Follow Us :              

Beri Kuliah Umum di Ubaya, Ganjar Tegaskan Intoleransi dan Radikalisne Jadi Persoalan Serius Bangsa

  20 May 2022  |   15:00:00  |   dibaca : 134 
Kategori :
Bagikan :


Beri Kuliah Umum di Ubaya, Ganjar Tegaskan Intoleransi dan Radikalisne Jadi Persoalan Serius Bangsa

20 May 2022 | 15:00:00 | dibaca : 134
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Adi (Humas Jateng)

SURABAYA - Universitas Surabaya (Ubaya)  mengundang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai pembicara kuliah umum, Jumat (20/5). Pada acara yang digelar di gedung Perpustakaan Ubaya itu, Ganjar menyampaikan sejumlah topik tentang tantangan masa depan bangsa, salah satunya tentang intoleransi dan radikalisme. 

"Pak Ganjar, saya resah dengan intoleransi dan radikalisme yang marak terjadi saat ini. Bahkan, anak-anak sudah banyak yang terkena aliran ini. Saya punya pengalaman, ada siswa SD, dia tidak mau main ke rumah temannya hanya karena ada gambar salibnya. Dan itu katanya diajari oleh gurunya," kata Ines, salah satu  peserta diskusi. 

Penyataan Ines tersebut spontan menarik perhatian Ganjar. Sambil mengacungkan jempolnya atas kepedulian Ines pada gejala intoleransi yang ada di lingkungan, Ganjar mengakui, bahwa intoleransi dan radikalisme memang menjadi persoalan serius bangsa Indonesia. 

"Jangan anggap remeh masalah ini. Memang betul, ini persoalan serius. Karena sebagus apapun kita mempersiapkan masa depan bangsa ini, kalau dibawahnya dirongrong oleh intoleransi dan radikalisme, pasti hancur," tegasnya. 

Begitu seriusnya persoalan ini, hingga Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah meminta seluruh pejabat, ASN hingga kepala sekolah menandatangani pakta integritas, setia pada Pancasila dan NKRI. 

"Saya pernah mecat kepala sekolah gara-gara persoalan ini (intoleransi). Ini tidak main-main, karena dunia pendidikan sudah disusupi oleh mereka, sehingga kita harus melakukan proteksi dan tindakan antisipasi," ucapnya disambut tepuk tangan para peserta. 

Selain intoleransi dan radikalisme, Ganjar membahas soal kedaulatan Bangsa Indonesia. Ia menegaskan, bangsa Indonesia harus percaya diri, berdikari dan tidak bergantung pada negara lain. 

"Seperti kata Bung Karno, kita harus menjadi bangsa yang berdaulat di segala bidang. Kita harus percaya diri, kita bisa menjadi bangsa besar," pungkasnya. 

Rektor Ubaya, Benny Lianto mengatakan, sejak tahun 1966, Ubaya selalu mengundang tokoh nasional mengisi kuliah umum. Dan dalam kuliah umum itu, selalu dibahas terkait perjalanan bangsa, sekaligus mencari solusi dalam persoalan yang ada. 

"Kami mengundang banyak tokoh, misalnua KH Andurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo dan lain sebagainya," katanya. Ganjar Pranowo diundang, karena diyakini pandangannya akan ikut memberi warna dalam arah Indonesia ke depan. 

Terkait upaya pencegahan paham radikalisme dan terorisme, di hari yang sama, Badan Kesatuan dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah  menggelar acara temu muka pelajar dengan eks napiter dan para peneliti sosial terkait terorisme. Acara digelar di SMA Muhamaddiyah I Weleri Kendal dengan menghadirkan nara sumber Machmudi alias Yusuf, eks napiter Jamaah Islamiah (JI), dan Annisa Triguna, peneliti kejahatan terorisme dari lembaga Prasasti Perdamaian. 

Pada para pelajar, Yusuf blak-blakan tentang seluk beluk jaringan teroris, mulai dari pola pikir, ciri-ciri orang yang terjangkit radikalisme, hingga cara mereka mencari pengikut. Sedangkan Annisa Triguna, menjelaskan tentang potensi media sosial sebagai sarana para teroris menyebarkan pengaruh, terutama pada generasi muda. 

Kepala Kesbangpol Jawa Tengah, Haerudin menilai perlu membuat acara seperti ini untuk menangkal pengaruh radikalisme dan terorisme di kalangan generasi muda. 

“Mereka harus dikenalkan bagaimana ciri-ciri maupun ancaman dari radikalisme. Agar mereka bisa mengenali apa dan bagaimana radikalisme itu. Harapannya, (setelah itu) generasi muda bisa ‘melawan’ radikalisme tersebut,” tegasnya. 


Bagikan :

SURABAYA - Universitas Surabaya (Ubaya)  mengundang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai pembicara kuliah umum, Jumat (20/5). Pada acara yang digelar di gedung Perpustakaan Ubaya itu, Ganjar menyampaikan sejumlah topik tentang tantangan masa depan bangsa, salah satunya tentang intoleransi dan radikalisme. 

"Pak Ganjar, saya resah dengan intoleransi dan radikalisme yang marak terjadi saat ini. Bahkan, anak-anak sudah banyak yang terkena aliran ini. Saya punya pengalaman, ada siswa SD, dia tidak mau main ke rumah temannya hanya karena ada gambar salibnya. Dan itu katanya diajari oleh gurunya," kata Ines, salah satu  peserta diskusi. 

Penyataan Ines tersebut spontan menarik perhatian Ganjar. Sambil mengacungkan jempolnya atas kepedulian Ines pada gejala intoleransi yang ada di lingkungan, Ganjar mengakui, bahwa intoleransi dan radikalisme memang menjadi persoalan serius bangsa Indonesia. 

"Jangan anggap remeh masalah ini. Memang betul, ini persoalan serius. Karena sebagus apapun kita mempersiapkan masa depan bangsa ini, kalau dibawahnya dirongrong oleh intoleransi dan radikalisme, pasti hancur," tegasnya. 

Begitu seriusnya persoalan ini, hingga Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah meminta seluruh pejabat, ASN hingga kepala sekolah menandatangani pakta integritas, setia pada Pancasila dan NKRI. 

"Saya pernah mecat kepala sekolah gara-gara persoalan ini (intoleransi). Ini tidak main-main, karena dunia pendidikan sudah disusupi oleh mereka, sehingga kita harus melakukan proteksi dan tindakan antisipasi," ucapnya disambut tepuk tangan para peserta. 

Selain intoleransi dan radikalisme, Ganjar membahas soal kedaulatan Bangsa Indonesia. Ia menegaskan, bangsa Indonesia harus percaya diri, berdikari dan tidak bergantung pada negara lain. 

"Seperti kata Bung Karno, kita harus menjadi bangsa yang berdaulat di segala bidang. Kita harus percaya diri, kita bisa menjadi bangsa besar," pungkasnya. 

Rektor Ubaya, Benny Lianto mengatakan, sejak tahun 1966, Ubaya selalu mengundang tokoh nasional mengisi kuliah umum. Dan dalam kuliah umum itu, selalu dibahas terkait perjalanan bangsa, sekaligus mencari solusi dalam persoalan yang ada. 

"Kami mengundang banyak tokoh, misalnua KH Andurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo dan lain sebagainya," katanya. Ganjar Pranowo diundang, karena diyakini pandangannya akan ikut memberi warna dalam arah Indonesia ke depan. 

Terkait upaya pencegahan paham radikalisme dan terorisme, di hari yang sama, Badan Kesatuan dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah  menggelar acara temu muka pelajar dengan eks napiter dan para peneliti sosial terkait terorisme. Acara digelar di SMA Muhamaddiyah I Weleri Kendal dengan menghadirkan nara sumber Machmudi alias Yusuf, eks napiter Jamaah Islamiah (JI), dan Annisa Triguna, peneliti kejahatan terorisme dari lembaga Prasasti Perdamaian. 

Pada para pelajar, Yusuf blak-blakan tentang seluk beluk jaringan teroris, mulai dari pola pikir, ciri-ciri orang yang terjangkit radikalisme, hingga cara mereka mencari pengikut. Sedangkan Annisa Triguna, menjelaskan tentang potensi media sosial sebagai sarana para teroris menyebarkan pengaruh, terutama pada generasi muda. 

Kepala Kesbangpol Jawa Tengah, Haerudin menilai perlu membuat acara seperti ini untuk menangkal pengaruh radikalisme dan terorisme di kalangan generasi muda. 

“Mereka harus dikenalkan bagaimana ciri-ciri maupun ancaman dari radikalisme. Agar mereka bisa mengenali apa dan bagaimana radikalisme itu. Harapannya, (setelah itu) generasi muda bisa ‘melawan’ radikalisme tersebut,” tegasnya. 


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu