kondisi Desa Timbulsloko sejak tahun 2016 sangat memprihatinkan. Air pasang tinggi, abrasi, dan rob hampir terjadi setiap hari. Bahkan, ada dukuh di desa tersebut yang mulai tenggelam. Kondisi ini memaksa masyarakat Timbulsloko harus beradaptasi dengan kebiasaan baru.

"Dulu Timbulsloko termasuk desa yang kaya raya. Ada sawah, tegalan (kebun), dan tambak. Penghasilan setiap hari ada udang dari tambak, terus 4 bulan sekali panen padi, cabai, jagung, dan bandeng. Setelah kena abrasi, hancur semuanya," tuturnya.

Nadhiri mengungkapkan, pemerintah desa sebenarnya sudah menyiapkan relokasi untuk warga. Namun, faktor ekonomi membuat warga kembali ke tempat lamanya. Bahkan di tempat baru, banyak warga yang tidak bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Meskipun kondisi seperti ini terus dialami, masyarakat Desa Timbulsloko berupaya beradaptasi dengan memanfaatkan kondisi alam di sekitar rumahnya.

"Warga bertahan di sini, karena masalah ekonomi. Umur 40 tahun kalau kerja bangunan sudah agak loyo, tidak kuat. Mau kerja di pabrik tidak diterima, akhirnya kembali lagi ke sini. Paling tidak tiap hari bisa dapat kerang, udang, atau kepiting dari belakang rumah," katanya.

Selain itu, Pemerintah Desa Timbulsloko juga membuat Peraturan Desa (Perdes) untuk menjaga lingkungan desa agar kondisinya tidak semakin parah. Dalam Perdes itu, salah satunya terdapat aturan menanam mangrove untuk seluruh warga. Bahkan rencana jangka panjangnya, Timbulsloko ingin dijadikan desa wisata mangrove.

"Warga yang menebang mangrove satu pohon harus tanam 10 pohon baru, kalau ada warga yang menikah menanam 10 pohon, kalau ada ternak yang makan mangrove, maka pemiliknya harus tanam 10 pohon. Ini masih berjalan sampai sekarang," jelasnya.

Seorang warga Dukuh Wonorejo, Desa Timbulsloko, Masripah, juga menuturkan hal serupa. Selama bertahun-tahun tinggal di sana, ia sudah beberapa kali harus meninggikan lantai dan rumahnya agar air pasang tidak masuk ke rumah. Hampir semua hasil kerja kerasnya habis untuk memperbaiki rumah.

"Sudah lama dialami warga sini. Kalau bisa pasang pemecah ombak biar (gelombangnya) tidak besar (saat) sampai sini (daratan). Semoga dengan kegiatan ini dan adanya Giant Sea Wall nanti bisa mengurangi rob," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, penanaman mangrove menjadi salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi dampak abrasi dan banjir rob yang selama ini mengancam pesisir Jawa Tengah, terutama di pesisir pantai utara (pantura).

Ia menyampaikan, persoalan kerusakan pesisir, banjir rob, hingga penurunan muka tanah membutuhkan penanganan terpadu. Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemprov Jateng adalah gerakan Mageri Segoro. 

Sepanjang tahun 2025, program tersebut mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare yang tersebar di 107 desa, 54 kecamatan, dan 17 kabupaten/kota. Namun, Gubernur mengakui tidak semua mangrove yang ditanam mampu bertahan.

“Ada yang hidup, ada yang mati, ada yang hilang. Adanya penggunaan HexBricks dapat mendukung keberhasilan pemulihan mangrove di kawasan pesisir, tetapi Pemprov Jateng berharap Giant Sea Wall bisa menjadi salah satu solusi dalam mengurangi erosi di pesisir Pantura." ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menko IPK, Agus Harimurti Yudhoyono, menyampaikan bahwa mangrove berperan membantu meredam energi gelombang laut, sehingga dapat mengurangi dampak abrasi di pesisir. Perlindungan Pantura dilakukan melalui pendekatan hybrid yang memadukan pembangunan infrastruktur fisik berupa tanggul pantai maupun tanggul laut dengan solusi berbasis alam.

Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi menghadapi kenaikan permukaan air laut serta penurunan muka tanah yang mengancam permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

"Mari kita kawal bersama-sama pembangunan Giant Sea Wall ini dimulai dari penanaman mangrove. Jateng nanti dimulai dari Kendal, Semarang, dan Demak,” ucap Menko IPK.


Bagikan :

DEMAK — Setelah satu dekade berjuang melawan ancaman abrasi dan banjir rob, warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, kini mendapatkan angin segar. Desa yang bertahun-tahun dilanda rob ini dipilih menjadi lokasi proyek percontohan atau Demonstration Plotting (Demplot) perlindungan Pantai Utara Jawa berbasis alam (Nature-based Solutions).

Hal itu ditandai dengan penanaman mangrove di Desa Timbulsloko oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Desa Timbulsloko pada Senin, 19 Oktober 2026. 

Acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan; Bupati Demak, Eisti'anah; Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari; Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin; serta berbagai elemen masyarakat, termasuk pelajar.

"Terima kasih atas penanaman mangrove, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat Timbulsloko. Harapannya, Desa Timbulsloko bisa pulih kembali," ucap Kepala Desa Timbulsloko, Nadhiri.

Ia menuturkan, kondisi Desa Timbulsloko sejak tahun 2016 sangat memprihatinkan. Air pasang tinggi, abrasi, dan rob hampir terjadi setiap hari. Bahkan, ada dukuh di desa tersebut yang mulai tenggelam. Kondisi ini memaksa masyarakat Timbulsloko harus beradaptasi dengan kebiasaan baru.

"Dulu Timbulsloko termasuk desa yang kaya raya. Ada sawah, tegalan (kebun), dan tambak. Penghasilan setiap hari ada udang dari tambak, terus 4 bulan sekali panen padi, cabai, jagung, dan bandeng. Setelah kena abrasi, hancur semuanya," tuturnya.

Nadhiri mengungkapkan, pemerintah desa sebenarnya sudah menyiapkan relokasi untuk warga. Namun, faktor ekonomi membuat warga kembali ke tempat lamanya. Bahkan di tempat baru, banyak warga yang tidak bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Meskipun kondisi seperti ini terus dialami, masyarakat Desa Timbulsloko berupaya beradaptasi dengan memanfaatkan kondisi alam di sekitar rumahnya.

"Warga bertahan di sini, karena masalah ekonomi. Umur 40 tahun kalau kerja bangunan sudah agak loyo, tidak kuat. Mau kerja di pabrik tidak diterima, akhirnya kembali lagi ke sini. Paling tidak tiap hari bisa dapat kerang, udang, atau kepiting dari belakang rumah," katanya.

Selain itu, Pemerintah Desa Timbulsloko juga membuat Peraturan Desa (Perdes) untuk menjaga lingkungan desa agar kondisinya tidak semakin parah. Dalam Perdes itu, salah satunya terdapat aturan menanam mangrove untuk seluruh warga. Bahkan rencana jangka panjangnya, Timbulsloko ingin dijadikan desa wisata mangrove.

"Warga yang menebang mangrove satu pohon harus tanam 10 pohon baru, kalau ada warga yang menikah menanam 10 pohon, kalau ada ternak yang makan mangrove, maka pemiliknya harus tanam 10 pohon. Ini masih berjalan sampai sekarang," jelasnya.

Seorang warga Dukuh Wonorejo, Desa Timbulsloko, Masripah, juga menuturkan hal serupa. Selama bertahun-tahun tinggal di sana, ia sudah beberapa kali harus meninggikan lantai dan rumahnya agar air pasang tidak masuk ke rumah. Hampir semua hasil kerja kerasnya habis untuk memperbaiki rumah.

"Sudah lama dialami warga sini. Kalau bisa pasang pemecah ombak biar (gelombangnya) tidak besar (saat) sampai sini (daratan). Semoga dengan kegiatan ini dan adanya Giant Sea Wall nanti bisa mengurangi rob," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, penanaman mangrove menjadi salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi dampak abrasi dan banjir rob yang selama ini mengancam pesisir Jawa Tengah, terutama di pesisir pantai utara (pantura).

Ia menyampaikan, persoalan kerusakan pesisir, banjir rob, hingga penurunan muka tanah membutuhkan penanganan terpadu. Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemprov Jateng adalah gerakan Mageri Segoro. 

Sepanjang tahun 2025, program tersebut mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare yang tersebar di 107 desa, 54 kecamatan, dan 17 kabupaten/kota. Namun, Gubernur mengakui tidak semua mangrove yang ditanam mampu bertahan.

“Ada yang hidup, ada yang mati, ada yang hilang. Adanya penggunaan HexBricks dapat mendukung keberhasilan pemulihan mangrove di kawasan pesisir, tetapi Pemprov Jateng berharap Giant Sea Wall bisa menjadi salah satu solusi dalam mengurangi erosi di pesisir Pantura." ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menko IPK, Agus Harimurti Yudhoyono, menyampaikan bahwa mangrove berperan membantu meredam energi gelombang laut, sehingga dapat mengurangi dampak abrasi di pesisir. Perlindungan Pantura dilakukan melalui pendekatan hybrid yang memadukan pembangunan infrastruktur fisik berupa tanggul pantai maupun tanggul laut dengan solusi berbasis alam.

Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi menghadapi kenaikan permukaan air laut serta penurunan muka tanah yang mengancam permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

"Mari kita kawal bersama-sama pembangunan Giant Sea Wall ini dimulai dari penanaman mangrove. Jateng nanti dimulai dari Kendal, Semarang, dan Demak,” ucap Menko IPK.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu