Follow Us :              

Cegah Lonjakan Covid-19, Ganjar Minta Santri Tahan Diri Untuk Tidak Mudik

  24 April 2021  |   17:00:00  |   dibaca : 981 
Kategori :
Bagikan :


Cegah Lonjakan Covid-19, Ganjar Minta Santri Tahan Diri Untuk Tidak Mudik

24 April 2021 | 17:00:00 | dibaca : 981
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau para santri agar menahan diri untuk tidak mudik saat lebaran 2021 nanti. Ia meminta para santri turut menjadi bagian dari pengawal tren baik penanganan COVID-19 saat ini. 

Harapan itu disampaikan Ganjar, saat gowes jelang waktu berbuka puasa ke Yayasan Sosial dan Panti Asuhan At-Taqwa, Dukuh Genting, Meteseh, Tembalang, Semarang, Sabtu (24/4/21). 

"Nggak boleh (mudik)," ujar Ganjar di hadapan para santri At-Taqwa. 

Ganjar menjelaskan, aturan larangan mudik merupakan bagian dari upaya pencegahan. Pasalnya, saat mudik akan menimbulkan keramaian. Di sisi lain, muncul kekhawatiran adanya protokol kesehatan yang diabaikan. 

"Jadi begini, kenapa kok tidak boleh mudik, karena kalau mudik itu rombongan. Kalau rombongan banyak sekali, nanti ada potensi ketularan," jelas Ganjar. 

Ia lantas bertanya pada pengasuh apakah ada fasilitas televisi dan internet untuk mengakses berita. Ganjar meminta agar para santri mencari berita tentang kondisi terkini di India. 

Seperti banyak diberitakan, India sedang mengalami puncak pandemi. Begitu dasyatnya jumlah korban, hingga banyak negara tidak memberikan ijin visa bagi siapapun dari negara ini. Keputusan itu ditempuh ketika India mencatat kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia, mencapai 332.000, di tengah gelombang kedua yang menyebabkan fasiltias kesehatan kewalahan. 

Sejauh ini, India mencatat kasus total melampaui 16 juta, kedua tertinggi di dunia dari Amerika Serikat dengan total mendekati 32 juta. 

India juga mencatat angka kematian harian tertinggi dalam 24 jam ini dengan lebih 2.200 orang meninggal dunia. Adapun total kematian mencapai 186.920 orang. 

"Kemarin itu India hanya butuh waktu 15 hari, yang ketularan banyak sekali. Mohon maaf, yang meninggal banyak sekali," ucap Ganjar. 

Kasus Covid-19 di India diambil Ganjar sebagai contoh, agar para santri bisa mengerti betapa berbahayanya penyebaran virus Covid-19, sehingga mereka mau menahan diri untuk tidak mudik. 

"Maka sebaiknya kita tahan dulu, nggak usah mudik, terus kemudian cukup kasih salam-salam saja. Pak gubernur juga nggak mudik kok," tutur Ganjar. 

Lebih lanjut, Ganjar menyempatkan diri menyapa dan berbincang akrab dengan anak-anak di Panti Asuhan At-Taqwa. Beberapa santri memperkenalkan diri. Ternyata santri penghuni panti itu ada juga yang berasal dari luar provinsi, bahkan luar pulau. Ada yang mengaku berasal dari Ngawi, Palembang, bahkan Medan. Kepada mereka, Ganjar meminta agar menunda mudik dan  menyarankan untuk menyapa keluarganya secara online dengan video call

"Kamu Ngawi? Kamu videocall. Ndakpapa kan kalau nggak pulang kan koncone ya okeh neng kene to, (Tidak pulang tidak apa-apa kan. Karena di sini juga banyak temannya) salat Ied di sini bareng-bareng, Medan nggak usah pulang," sarannya. 

"Jadi nggak usah pulang ya, tetep jaga protokol kesehatan. Jaga jaraknya," tandas Ganjar. 

Marlina Sintya Bella, salah seorang santriwati dari Palembang mengaku sedih karena tidak bisa mudik saat lebaran 2021 nanti. Tapi, dirinya menyadari pentingnya menahan diri untuk menekan angka penyebaran COVID-19 saat ini, Ia pun memilih legawa dan akan mengobati kerinduan pada kampung halamannya dengan menelepon keluarganya. 

"Sedih, tapi nanti videocall," ujarnya.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau para santri agar menahan diri untuk tidak mudik saat lebaran 2021 nanti. Ia meminta para santri turut menjadi bagian dari pengawal tren baik penanganan COVID-19 saat ini. 

Harapan itu disampaikan Ganjar, saat gowes jelang waktu berbuka puasa ke Yayasan Sosial dan Panti Asuhan At-Taqwa, Dukuh Genting, Meteseh, Tembalang, Semarang, Sabtu (24/4/21). 

"Nggak boleh (mudik)," ujar Ganjar di hadapan para santri At-Taqwa. 

Ganjar menjelaskan, aturan larangan mudik merupakan bagian dari upaya pencegahan. Pasalnya, saat mudik akan menimbulkan keramaian. Di sisi lain, muncul kekhawatiran adanya protokol kesehatan yang diabaikan. 

"Jadi begini, kenapa kok tidak boleh mudik, karena kalau mudik itu rombongan. Kalau rombongan banyak sekali, nanti ada potensi ketularan," jelas Ganjar. 

Ia lantas bertanya pada pengasuh apakah ada fasilitas televisi dan internet untuk mengakses berita. Ganjar meminta agar para santri mencari berita tentang kondisi terkini di India. 

Seperti banyak diberitakan, India sedang mengalami puncak pandemi. Begitu dasyatnya jumlah korban, hingga banyak negara tidak memberikan ijin visa bagi siapapun dari negara ini. Keputusan itu ditempuh ketika India mencatat kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia, mencapai 332.000, di tengah gelombang kedua yang menyebabkan fasiltias kesehatan kewalahan. 

Sejauh ini, India mencatat kasus total melampaui 16 juta, kedua tertinggi di dunia dari Amerika Serikat dengan total mendekati 32 juta. 

India juga mencatat angka kematian harian tertinggi dalam 24 jam ini dengan lebih 2.200 orang meninggal dunia. Adapun total kematian mencapai 186.920 orang. 

"Kemarin itu India hanya butuh waktu 15 hari, yang ketularan banyak sekali. Mohon maaf, yang meninggal banyak sekali," ucap Ganjar. 

Kasus Covid-19 di India diambil Ganjar sebagai contoh, agar para santri bisa mengerti betapa berbahayanya penyebaran virus Covid-19, sehingga mereka mau menahan diri untuk tidak mudik. 

"Maka sebaiknya kita tahan dulu, nggak usah mudik, terus kemudian cukup kasih salam-salam saja. Pak gubernur juga nggak mudik kok," tutur Ganjar. 

Lebih lanjut, Ganjar menyempatkan diri menyapa dan berbincang akrab dengan anak-anak di Panti Asuhan At-Taqwa. Beberapa santri memperkenalkan diri. Ternyata santri penghuni panti itu ada juga yang berasal dari luar provinsi, bahkan luar pulau. Ada yang mengaku berasal dari Ngawi, Palembang, bahkan Medan. Kepada mereka, Ganjar meminta agar menunda mudik dan  menyarankan untuk menyapa keluarganya secara online dengan video call

"Kamu Ngawi? Kamu videocall. Ndakpapa kan kalau nggak pulang kan koncone ya okeh neng kene to, (Tidak pulang tidak apa-apa kan. Karena di sini juga banyak temannya) salat Ied di sini bareng-bareng, Medan nggak usah pulang," sarannya. 

"Jadi nggak usah pulang ya, tetep jaga protokol kesehatan. Jaga jaraknya," tandas Ganjar. 

Marlina Sintya Bella, salah seorang santriwati dari Palembang mengaku sedih karena tidak bisa mudik saat lebaran 2021 nanti. Tapi, dirinya menyadari pentingnya menahan diri untuk menekan angka penyebaran COVID-19 saat ini, Ia pun memilih legawa dan akan mengobati kerinduan pada kampung halamannya dengan menelepon keluarganya. 

"Sedih, tapi nanti videocall," ujarnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu