Follow Us :              

Pilih Upacara Kemerdekaan Memakai Hazmat, Bentuk Empati Ganjar Pada Nakes

  17 August 2021  |   08:00:00  |   dibaca : 300 
Kategori :
Bagikan :


Pilih Upacara Kemerdekaan Memakai Hazmat, Bentuk Empati Ganjar Pada Nakes

17 August 2021 | 08:00:00 | dibaca : 300
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BOYOLALI - Momentum upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 yang digelar di halaman Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Asrama Haji Donohudan Boyolali Selasa (17/8/2021) menjadi kejutan tersendiri bagi para petugas pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Meski memiliki kesulitan tinggi, bagi mereka ini justru sangat berkesan. 

Hal ini diungkapkan Enrica, salah satu dari tiga pasukan Paskibraka yang bertugas. Ia mengaku tidak pernah menyangka, tugas yang diembannya itu begitu berat dan membuatnya kesusahan. 

Selain bertanggung jawab dan memastikan merah putih berkibar, ia harus melawan panas dan beratnya pakaian hazmat yang ia kenakan. 

Saat mendaftar menjadi Paskibraka tingkat provinsi, ia tak pernah menyangka akan tugas di RSDC Donohudan. Bahkan dua hari sebelumnya, ia masih tahu bahwa tugasnya nanti di halaman kantor Gubernur Jateng di Semarang. 

Tapi ternyata, tugasnya dipindah ke RSDC Donohudan. Karena upacara bersama ratusan pasien Covid-19, ia terpaksa menggunakan hazmat demi protokol kesehatan. 

"Tapi dengan ini, saya jadi tahu bagaimana beratnya perjuangan tenaga medis kita. Mereka berjuang susah payah melawan Covid-19. Mereka menggunakan hazmat seperti ini tiap hari. Saya yang sebentar saja terasa kepanasan," kesan siswa SMA asal Purworejo ini. 

Serupa dengan Enrica, Ahmad Iskandar, pengibar bendera merah putih lainnya juga tidak membayangkan akan bertugas mengibarkan bendera menggunakan pakaian hazmat. 

Selain panas dan sumpek karena mengenakan hazmat, sarung tangan yang digunakan juga licin dan bisa saja menghambat prosesi pengibaran. 

"Tantangannya ya itu, jalan susah dan sarung tangan ini licin. Kemungkinan talinya bisa terlepas. Tapi alhamdulillah lancar," ucapnya. 

Selain para petugas upacara, sesuai protokol kesehatan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo selaku inspektur juga mengenakan pakaian hazmat yang sama. Seperti Enrica dan teman-temannya, Ganjar juga merasakan hal yang sama. Meski begitu ia mengaku memang ingin bisa merasakan apa yang dirasakan para nakes di hari-hari mereka bergelut membantu pasien melawan Covid-19. 

"Sesuatu yang ingin saya rasakan sendiri, tegas Ganjar. 

Dari pengalaman ini, Ganjar, Enrica dan teman-teman sesama Paskibraka hari makin menyadari betapa berat tugas nakes menghadapi pandemi. 

Mereka berharap semua orang mentaati prokes, agar pandemi segera berlalu dan nakes tidak perlu memakai hazmat lagi.


Bagikan :

BOYOLALI - Momentum upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 yang digelar di halaman Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Asrama Haji Donohudan Boyolali Selasa (17/8/2021) menjadi kejutan tersendiri bagi para petugas pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Meski memiliki kesulitan tinggi, bagi mereka ini justru sangat berkesan. 

Hal ini diungkapkan Enrica, salah satu dari tiga pasukan Paskibraka yang bertugas. Ia mengaku tidak pernah menyangka, tugas yang diembannya itu begitu berat dan membuatnya kesusahan. 

Selain bertanggung jawab dan memastikan merah putih berkibar, ia harus melawan panas dan beratnya pakaian hazmat yang ia kenakan. 

Saat mendaftar menjadi Paskibraka tingkat provinsi, ia tak pernah menyangka akan tugas di RSDC Donohudan. Bahkan dua hari sebelumnya, ia masih tahu bahwa tugasnya nanti di halaman kantor Gubernur Jateng di Semarang. 

Tapi ternyata, tugasnya dipindah ke RSDC Donohudan. Karena upacara bersama ratusan pasien Covid-19, ia terpaksa menggunakan hazmat demi protokol kesehatan. 

"Tapi dengan ini, saya jadi tahu bagaimana beratnya perjuangan tenaga medis kita. Mereka berjuang susah payah melawan Covid-19. Mereka menggunakan hazmat seperti ini tiap hari. Saya yang sebentar saja terasa kepanasan," kesan siswa SMA asal Purworejo ini. 

Serupa dengan Enrica, Ahmad Iskandar, pengibar bendera merah putih lainnya juga tidak membayangkan akan bertugas mengibarkan bendera menggunakan pakaian hazmat. 

Selain panas dan sumpek karena mengenakan hazmat, sarung tangan yang digunakan juga licin dan bisa saja menghambat prosesi pengibaran. 

"Tantangannya ya itu, jalan susah dan sarung tangan ini licin. Kemungkinan talinya bisa terlepas. Tapi alhamdulillah lancar," ucapnya. 

Selain para petugas upacara, sesuai protokol kesehatan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo selaku inspektur juga mengenakan pakaian hazmat yang sama. Seperti Enrica dan teman-temannya, Ganjar juga merasakan hal yang sama. Meski begitu ia mengaku memang ingin bisa merasakan apa yang dirasakan para nakes di hari-hari mereka bergelut membantu pasien melawan Covid-19. 

"Sesuatu yang ingin saya rasakan sendiri, tegas Ganjar. 

Dari pengalaman ini, Ganjar, Enrica dan teman-teman sesama Paskibraka hari makin menyadari betapa berat tugas nakes menghadapi pandemi. 

Mereka berharap semua orang mentaati prokes, agar pandemi segera berlalu dan nakes tidak perlu memakai hazmat lagi.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu