Follow Us :              

Terinspirasi Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, Buatan Ganjar, BKKBN Luncurkan Program Elmisil

  29 December 2021  |   10:00:00  |   dibaca : 447 
Kategori :
Bagikan :


Terinspirasi Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, Buatan Ganjar, BKKBN Luncurkan Program Elmisil

29 December 2021 | 10:00:00 | dibaca : 447
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BOYOLALI - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung aplikasi elektronik siap nikah dan hamil (Elmisil) yang digagas oleh BKKBN RI. Sejalan dengan program "Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng," salah satu tujuan dari aplikasi ini adalah pencegahan stunting. 

Hal itu disampaikan Gubernur usai menghadiri Peluncuran Pendampingan, Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Dalam 3 Bulan Pranikah Sebagai Upaya Pencegahan Stunting dari Hulu Kepada Calon Pengantin, di Pendopo Gede Boyolali, Rabu (29/12). 

“BKKBN mempunyai program bagus, tiga bulan sebelum mereka (pasangan) menikah diperiksa, wabil khusus calon pengantin putri,” kata Ganjar. 

Pemeriksaan dalam program ini mencakup kadar Hemoglobin, lingkar lengan hingga tinggi badan serta kesehatan secara menyeluruh dari calon pengantin (catin) putri. 

Sementara untuk catin putra, pemeriksaan melingkupi beberapa aspek kesehatan, salah satu yang jadi fokus adalah kebiasaan merokok. 

“Yang merokok, ya kalau bisa berhenti merokoknya paling tidak tiga bulan, sehingga nanti pada saat berproses (reproduksi) mereka semuanya (sehat). Insyaallah bayinya (juga) akan sehat,” ujarnya. 

Pada acara tersebut Gubernur juga sempat berdialog dengan sejumlah pasangan yang sedang ikut dalam program tersebut. Beberapa di antara mereka, akan melangsungkan pernikahan pada tahun 2022. 

“Ada juga yang sudah terlanjur, minggu depan sudah mau menikah. Ya tidak apa-apa, tetap kita periksa karena ini baru kita mulai,” ujarnya. 

Gubernur berharap dengan program dan aplikasi ini pemerintah bisa melakukan lebih banyak intervensi guna pengendalian stunting. Termasuk, edukasi untuk tidak menikah di usia muda karena menurutnya ketidaksiapan mental calon pengantin menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. 

“Program dari BKKBN ini menurut saya bagus, kalau itu bisa kita deteksi sejak awal maka insyaallah pengendalian stunting kita akan bagus,” tandasnya. 

Sigit dan Ninda, pasangan yang juga mengikuti acara tersebut mengaku senang dan dengan adanya program Elmisil ini. Pasangan asal Boyolali yang akan menikah Januari 2022 itu mengaku merasa lebih tenang karena mendapat perhatian. 

“Senang ya, jadi kita tidak asal menikah. Jadi persiapan kita untuk menikah lebih siap dari segi mental dan kesiapan diri juga,” ungkap Ninda. 

Sementar itu, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam sambutannya mengapresiasi prestasi Jawa Tengah sebagai provinsi dengan angka stunting paling rendah di antara provinsi-provinsi besar di Indonesia. 

“Ini berkat program "Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng" yang mestinya dilakukan oleh kami. Maka Jateng sudah menginspirasi BKKBN dan Jateng adalah provinsi besar dengan angka terendah stuntingnya,” pujinya.


Bagikan :

BOYOLALI - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung aplikasi elektronik siap nikah dan hamil (Elmisil) yang digagas oleh BKKBN RI. Sejalan dengan program "Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng," salah satu tujuan dari aplikasi ini adalah pencegahan stunting. 

Hal itu disampaikan Gubernur usai menghadiri Peluncuran Pendampingan, Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Dalam 3 Bulan Pranikah Sebagai Upaya Pencegahan Stunting dari Hulu Kepada Calon Pengantin, di Pendopo Gede Boyolali, Rabu (29/12). 

“BKKBN mempunyai program bagus, tiga bulan sebelum mereka (pasangan) menikah diperiksa, wabil khusus calon pengantin putri,” kata Ganjar. 

Pemeriksaan dalam program ini mencakup kadar Hemoglobin, lingkar lengan hingga tinggi badan serta kesehatan secara menyeluruh dari calon pengantin (catin) putri. 

Sementara untuk catin putra, pemeriksaan melingkupi beberapa aspek kesehatan, salah satu yang jadi fokus adalah kebiasaan merokok. 

“Yang merokok, ya kalau bisa berhenti merokoknya paling tidak tiga bulan, sehingga nanti pada saat berproses (reproduksi) mereka semuanya (sehat). Insyaallah bayinya (juga) akan sehat,” ujarnya. 

Pada acara tersebut Gubernur juga sempat berdialog dengan sejumlah pasangan yang sedang ikut dalam program tersebut. Beberapa di antara mereka, akan melangsungkan pernikahan pada tahun 2022. 

“Ada juga yang sudah terlanjur, minggu depan sudah mau menikah. Ya tidak apa-apa, tetap kita periksa karena ini baru kita mulai,” ujarnya. 

Gubernur berharap dengan program dan aplikasi ini pemerintah bisa melakukan lebih banyak intervensi guna pengendalian stunting. Termasuk, edukasi untuk tidak menikah di usia muda karena menurutnya ketidaksiapan mental calon pengantin menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. 

“Program dari BKKBN ini menurut saya bagus, kalau itu bisa kita deteksi sejak awal maka insyaallah pengendalian stunting kita akan bagus,” tandasnya. 

Sigit dan Ninda, pasangan yang juga mengikuti acara tersebut mengaku senang dan dengan adanya program Elmisil ini. Pasangan asal Boyolali yang akan menikah Januari 2022 itu mengaku merasa lebih tenang karena mendapat perhatian. 

“Senang ya, jadi kita tidak asal menikah. Jadi persiapan kita untuk menikah lebih siap dari segi mental dan kesiapan diri juga,” ungkap Ninda. 

Sementar itu, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam sambutannya mengapresiasi prestasi Jawa Tengah sebagai provinsi dengan angka stunting paling rendah di antara provinsi-provinsi besar di Indonesia. 

“Ini berkat program "Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng" yang mestinya dilakukan oleh kami. Maka Jateng sudah menginspirasi BKKBN dan Jateng adalah provinsi besar dengan angka terendah stuntingnya,” pujinya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu