Follow Us :              

Unicef Nilai Jateng Sigap Lindungi Masa Depan Anak-Anak dari Para Pasien Covid yang Meninggal Dunia

  11 March 2022  |   09:00:00  |   dibaca : 771 
Kategori :
Bagikan :


Unicef Nilai Jateng Sigap Lindungi Masa Depan Anak-Anak dari Para Pasien Covid yang Meninggal Dunia

11 March 2022 | 09:00:00 | dibaca : 771
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan asesmen bagi anak-anak yang orang tuanya meninggal akibat terpapar Covid-19. Asesmen telah selesai dilakukan di 24 daerah di Jawa Tengah, dengan total jumlah anak sebanyak 7.967 orang. 

Usai menemui Unicef dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Jumat (11/03/2022) Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menuturkan, dari asesmen yang dilakukan, pemerintah dapat mengetahui kondisi anak dan pengasuhnya. Di samping itu, diperoleh juga informasi mengenai kebutuhan yang masih diperlukan anak-anak ini. 

Wagub mengatakan, dari hasil asesmen ditemukan layanan bidang pendidikan masih diperlukan. Masih terdapat anak putus sekolah, anak usia sekolah yang belum bersekolah. Mereka membutuhkan kemudahan akses melanjutkan pendidikan dan dukungan keberlanjutan pendidikan. 

"Tadi dicatat, masih banyak anak-anak ini yang ternyata bukan hanya putus sekolah saja, tapi memang tidak sekolah. Dan itu ada di usia 12 tahun. Artinya usia 12 tahun seharusnya dia mengenyam pendidikan. Dan ada juga catatan kami terkait pengasuhan orang tua atau wali yang saat ini mengasuh," tuturnya di Kantor Gubernur 

Anak-anak yang sekarang diasuh oleh saudara kandung, nenek/ kakek, kerabat atau tetangganya, kata Wagub, ada yang tidak mampu mengasuh karena beberapa faktor. Di antaranya karena tidak bekerja, atau memiliki tanggungan di keluarganya. 

"Mereka keberatan, misal karena masih belum punya pekerjaan. Mungkin juga pamannya memiliki putra-putra, sehingga belum tentu mereka bisa menyekolahkan sampai ke jenjang (minimal) SMA," ungkapnya. 

Di samping dua kebutuhan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengidentifikasi perlu adanya pemenuhan layanan kesehatan untuk memantau kesehatan anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak balita, dan anak yang punya riwayat penyakit tertentu. Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov Jawa Tengah yang harus diselesaikan dengan merangkul para mengampu layanan sesuai dengan kebutuhan anak. 

"Kita melibatkan seluruh OPD melalui bidang-bidang terkait untuk menanggulangi bagaimana kelanjutan anak-anak yatim piatu ini," ujarnya. 

Upaya keras Pemprov Jawa Tengah yang mendata anak yang orang tuanya meninggal karena Covid-19, mendapat apresiasi dari UNICEF. Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa, Arie Rukmantara menilai Jawa Tengah agresif dalam menyelamatkan masa depan anak-anak korban pandemi. 

"Kami mengucapkan terima kasih atas semua kerja keras yang dilakukan Jawa Tengah (dengan) data-data ini, karena ini pertama kali yang menginisiasi, yang punya ide, yang punya tindakan sangat agresif menyelamatkan anak-anak di masa pandemi Covid-19," katanya. 

Upaya yang dilakukan Jawa Tengah, setidaknya memberikan tiga manfaat. Manfaat pertama adalah menunjukkan bahwa negara hadir di tengah anak-anak yang sedang bingung karena ditinggalkan orang tuanya. Manfaat berikutnya yaitu memberikan pesan bahwa ada pihak yang peduli dengan nasib mereka. Manfaat ketiga bersifat jangka panjang. Sebab, perhatian pemerintah yang menyelamatkan anak-anak korban Covid-19 hari ini, akan menjadikan mereka sumber pengetahuan di masa mendatang.


Bagikan :

SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan asesmen bagi anak-anak yang orang tuanya meninggal akibat terpapar Covid-19. Asesmen telah selesai dilakukan di 24 daerah di Jawa Tengah, dengan total jumlah anak sebanyak 7.967 orang. 

Usai menemui Unicef dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Jumat (11/03/2022) Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menuturkan, dari asesmen yang dilakukan, pemerintah dapat mengetahui kondisi anak dan pengasuhnya. Di samping itu, diperoleh juga informasi mengenai kebutuhan yang masih diperlukan anak-anak ini. 

Wagub mengatakan, dari hasil asesmen ditemukan layanan bidang pendidikan masih diperlukan. Masih terdapat anak putus sekolah, anak usia sekolah yang belum bersekolah. Mereka membutuhkan kemudahan akses melanjutkan pendidikan dan dukungan keberlanjutan pendidikan. 

"Tadi dicatat, masih banyak anak-anak ini yang ternyata bukan hanya putus sekolah saja, tapi memang tidak sekolah. Dan itu ada di usia 12 tahun. Artinya usia 12 tahun seharusnya dia mengenyam pendidikan. Dan ada juga catatan kami terkait pengasuhan orang tua atau wali yang saat ini mengasuh," tuturnya di Kantor Gubernur 

Anak-anak yang sekarang diasuh oleh saudara kandung, nenek/ kakek, kerabat atau tetangganya, kata Wagub, ada yang tidak mampu mengasuh karena beberapa faktor. Di antaranya karena tidak bekerja, atau memiliki tanggungan di keluarganya. 

"Mereka keberatan, misal karena masih belum punya pekerjaan. Mungkin juga pamannya memiliki putra-putra, sehingga belum tentu mereka bisa menyekolahkan sampai ke jenjang (minimal) SMA," ungkapnya. 

Di samping dua kebutuhan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengidentifikasi perlu adanya pemenuhan layanan kesehatan untuk memantau kesehatan anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak balita, dan anak yang punya riwayat penyakit tertentu. Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov Jawa Tengah yang harus diselesaikan dengan merangkul para mengampu layanan sesuai dengan kebutuhan anak. 

"Kita melibatkan seluruh OPD melalui bidang-bidang terkait untuk menanggulangi bagaimana kelanjutan anak-anak yatim piatu ini," ujarnya. 

Upaya keras Pemprov Jawa Tengah yang mendata anak yang orang tuanya meninggal karena Covid-19, mendapat apresiasi dari UNICEF. Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa, Arie Rukmantara menilai Jawa Tengah agresif dalam menyelamatkan masa depan anak-anak korban pandemi. 

"Kami mengucapkan terima kasih atas semua kerja keras yang dilakukan Jawa Tengah (dengan) data-data ini, karena ini pertama kali yang menginisiasi, yang punya ide, yang punya tindakan sangat agresif menyelamatkan anak-anak di masa pandemi Covid-19," katanya. 

Upaya yang dilakukan Jawa Tengah, setidaknya memberikan tiga manfaat. Manfaat pertama adalah menunjukkan bahwa negara hadir di tengah anak-anak yang sedang bingung karena ditinggalkan orang tuanya. Manfaat berikutnya yaitu memberikan pesan bahwa ada pihak yang peduli dengan nasib mereka. Manfaat ketiga bersifat jangka panjang. Sebab, perhatian pemerintah yang menyelamatkan anak-anak korban Covid-19 hari ini, akan menjadikan mereka sumber pengetahuan di masa mendatang.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu