Follow Us :              

Gerakan Mageri Segara, Ganjar Ajak Semua Pihak Tanam Mangrove

  12 October 2021  |   08:00:00  |   dibaca : 157 
Kategori :
Bagikan :


Gerakan Mageri Segara, Ganjar Ajak Semua Pihak Tanam Mangrove

12 October 2021 | 08:00:00 | dibaca : 157
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

DEMAK - Bersama Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Rudianto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut menyatakan komitmen untuk melindungi kelestarian laut. Lewat gerakan mageri segara mereka sepakat untuk menyelamatkan bumi, dan kemanusiaan dengan menjaga pantai dari abrasi. 

Acara yang digelar di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Selasa (12/10/2021) itu diikuti Forkopimda Jawa Tengah.
Mageri Segara merupakan gerakan menanam satu juta mangrove di daerah pantai di Jawa Tengah.  

"Kemarin mendampingi Presiden, trigger-nya luar biasa. Jateng menyambut cepat dan justru yang memulai dari Polda. Kita tinggal back up dan gaspol. Ini upaya kita, tidak hanya 'mageri segara' tetapi juga menyelamatkan bumi dan kemanusiaan," tegas Ganjar. 

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan kegiatan 'Mageri Segara' itu dilakukan serentak di 16 Polres dan Polresta di Jawa Tengah, khususnya di wilayahnya yang memiliki pantai dan sungai. Misal sepanjang daerah di Pantura Jawa Tengah dan daerah di pantai Selatan. 

"Tiap lokasi kita tanam 10 ribu. Kegiatan ini juga untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, jadi selain tanam mangrove kita juga panen kerang dari binaan Polairud. Kami juga berikan bantuan sosial dan vaksinasi kepada warga. Ini hanya trigger awal saja, nanti akan diteruskan," katanya. 

Ganjar menuturkan, sebelum datang ke lokasi penanaman mangrove, ia sempat berkeliling di Desa Bedono sampai di Pantai Morosari. Di pantai itu ia bertemu dengan seorang ibu yang mengaku sudah puluhan tahun berjualan di tempat itu. Menurutnya kondisi pantai sudah sangat berubah. Ia mengenang, dulu pantai itu merupakan dataran pasir putih yang indah. Karena abrasi, pantai pasir putih itu sekarang sudah tenggelam. 

"Ibu itu menunjukkan ada makam di ujung. Katanya dari makam sampai sini (tempat berjualan) dulu itu daratan dengan pasir putih. Hari ini sudah tidak ada. Lalu ia bercerita bagaimana survive (kehidupan) sebagai orang pesisir pantai (saat itu) dengan penghasilan yang cukup besar dari laut," ujarnya. 

Menurur Ganjar, cerita ibu tadi menguatkan bukti bagaimana penurunan permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan menjadi tatangan terberat mengelolaan wilayah pesisir. Dampaknya bukan hanya merusak lingkungan alam tetapi juga kesejahteraan masyarakatnya. 

"Lalu soal tata ruang, kalau bisa dikontrol dengan baik maka bisa dikendalikan. Suka tidak suka kita harus menanam. Tidak hanya memagari laut tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi ekosistem laut." 

Agar pantai terselamatkan, Ganjar mengajak semua pihak giat menanam mangrove. Ia meyakinkan jenis tanaman ini tidak sulit ditanam. "Nggak perlu cuaca, tinggal memetakan tempatnya dengan menghitung besarnya gelombang air laut," jelasnya.


Bagikan :

DEMAK - Bersama Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Rudianto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut menyatakan komitmen untuk melindungi kelestarian laut. Lewat gerakan mageri segara mereka sepakat untuk menyelamatkan bumi, dan kemanusiaan dengan menjaga pantai dari abrasi. 

Acara yang digelar di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Selasa (12/10/2021) itu diikuti Forkopimda Jawa Tengah.
Mageri Segara merupakan gerakan menanam satu juta mangrove di daerah pantai di Jawa Tengah.  

"Kemarin mendampingi Presiden, trigger-nya luar biasa. Jateng menyambut cepat dan justru yang memulai dari Polda. Kita tinggal back up dan gaspol. Ini upaya kita, tidak hanya 'mageri segara' tetapi juga menyelamatkan bumi dan kemanusiaan," tegas Ganjar. 

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan kegiatan 'Mageri Segara' itu dilakukan serentak di 16 Polres dan Polresta di Jawa Tengah, khususnya di wilayahnya yang memiliki pantai dan sungai. Misal sepanjang daerah di Pantura Jawa Tengah dan daerah di pantai Selatan. 

"Tiap lokasi kita tanam 10 ribu. Kegiatan ini juga untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, jadi selain tanam mangrove kita juga panen kerang dari binaan Polairud. Kami juga berikan bantuan sosial dan vaksinasi kepada warga. Ini hanya trigger awal saja, nanti akan diteruskan," katanya. 

Ganjar menuturkan, sebelum datang ke lokasi penanaman mangrove, ia sempat berkeliling di Desa Bedono sampai di Pantai Morosari. Di pantai itu ia bertemu dengan seorang ibu yang mengaku sudah puluhan tahun berjualan di tempat itu. Menurutnya kondisi pantai sudah sangat berubah. Ia mengenang, dulu pantai itu merupakan dataran pasir putih yang indah. Karena abrasi, pantai pasir putih itu sekarang sudah tenggelam. 

"Ibu itu menunjukkan ada makam di ujung. Katanya dari makam sampai sini (tempat berjualan) dulu itu daratan dengan pasir putih. Hari ini sudah tidak ada. Lalu ia bercerita bagaimana survive (kehidupan) sebagai orang pesisir pantai (saat itu) dengan penghasilan yang cukup besar dari laut," ujarnya. 

Menurur Ganjar, cerita ibu tadi menguatkan bukti bagaimana penurunan permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan menjadi tatangan terberat mengelolaan wilayah pesisir. Dampaknya bukan hanya merusak lingkungan alam tetapi juga kesejahteraan masyarakatnya. 

"Lalu soal tata ruang, kalau bisa dikontrol dengan baik maka bisa dikendalikan. Suka tidak suka kita harus menanam. Tidak hanya memagari laut tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi ekosistem laut." 

Agar pantai terselamatkan, Ganjar mengajak semua pihak giat menanam mangrove. Ia meyakinkan jenis tanaman ini tidak sulit ditanam. "Nggak perlu cuaca, tinggal memetakan tempatnya dengan menghitung besarnya gelombang air laut," jelasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu