Follow Us :              

Gubernur Jawa Tengah Minta Gas Pol Pelaksanaan Vaksin PMK

  30 June 2022  |   14:00:00  |   dibaca : 92 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Jawa Tengah Minta Gas Pol Pelaksanaan Vaksin PMK

30 June 2022 | 14:00:00 | dibaca : 92
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SUKOHARJO - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Genengsari, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (30/6/2022). Ditegaskan, percepatan vaksinasi menjadi pencegahan utama penularan PMK di Jawa Tengah. 

"Hari ini kita lagi mencoba gas pol untuk menyuntikkan vaksin PMK yang sudah kami terima. Ada 75.500 vaksin yang sudah kita terima dan tentu saja itu kurang. Tapi yang sudah ada itu kita gerakkan (suntik)," kata Ganjar saat meninjau vaksinasi PMK di lokasi. 

Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, capaian vaksinasi PMK per 30 Juni 2022 sebanyak 19.919 ekor. Terdiri dari 17.597 ekor di 30 kabupaten/kota, 1.679 di UPT Pusat Baturaden dan 643 di UPT Provinsi.  

Secara keseluruhan kasus PMK di Jawa Tengah per 30 Juni 2022 mencapai 32.715 ekor. Dari jumlah itu, 770 ekor berada di  Kabupaten Sukoharjo, namun tidak satupun berada di Desa Genengsari.  Hingga hari ini desa tersebut masih masuk katagori kawasan hijau, karena itu Gubernur meminta agar Desa Genengsari menjadi prioritas vaksinasi PMK. Langkah ini sebagai upaya agar semua ternak kuku belah di wilayah itu terlindungi. 

"Di desa ini nol, tidak ada kasus. Kalau kita petakan di GIS kita, ini masih hijau. Tapi justru di tempat hijau inilah kita harus segera suntikkan vaksin, agar sapi-sapinya aman. Tidak hanya sapi, tapi juga kerbau, kambing, babi, dan domba, juga nanti kita cek," katanya. 

Selain vakasinasi, bentuk pencegahan penularan PMK lain yang diupayakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, adalah dengan menggerakkan Jogo. Gerakan ini  diadopsi dari program Jogo Tonggo yang diterapkan dalam penanggulangan pandemi Covid-19. 

Keberadaan Jogo Ternak diperkuat lagi dengan gerakan Bolo Ternak. Terdapat kelompok peternak, penyuluh, dokter, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam gerakan ini. Gubernur menjelaskan, dua gerakan tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat pendataan hewan ternak sebagai dasar pelaksanaan vaksinasi. 

"Kita data, di mana sapinya? Ada berapa? Kita laporkan, terus nanti kita turunkan vaksin dan timnya," katanya. 

Begitu penting vaksinasi dalam pencegahan utama PMK, sehingga Gubernur mendorong pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, apabila sudah mendapatkan vaksin lagi agar segera didistribusikan ke daerah.  

"Karena penularannya airborne, di udara, ini menjadi sangat berbahaya. Maka pencegahan yang utama adalah cepat-cepat vaksin. Kita siap dan ini kawan-kawan di kabupaten/kota sampai tingkat kecamatan dan desa, serta dokternya semua juga sudah siap. Nanti biar dibantu  yang lain," tegasnya. 

Keberadaan pihak lain untuk membantu vaksinasi PMK, karena pelaksanaannya, diakui, memang cukup sulit. Ganjar Pranowo menerangkan, kondisi hewan yang cenderung tidak bisa diam, membuat tim medis sering kali membutuhkan bantuan banyak orang untuk mengendalikan ternak yang akan divaksin. 

Keberadaan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, sengat membantu tim medis untuk membantu mengantisipasi kondisi seperti ini. Agar lebih maksimal dalam pelaksanakan tugasnya mendampingi vaksinasi, Ganjar mengaku perlu membekali pengetahuan yang cukup bagi para mereka. 

"Kita juga sedang menyiapkan buku panduan untuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas, biar nanti mereka juga ada pengetahuan soal itu. Karena ternyata nyuntiknya tidak mudah, (ternak) tidak bisa diam, harus dipegangi banyak orang. Mudah-mudahan dengan cara ini bisa dilakukan lebih cepat," pungkasnya.


Bagikan :

SUKOHARJO - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Genengsari, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (30/6/2022). Ditegaskan, percepatan vaksinasi menjadi pencegahan utama penularan PMK di Jawa Tengah. 

"Hari ini kita lagi mencoba gas pol untuk menyuntikkan vaksin PMK yang sudah kami terima. Ada 75.500 vaksin yang sudah kita terima dan tentu saja itu kurang. Tapi yang sudah ada itu kita gerakkan (suntik)," kata Ganjar saat meninjau vaksinasi PMK di lokasi. 

Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, capaian vaksinasi PMK per 30 Juni 2022 sebanyak 19.919 ekor. Terdiri dari 17.597 ekor di 30 kabupaten/kota, 1.679 di UPT Pusat Baturaden dan 643 di UPT Provinsi.  

Secara keseluruhan kasus PMK di Jawa Tengah per 30 Juni 2022 mencapai 32.715 ekor. Dari jumlah itu, 770 ekor berada di  Kabupaten Sukoharjo, namun tidak satupun berada di Desa Genengsari.  Hingga hari ini desa tersebut masih masuk katagori kawasan hijau, karena itu Gubernur meminta agar Desa Genengsari menjadi prioritas vaksinasi PMK. Langkah ini sebagai upaya agar semua ternak kuku belah di wilayah itu terlindungi. 

"Di desa ini nol, tidak ada kasus. Kalau kita petakan di GIS kita, ini masih hijau. Tapi justru di tempat hijau inilah kita harus segera suntikkan vaksin, agar sapi-sapinya aman. Tidak hanya sapi, tapi juga kerbau, kambing, babi, dan domba, juga nanti kita cek," katanya. 

Selain vakasinasi, bentuk pencegahan penularan PMK lain yang diupayakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, adalah dengan menggerakkan Jogo. Gerakan ini  diadopsi dari program Jogo Tonggo yang diterapkan dalam penanggulangan pandemi Covid-19. 

Keberadaan Jogo Ternak diperkuat lagi dengan gerakan Bolo Ternak. Terdapat kelompok peternak, penyuluh, dokter, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam gerakan ini. Gubernur menjelaskan, dua gerakan tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat pendataan hewan ternak sebagai dasar pelaksanaan vaksinasi. 

"Kita data, di mana sapinya? Ada berapa? Kita laporkan, terus nanti kita turunkan vaksin dan timnya," katanya. 

Begitu penting vaksinasi dalam pencegahan utama PMK, sehingga Gubernur mendorong pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, apabila sudah mendapatkan vaksin lagi agar segera didistribusikan ke daerah.  

"Karena penularannya airborne, di udara, ini menjadi sangat berbahaya. Maka pencegahan yang utama adalah cepat-cepat vaksin. Kita siap dan ini kawan-kawan di kabupaten/kota sampai tingkat kecamatan dan desa, serta dokternya semua juga sudah siap. Nanti biar dibantu  yang lain," tegasnya. 

Keberadaan pihak lain untuk membantu vaksinasi PMK, karena pelaksanaannya, diakui, memang cukup sulit. Ganjar Pranowo menerangkan, kondisi hewan yang cenderung tidak bisa diam, membuat tim medis sering kali membutuhkan bantuan banyak orang untuk mengendalikan ternak yang akan divaksin. 

Keberadaan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, sengat membantu tim medis untuk membantu mengantisipasi kondisi seperti ini. Agar lebih maksimal dalam pelaksanakan tugasnya mendampingi vaksinasi, Ganjar mengaku perlu membekali pengetahuan yang cukup bagi para mereka. 

"Kita juga sedang menyiapkan buku panduan untuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas, biar nanti mereka juga ada pengetahuan soal itu. Karena ternyata nyuntiknya tidak mudah, (ternak) tidak bisa diam, harus dipegangi banyak orang. Mudah-mudahan dengan cara ini bisa dilakukan lebih cepat," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu