Follow Us :              

Kunjungi SMK Cimed, Gubernur Jateng Minta Sekolah Harus Peka Penuhi Kebutuhan Lapangan Kerja Dunia

  13 July 2022  |   11:00:00  |   dibaca : 303 
Kategori :
Bagikan :


Kunjungi SMK Cimed, Gubernur Jateng Minta Sekolah Harus Peka Penuhi Kebutuhan Lapangan Kerja Dunia

13 July 2022 | 11:00:00 | dibaca : 303
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

MAGELANG - Keberhasilan SMK Kesehatan Citra Medika Kota Magelang menghasilkan lulusan yang siap kerja, khususnya di bidang keperawatan, menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Setiap tahun sekolah ini mengirimkan banyak lulusannya ke berbagai negara, seperti Jepang, Tiongkok, dan Malaysia. 

Gubernur mengatakan, kebutuhan dunia pada tenaga perawat, masih sangat besar. Dicontohkan, dari permintaan Jepang sebanyak 6000 orang , SMK Citra Medika sampai saat ini baru mampu mengirim 40 orang per tahun.  

"Terbayangkan tidak, kalau kita bisa bisa matching dengan apa yang diinginkan customer? Katakanlah hari ini Jepang membutuhkan itu (perawat), maka (sekolah) ini dalam tanda petik bisa dijadikan "pabrik." Jadi pabriknya disiapkan dengan baik," kata Gubernur ditemui usai melihat-lihat kondisi sekolah yang dikenal dengan SMK Cimed ini, Rabu (13/7/2022). 

Turut dikatakan juga, desain sekolah yang mengikuti kebutuhan pasar akan membuat sekolah lebih bisa membuka diri dan pemikiran tentang apa yang dibutuhkan oleh customer,  sehingga mereka bisa menyiapkan laboratorium keahlian dan melatihnya dengan sungguh-sungguh. 

"Dilatih betul-betul dari sini teknisnya, budayanya, bahasanya, sehingga lulus dari sini betul-betul bisa dikirim. Bahkan tadi ketika kita melihat laboratorium untuk care giver (perawat) itu ternyata settingnya sudah sama dengan yang ada di sana. Kalau anak-anak sudah terbiasa dengan settingan seperti itu maka nanti kerjanya akan bagus sekali," ungkap Gubernur. 

Namun ia tetap mengingatkan, aspek pendidikan karakter tetap harus diperkuat. "Tinggal menanamkan disiplin, "cetak" dengan kualitas yang tinggi, insyaallah bisa menjadi tenaga (perawat) terdidik.  Dan sekolah ini akan menjadi jujukan (harapan) dari mereka yang membutuhkan, pre order lah kira-kira," ungkapnya. 

Keunggulan SMK Cimed dalam mendidik siswa, sudah dikenal hingga seantero Indonesia. "Menariknya yang datang tidak hanya dari Magelang saja tetapi seluruh Indonesia. Ada anak-anak kita dari Papua, tadi yang dari Timika itu baru seminggu dan mereka tahu dari senior-seniornya yang pernah sekolah di sini." 

Dua siswa asal Timika tersebut adalah Cairney dan Mikael. Bila Cainey ingin menjadi perawat, Mikael ingin bekerja sebagai ahli farmasi di Jepang. 

Fadila, siswi kelas XII jurusan perawatan, sempat berdialog dengan Gubernur. Penuh semangat ia menceritakan pengalamannya praktik di Puskesmas Rejosari dan Pringsurat. Meskipun sempat menemui keluarga pasien yang galak, Fadila mengaku dirinya tetap berusaha tenang dan melayani dengan sabar. 

"Diajarkan etika. Kalau sama pasien harus bersikap rendah hati dan sabar. Kalau pasien dan keluarga belum menerima, kita harus menjelaskan prosedurnya," kata Fadila yang ingin bekerja sebagai perawat di Jepang. 

Ia juga menceritakan pengalamannya selama praktik. Saat itu ia dapat bagian jaga malam dan pulang pukul 03.00 WIB Begitu sampai rumah ia dikabari kalau ada ibu-ibu akan melahirkan di Puskesmas. Ia dan teman-temannya kemudian kembali ke Puskesmas sekira pukul 07.00 WIB untuk ikut membantu proses persalinan. 

"Saya sudah dua kali lihat langsung proses persalinan. Dari situ saya tahu bagaimana pengorbanan seorang ibu sangat luar biasa sekali," katanya.


Bagikan :

MAGELANG - Keberhasilan SMK Kesehatan Citra Medika Kota Magelang menghasilkan lulusan yang siap kerja, khususnya di bidang keperawatan, menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Setiap tahun sekolah ini mengirimkan banyak lulusannya ke berbagai negara, seperti Jepang, Tiongkok, dan Malaysia. 

Gubernur mengatakan, kebutuhan dunia pada tenaga perawat, masih sangat besar. Dicontohkan, dari permintaan Jepang sebanyak 6000 orang , SMK Citra Medika sampai saat ini baru mampu mengirim 40 orang per tahun.  

"Terbayangkan tidak, kalau kita bisa bisa matching dengan apa yang diinginkan customer? Katakanlah hari ini Jepang membutuhkan itu (perawat), maka (sekolah) ini dalam tanda petik bisa dijadikan "pabrik." Jadi pabriknya disiapkan dengan baik," kata Gubernur ditemui usai melihat-lihat kondisi sekolah yang dikenal dengan SMK Cimed ini, Rabu (13/7/2022). 

Turut dikatakan juga, desain sekolah yang mengikuti kebutuhan pasar akan membuat sekolah lebih bisa membuka diri dan pemikiran tentang apa yang dibutuhkan oleh customer,  sehingga mereka bisa menyiapkan laboratorium keahlian dan melatihnya dengan sungguh-sungguh. 

"Dilatih betul-betul dari sini teknisnya, budayanya, bahasanya, sehingga lulus dari sini betul-betul bisa dikirim. Bahkan tadi ketika kita melihat laboratorium untuk care giver (perawat) itu ternyata settingnya sudah sama dengan yang ada di sana. Kalau anak-anak sudah terbiasa dengan settingan seperti itu maka nanti kerjanya akan bagus sekali," ungkap Gubernur. 

Namun ia tetap mengingatkan, aspek pendidikan karakter tetap harus diperkuat. "Tinggal menanamkan disiplin, "cetak" dengan kualitas yang tinggi, insyaallah bisa menjadi tenaga (perawat) terdidik.  Dan sekolah ini akan menjadi jujukan (harapan) dari mereka yang membutuhkan, pre order lah kira-kira," ungkapnya. 

Keunggulan SMK Cimed dalam mendidik siswa, sudah dikenal hingga seantero Indonesia. "Menariknya yang datang tidak hanya dari Magelang saja tetapi seluruh Indonesia. Ada anak-anak kita dari Papua, tadi yang dari Timika itu baru seminggu dan mereka tahu dari senior-seniornya yang pernah sekolah di sini." 

Dua siswa asal Timika tersebut adalah Cairney dan Mikael. Bila Cainey ingin menjadi perawat, Mikael ingin bekerja sebagai ahli farmasi di Jepang. 

Fadila, siswi kelas XII jurusan perawatan, sempat berdialog dengan Gubernur. Penuh semangat ia menceritakan pengalamannya praktik di Puskesmas Rejosari dan Pringsurat. Meskipun sempat menemui keluarga pasien yang galak, Fadila mengaku dirinya tetap berusaha tenang dan melayani dengan sabar. 

"Diajarkan etika. Kalau sama pasien harus bersikap rendah hati dan sabar. Kalau pasien dan keluarga belum menerima, kita harus menjelaskan prosedurnya," kata Fadila yang ingin bekerja sebagai perawat di Jepang. 

Ia juga menceritakan pengalamannya selama praktik. Saat itu ia dapat bagian jaga malam dan pulang pukul 03.00 WIB Begitu sampai rumah ia dikabari kalau ada ibu-ibu akan melahirkan di Puskesmas. Ia dan teman-temannya kemudian kembali ke Puskesmas sekira pukul 07.00 WIB untuk ikut membantu proses persalinan. 

"Saya sudah dua kali lihat langsung proses persalinan. Dari situ saya tahu bagaimana pengorbanan seorang ibu sangat luar biasa sekali," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu