Follow Us :              

Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri

  01 November 2026  |   09:30:00  |   dibaca : 45 
Kategori :
Bagikan :

Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri

01 November 2026 | 09:30:00 | dibaca : 45
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri
Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri
Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri
Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri
Perkuat Dukungan untuk Pesantren, Pemprov Jateng Berikan Tali Asih Penghafal Qur’an hingga Beasiswa Santri

Foto : Mizan (Humas Jateng)

KAB SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat dukungan terhadap pondok pesantren dan santri melalui berbagai program, mulai dari pemberian tali asih (bisyarah) bagi penghafal Al-Qur’an, insentif guru agama, hingga beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan, hingga tahun 2026, sudah ada lebih dari 2.000 hafiz dan hafizah di Jateng yang telah menerima tali asih sebesar Rp1 juta per orang, setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

“Ini bentuk apresiasi dan dukungan penuh terhadap keberadaan pondok pesantren tahfiz,” ucapnya saat menghadiri Haflah Khotmil Quran ke-XV, Qiro’ah Sab’ah, serta Haul KH M. Saifulloh dan Nyai Hj. Siti Mutmainah di Halaman Pondok Pesantren Sabilul Huda, Tegaron, Banyubiru, Kabupaten Semarang pada Minggu, 1 November 2026.

Ia menjelaskan, pemberian tali asih tidak memerlukan pengajuan proposal. Pihak pesantren cukup menyampaikan undangan kegiatan wisuda dan menunjukkan bahwa santri yang bersangkutan telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an dengan disaksikan kiai atau pembimbingnya.

Wagub menegaskan, perhatian pemerintah terhadap pesantren tidak hanya diberikan kepada santri penghafal Al-Qur'an, tetapi juga kepada para kiai, ustaz, dan lembaga pendidikan pesantren.

Melalui program Pesantren Obah, Pemprov Jateng melanjutkan berbagai program yang telah berjalan pada periode pemerintahan sebelumnya sekaligus melengkapi dukungan yang dinilai masih perlu diperkuat.

Salah satunya, pemberian insentif kepada guru-guru agama. Selain itu, pemerintah memperluas dukungan melalui beasiswa pendidikan tinggi bagi santri yang ingin melanjutkan studi.

"(Tali asih kita berikan sebagai) apresiasi kepada anak-anak yang menghafalkan Al-Qur'an, insentif (bagi) guru agama, dan sekarang kita tambahkan beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah," ucap Wagub.

Program beasiswa tersebut menjangkau berbagai perguruan tinggi di Jateng, antara lain UIN Walisongo Semarang, UIN Salatiga, Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), serta sejumlah perguruan tinggi yang berada di lingkungan pesantren.

Tidak hanya di dalam negeri, Pemprov Jateng juga memfasilitasi santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan Cina.

Beasiswa juga diberikan kepada mahasantri Ma'had Aly yang berada di lingkungan pondok pesantren. Tercatat, sebanyak 420 mahasantri mendapatkan fasilitas beasiswa hingga menyelesaikan pendidikan.

Selain santri, Pemprov Jateng juga membuka kesempatan bagi guru-guru madrasah yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Saat ini, proses rekrutmen dan seleksi bagi guru-guru masih berlangsung.

Wagub menegaskan, program beasiswa ini tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

Oleh karena itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat kembali ke pesantren dan mengabdikan ilmu yang diperoleh, setelah menyelesaikan pendidikan. Bentuk pengabdian tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan pesantren dan arahan para kiai. Mereka bisa menjadi tenaga pengajar, mengembangkan kegiatan ekonomi dan UMKM pesantren, maupun memberikan pelayanan sesuai bidang keahlian masing-masing.

Menurutnya, pendidikan santri saat ini semakin berkembang dan tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan. Santri juga memiliki kesempatan menekuni berbagai disiplin ilmu lain, termasuk teknik dan kedokteran.

Dalam kesempatan itu, Wagub berharap para wisudawan tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur'an, tetapi juga mampu menjaga kemuliaan Al-Qur'an melalui bacaan, pemahaman, serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap, pendidikan yang diperoleh para santri di Pondok Pesantren Sabilul Huda menjadi ilmu yang berkah dan membawa manfaat bagi masyarakat.


Bagikan :

KAB SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat dukungan terhadap pondok pesantren dan santri melalui berbagai program, mulai dari pemberian tali asih (bisyarah) bagi penghafal Al-Qur’an, insentif guru agama, hingga beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan, hingga tahun 2026, sudah ada lebih dari 2.000 hafiz dan hafizah di Jateng yang telah menerima tali asih sebesar Rp1 juta per orang, setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

“Ini bentuk apresiasi dan dukungan penuh terhadap keberadaan pondok pesantren tahfiz,” ucapnya saat menghadiri Haflah Khotmil Quran ke-XV, Qiro’ah Sab’ah, serta Haul KH M. Saifulloh dan Nyai Hj. Siti Mutmainah di Halaman Pondok Pesantren Sabilul Huda, Tegaron, Banyubiru, Kabupaten Semarang pada Minggu, 1 November 2026.

Ia menjelaskan, pemberian tali asih tidak memerlukan pengajuan proposal. Pihak pesantren cukup menyampaikan undangan kegiatan wisuda dan menunjukkan bahwa santri yang bersangkutan telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an dengan disaksikan kiai atau pembimbingnya.

Wagub menegaskan, perhatian pemerintah terhadap pesantren tidak hanya diberikan kepada santri penghafal Al-Qur'an, tetapi juga kepada para kiai, ustaz, dan lembaga pendidikan pesantren.

Melalui program Pesantren Obah, Pemprov Jateng melanjutkan berbagai program yang telah berjalan pada periode pemerintahan sebelumnya sekaligus melengkapi dukungan yang dinilai masih perlu diperkuat.

Salah satunya, pemberian insentif kepada guru-guru agama. Selain itu, pemerintah memperluas dukungan melalui beasiswa pendidikan tinggi bagi santri yang ingin melanjutkan studi.

"(Tali asih kita berikan sebagai) apresiasi kepada anak-anak yang menghafalkan Al-Qur'an, insentif (bagi) guru agama, dan sekarang kita tambahkan beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah," ucap Wagub.

Program beasiswa tersebut menjangkau berbagai perguruan tinggi di Jateng, antara lain UIN Walisongo Semarang, UIN Salatiga, Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), serta sejumlah perguruan tinggi yang berada di lingkungan pesantren.

Tidak hanya di dalam negeri, Pemprov Jateng juga memfasilitasi santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan Cina.

Beasiswa juga diberikan kepada mahasantri Ma'had Aly yang berada di lingkungan pondok pesantren. Tercatat, sebanyak 420 mahasantri mendapatkan fasilitas beasiswa hingga menyelesaikan pendidikan.

Selain santri, Pemprov Jateng juga membuka kesempatan bagi guru-guru madrasah yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Saat ini, proses rekrutmen dan seleksi bagi guru-guru masih berlangsung.

Wagub menegaskan, program beasiswa ini tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

Oleh karena itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat kembali ke pesantren dan mengabdikan ilmu yang diperoleh, setelah menyelesaikan pendidikan. Bentuk pengabdian tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan pesantren dan arahan para kiai. Mereka bisa menjadi tenaga pengajar, mengembangkan kegiatan ekonomi dan UMKM pesantren, maupun memberikan pelayanan sesuai bidang keahlian masing-masing.

Menurutnya, pendidikan santri saat ini semakin berkembang dan tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan. Santri juga memiliki kesempatan menekuni berbagai disiplin ilmu lain, termasuk teknik dan kedokteran.

Dalam kesempatan itu, Wagub berharap para wisudawan tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur'an, tetapi juga mampu menjaga kemuliaan Al-Qur'an melalui bacaan, pemahaman, serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap, pendidikan yang diperoleh para santri di Pondok Pesantren Sabilul Huda menjadi ilmu yang berkah dan membawa manfaat bagi masyarakat.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu