Follow Us :              

Cek Bantuan Mesin Di KIHT, Ganjar Kabarkan BLT Pekerja Rokok Dalam Tahap Proses Singkronisasi

  09 June 2022  |   14:00:00  |   dibaca : 754 
Kategori :
Bagikan :


Cek Bantuan Mesin Di KIHT, Ganjar Kabarkan BLT Pekerja Rokok Dalam Tahap Proses Singkronisasi

09 June 2022 | 14:00:00 | dibaca : 754
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

KUDUS -  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Kudus, Kamis (9/6). Gubernur ingin memastikan, bantuan mesin cetak bungkus rokok (etiket) bagi pelaku usaha rokok kelas III di daerah itu berjalan baik dan tepat sasaran. 

"Ini mesti kita bina. Mudah-mudahan (mereka) bisa melakukan perbaikan, baik skalanya, maupun kualitas usahannya," terang Ganjar. 

Sambil menyapa para pelinting di pabrik rokok Rajan Nabadi, Ganjar mencari tahu kondisi para pekerja di tempat tersebut.  Pada Ganjar, pemilik PR Rajan Nabadi Sutrisno yang mendampingi Ganjar berkeliling pabrik, menjelaskan, seluruh buruh di perusahaannya telah terdaftar BPJS Ketenagakerjaan. Semua pembiayaan dari perusahaannya. 

Adapun tentang produktifitas, seperti diakui Sumiah (56) yang sudah lima tahun menjadi buruh linting di pabrik tersebut, dalam sehari bisa melinting hingga 5.000 batang rokok kretek. 

Keberadaan etiket, yang mampu membuat kemasan lebih menarik, diakui Sutrisno sangat membantu peningkatan penjualan rokok, khususnya rokok filter. “Ya kita (sekarang) bisa bersaing melayani konsumen yang perokok filter, omzetnya tambah, (karena ada rokok) filternya. (Jadi) kita juga bisa menambah kas negara (cukai),” kata Sutrisno. 

Sebagai informasi, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di Jawa Tengah tercatat total Rp 879,96 miliar. Di Kudus sendiri, DBHCHT-nya tercatat sebesar Rp 174,2 miliar. Penggunaan DBHCHT tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 215/PMK.07/Tahun 2021. 

Sesuai aturan, 50 persen DBHCHT diperuntukan bagi bidang kesejahteraan masyarakat, 10 persen untuk bidang penegakan hukum dan 40 persen untuk bidang kesehatan. 50 persen yang untuk bidang kesejahteraan masyarakat, rinciannya adalah , 20 persen untuk peningkatan kualitas bahan baku dan pembinaan industri dan 30 persen untuk program pembinaan lingkungan sosial, yang salah satunya berupa pemberian bantuan. 

Terkait Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi buruh rokok dari pemerintah provinsi, saat ini sedang dalam proses singkronisasi data. Ganjar meminta pekerja rokok bersabar karena begitu proses ini selesai, bantuan segera akan diberikan. “Kalau datanya sudah sesuai semua, bisa diklarifikasi ke pabrik, sehingga kita tinggal deliver (kirim bantuannya)," tegas Ganjar. 

Selain memantau bantuan mesin cetak pembungkus rokok di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT), di Kudus Ganjar juga mengunjungi Desa Pasuruan untuk menyerahkan bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni. 

Bantuan senilai Rp20 juta yang bersumber dari Baznas Jateng, diberikan Ganjar pada Sunarti untuk merenovasi rumah agar lebih layak huni. Bukan saja kondisi dinding, lantai dan atapnya yang tidak layak, tetapi juga ruangannya. 

Sebagai pekerja lepas, dengan penghasilan tidak pasti, Sunarti mengaku tidak mampu memperbaiki rumahnya tanpa bantuan. Karena itu ia merasa sangat beruntung, bukan saja telah mendapat bantuan listrik dari Dinas ESDM Pemprov Jateng, kini dirinya juga mendapat bantuan RTLH dari Ganjar. 

“Ada empat kepala (orang) satu rumah. Kerja sehari-hari (jasa) pembungkus roti, kadang berangkat kadang enggak. Upahnya Rp70-100 ribu. Nggak pasti. Jadi senang bangetalhamdulillah rumahnya bisa diperbaiki,” aku Sunarti.


Bagikan :

KUDUS -  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Kudus, Kamis (9/6). Gubernur ingin memastikan, bantuan mesin cetak bungkus rokok (etiket) bagi pelaku usaha rokok kelas III di daerah itu berjalan baik dan tepat sasaran. 

"Ini mesti kita bina. Mudah-mudahan (mereka) bisa melakukan perbaikan, baik skalanya, maupun kualitas usahannya," terang Ganjar. 

Sambil menyapa para pelinting di pabrik rokok Rajan Nabadi, Ganjar mencari tahu kondisi para pekerja di tempat tersebut.  Pada Ganjar, pemilik PR Rajan Nabadi Sutrisno yang mendampingi Ganjar berkeliling pabrik, menjelaskan, seluruh buruh di perusahaannya telah terdaftar BPJS Ketenagakerjaan. Semua pembiayaan dari perusahaannya. 

Adapun tentang produktifitas, seperti diakui Sumiah (56) yang sudah lima tahun menjadi buruh linting di pabrik tersebut, dalam sehari bisa melinting hingga 5.000 batang rokok kretek. 

Keberadaan etiket, yang mampu membuat kemasan lebih menarik, diakui Sutrisno sangat membantu peningkatan penjualan rokok, khususnya rokok filter. “Ya kita (sekarang) bisa bersaing melayani konsumen yang perokok filter, omzetnya tambah, (karena ada rokok) filternya. (Jadi) kita juga bisa menambah kas negara (cukai),” kata Sutrisno. 

Sebagai informasi, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di Jawa Tengah tercatat total Rp 879,96 miliar. Di Kudus sendiri, DBHCHT-nya tercatat sebesar Rp 174,2 miliar. Penggunaan DBHCHT tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 215/PMK.07/Tahun 2021. 

Sesuai aturan, 50 persen DBHCHT diperuntukan bagi bidang kesejahteraan masyarakat, 10 persen untuk bidang penegakan hukum dan 40 persen untuk bidang kesehatan. 50 persen yang untuk bidang kesejahteraan masyarakat, rinciannya adalah , 20 persen untuk peningkatan kualitas bahan baku dan pembinaan industri dan 30 persen untuk program pembinaan lingkungan sosial, yang salah satunya berupa pemberian bantuan. 

Terkait Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi buruh rokok dari pemerintah provinsi, saat ini sedang dalam proses singkronisasi data. Ganjar meminta pekerja rokok bersabar karena begitu proses ini selesai, bantuan segera akan diberikan. “Kalau datanya sudah sesuai semua, bisa diklarifikasi ke pabrik, sehingga kita tinggal deliver (kirim bantuannya)," tegas Ganjar. 

Selain memantau bantuan mesin cetak pembungkus rokok di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT), di Kudus Ganjar juga mengunjungi Desa Pasuruan untuk menyerahkan bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni. 

Bantuan senilai Rp20 juta yang bersumber dari Baznas Jateng, diberikan Ganjar pada Sunarti untuk merenovasi rumah agar lebih layak huni. Bukan saja kondisi dinding, lantai dan atapnya yang tidak layak, tetapi juga ruangannya. 

Sebagai pekerja lepas, dengan penghasilan tidak pasti, Sunarti mengaku tidak mampu memperbaiki rumahnya tanpa bantuan. Karena itu ia merasa sangat beruntung, bukan saja telah mendapat bantuan listrik dari Dinas ESDM Pemprov Jateng, kini dirinya juga mendapat bantuan RTLH dari Ganjar. 

“Ada empat kepala (orang) satu rumah. Kerja sehari-hari (jasa) pembungkus roti, kadang berangkat kadang enggak. Upahnya Rp70-100 ribu. Nggak pasti. Jadi senang bangetalhamdulillah rumahnya bisa diperbaiki,” aku Sunarti.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu