Follow Us :              

Diresmikan, Bojonegoro-Blora Kini Punya Jembatan Penghubung

  03 January 2021  |   10:00:00  |   dibaca : 904 
Kategori :
Bagikan :


Diresmikan, Bojonegoro-Blora Kini Punya Jembatan Penghubung

03 January 2021 | 10:00:00 | dibaca : 904
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BLORA - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bersama Mensesneg Pratikno, Menhub Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki meresmikan jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) pada Sabtu (3/1/2021).

Jembatan TBB itu dibangun bulan Juni 2020 dengan panjang 1.100 meter dan lebar 9 meter untuk menghubungkan wilayah Bojonegoro, tepatnya di Desa Luwih Haji, Kecamatan Ngraho dengan Kabupaten Blora tepatnya di Desa Medalem, Kecamatan Kradenan. Pembangunan jembatan itu menghabiskan anggaran sekitar Rp97,5 miliar atas kerja sama antara Pemkab Blora dan Bojonegoro.

"Ini jembatan yang sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten ini, yakni Blora dan Bojonegoro. Hari ini sudah jadi, mudah-mudahan yang beresiko tinggi karena nyeberangnya pakai getek, pakai perahu, besok bisa lewat jembatan ini," kata Ganjar.

Di lain sisi, Mensesneg Pratikno juga mengapresiasi kerj asama yang baik antara dua wilayah, baik Kabupaten maupun Provinsi atas terbangunnya jembatan itu. Hal itu menegaskan, bahwa pelayanan masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama.

"Jembatan ini menghubungkan masyarakat dua Kabupaten dan dua Provinsi. Kami sangat mengapresiasi hal ini, dan inisiatif ini perlu dikembangkan pada daerah lain," katanya.

Pratikno berharap Jembatan TBB dapat mendongkrak pembangunan ekonomi kawasan antara Jateng dan Jatim. Sebab, konektivitas dua daerah sudah tersambung dengan baik.

"Ditambah tadi di Ngloram ada bandara yang bisa menghubungkan daerah-daerah ini dengan daerah lain . Mudah-mudahan akhir tahun bandara Ngloram bisa beroperasi dan bisa mengakselerasi pembangunan ekonomi di kawasan ini," tutupnya.

Disambut Suka Cita Warga

Disisi lain, warga turut bersuka cita dengan diresmikannya Jembatan TBB. Bagaimana tidak, selama ini akses satu-satunya warga untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo yang dalam dan alirannya deras itu adalah menggunakan perahu. 

Siti Halimah (60) bercerita setiap menyeberang dirinya selalu was-was karena angkutan itu memang tidak menjamin keamanan warga.

"Alhamdulillah seneng, saiki nek lewat mpun gampil (sekarang kalau menyeberang sudah mudah). Biasane nyabrang kali nganggo prau (biasanya menyeberang sungai pakai perahu), nggeh wedhi (ya takut)," katanya.

Mbah Siti mengatakan pernah melihat perahu yang digunakan untuk akses angkutan warga menyeberang itu tenggelam. Meski tak ada korban jiwa, namun kenangan itu membuatnya selalu ketakutan.

" Sakniki mpun penak, mboten wedhi (sekarang sudah mudah, tidak takut lagi). Sakniki medal bruk mawon (sekarang lewat jembatan saja). Matur nuwun, seneng banget kalih pemerintah (terima kasih banyak, senang sekali dengan pemerintah," jelasnya.

Hal senada disampaikan Tamhadi (60). Ia mengatakan, sejak kakeknya dulu, warga memanfaatkan penyeberangan dengan perahu apabila hendak ke Bojonegoro atau ke Blora.

"Karena kalau lewat jembatan jauh, harus memutar. Jadi warga memilih naik perahu. Saya mengalami sejak kecil, ketika ongkosnya masih 500, sekarang sudah 2000," katanya.


Bagikan :

BLORA - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bersama Mensesneg Pratikno, Menhub Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki meresmikan jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) pada Sabtu (3/1/2021).

Jembatan TBB itu dibangun bulan Juni 2020 dengan panjang 1.100 meter dan lebar 9 meter untuk menghubungkan wilayah Bojonegoro, tepatnya di Desa Luwih Haji, Kecamatan Ngraho dengan Kabupaten Blora tepatnya di Desa Medalem, Kecamatan Kradenan. Pembangunan jembatan itu menghabiskan anggaran sekitar Rp97,5 miliar atas kerja sama antara Pemkab Blora dan Bojonegoro.

"Ini jembatan yang sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten ini, yakni Blora dan Bojonegoro. Hari ini sudah jadi, mudah-mudahan yang beresiko tinggi karena nyeberangnya pakai getek, pakai perahu, besok bisa lewat jembatan ini," kata Ganjar.

Di lain sisi, Mensesneg Pratikno juga mengapresiasi kerj asama yang baik antara dua wilayah, baik Kabupaten maupun Provinsi atas terbangunnya jembatan itu. Hal itu menegaskan, bahwa pelayanan masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama.

"Jembatan ini menghubungkan masyarakat dua Kabupaten dan dua Provinsi. Kami sangat mengapresiasi hal ini, dan inisiatif ini perlu dikembangkan pada daerah lain," katanya.

Pratikno berharap Jembatan TBB dapat mendongkrak pembangunan ekonomi kawasan antara Jateng dan Jatim. Sebab, konektivitas dua daerah sudah tersambung dengan baik.

"Ditambah tadi di Ngloram ada bandara yang bisa menghubungkan daerah-daerah ini dengan daerah lain . Mudah-mudahan akhir tahun bandara Ngloram bisa beroperasi dan bisa mengakselerasi pembangunan ekonomi di kawasan ini," tutupnya.

Disambut Suka Cita Warga

Disisi lain, warga turut bersuka cita dengan diresmikannya Jembatan TBB. Bagaimana tidak, selama ini akses satu-satunya warga untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo yang dalam dan alirannya deras itu adalah menggunakan perahu. 

Siti Halimah (60) bercerita setiap menyeberang dirinya selalu was-was karena angkutan itu memang tidak menjamin keamanan warga.

"Alhamdulillah seneng, saiki nek lewat mpun gampil (sekarang kalau menyeberang sudah mudah). Biasane nyabrang kali nganggo prau (biasanya menyeberang sungai pakai perahu), nggeh wedhi (ya takut)," katanya.

Mbah Siti mengatakan pernah melihat perahu yang digunakan untuk akses angkutan warga menyeberang itu tenggelam. Meski tak ada korban jiwa, namun kenangan itu membuatnya selalu ketakutan.

" Sakniki mpun penak, mboten wedhi (sekarang sudah mudah, tidak takut lagi). Sakniki medal bruk mawon (sekarang lewat jembatan saja). Matur nuwun, seneng banget kalih pemerintah (terima kasih banyak, senang sekali dengan pemerintah," jelasnya.

Hal senada disampaikan Tamhadi (60). Ia mengatakan, sejak kakeknya dulu, warga memanfaatkan penyeberangan dengan perahu apabila hendak ke Bojonegoro atau ke Blora.

"Karena kalau lewat jembatan jauh, harus memutar. Jadi warga memilih naik perahu. Saya mengalami sejak kecil, ketika ongkosnya masih 500, sekarang sudah 2000," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu