Follow Us :              

Gubernur Jateng Bersama Relawan Bantu Evakuasi ODGJ dan Lakukan Sidak Pasar

  18 July 2022  |   07:00:00  |   dibaca : 292 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Jateng Bersama Relawan Bantu Evakuasi ODGJ dan Lakukan Sidak Pasar

18 July 2022 | 07:00:00 | dibaca : 292
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

BANYUMAS - Dinginnya cuaca Purwokerto tidak menghalangi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, untuk ikut jogging (lari pagi) bersama para relawan peduli ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) Banyumas, Senin (18/7) pagi. Tidak hanya untuk olahraga, jogging pagi ini juga menjadi ajang pencarian ODGJ terlantar yang butuh bantuan. 

"Pagi Pak, kami dari relawan ODGJ Banyumas ingin ikut jogging sama Bapak. Dan kalau mau Bapak, kami ajak hunting ODGJ," kata Sapto Hadi Wibowo, salah satu dari belasan anggota relawan peduli ODGJ Banyumas yang ikut jogging pagi ini. Meski pagi buta, tidak butuh waktu lama untuk persiapan, Gubernur langsung bergegas berangkat jogging bersama mereka. 

Selama perjalanan Gubernur dan para relawan berbincang akrab dengan para relawan. Saat itu tepat di depan Masjid Tujuh Belas Purwokerto, nampak seorang pria dengan rambut gondrong dan baju lusuh sedang duduk di halte. Pria itu adalah ODGJ yang biasa duduk di tempat itu. 

"Itu Pak, ada ODGJ. Mari kita coba dekati dan dievakuasi untuk diberikan pengobatan," kata Sapto. 

Belasan relawan itu langsung mendekati ODGJ. Dengan pendekatan yang ramah, mereka berhasil membujuk ODGJ tersebut untuk makan dan dibersihkan tumbuhnya. Tidak hanya rambut dan kukunya di potong, ODGJ tersebut juga dimandikan di kamar mandi masjid. 

"Dipotong ya kuku sama rambutnya. Biar ganteng," bujuk para relawan. Awalnya ODGJ itu tidak mau karena takut akan dipasung. Namun akhirnya para relawan berhasil meyakinkan dengan pendekatan humanis. Agar ODGJ tersebut tenang selama dibersihkan, Gubernur sempat memberi uang pada ODGJ tersebut. Gubernur mengatakan, uang itu untuk biaya ke notaris. Alasan ini dipilih Gubernur, karena sepanjang rancauannya, ODGJ tersebut mengaku ia sedang akan pergi ke notaris. 

"Ini uangnya buat ke notaris. Itu dipotong dulu rambutnya sama kukunya biar ganteng. Kan mau ketemu notaris," bujuk Gubernur yang kontan dituruti ODGJ tersebut. 

Usai dimandikan, relawan menelpon ambulans PMI untuk mengevakuasi ODGJ ke rumah sakit. "Ini luar biasa. Jadi sebenarnya kalau kita melihat dulu ada Sinau Hurip, hari ini ada relawan ODGJ Banyumas. Cara komunikasinya juga bagus. Mulai dari tidak mau sampai dia bisa tersenyum. Itu sebuah proses yang saya tidak punya ilmunya. Ini betul-betul kawan-kawan yang dengan hati, tulus, mereka peduli dengan ODGJ. Hebat lah," kata ungkapnya. 

Gubernur mengaku kagum melihat bagaimana relawan bekerja. Mereka sering mencari ODGJ terlantar dan melakukan perawatan. Mereka juga sudah memahami SOP mulai dari pendekatan, membersihkan tubuh ODGJ, sampai membawa mereka ke rumah sakit. Selain itu mereka juga membawa peralatan lengkap saat melakukan pencarian. Mereka bawa alat cukur, alat pemotong kuku, P3K, makanan dan bawa baju. 

"Kalau kita bicara Pancasilanya, ini itu tidak hanya menghafal, tapi melakukan (nilai) kemanusiaan yang adil dan beradabnya itu. Nilai kemanusiaan yang tinggi sekali dan tidak banyak orang yang peduli dengan mereka. Makanya saya mendukung kawan-kawan hebat ini. Mudah-mudahan berkembang, tunjukkan keikhlasan dalam membantu saudara-saudara kita ini," pungkasnya. 

Sapto, salah satu relawan peduli ODGJ Banyumas menceritakan, komunitasnya terbentuk sejak Desember 2020 lalu. Anggotanya kini sudah 52 orang dari berbagai kalangan. 

"Alasan kami mendirikan relawan ini karena kadang ODGJ di jalanan dipandang orang sebelah mata, mungkin karena orangnya kotor, dekil, apalagi terlihat rambutnya gondrong atau gimbal, mungkin dari situlah orang jadi takut. Kita terbentuk setidaknya untuk mengedukasi warga masyarakat agar bisa membersihkan ODGJ agar nantinya bisa bersih, bisa seperti kita semua," katanya. 

Selama berkegiatan, sudah lebih dari 200 ODGJ mereka selamatkan atau evakuasi untuk mendapat perawatan. Ada banyak kisah haru, diantaranya sempat mempertemukan ODGJ yang hilang selama puluhan tahun dengan keluarga. 

"Ada juga ODGJ yang kita temukan, kita rawat dan kembalikan ke keluarga. Alhamdulillah dia sembuh dan diterima oleh keluarga serta lingkungan. Sekarang, ODGJ itu sudah jadi pengusaha batu bata, ada yang perajin genting dan lainnya. Itu yang membuat kami semakin semangat," pungkasnya. 

Setelah ODGJ tersebut dibawa ambulan, Gubernur ditemani para relawan melanjutkan jogging menuju Pasar Manis untuk memantau harga. 

Dari pantauannya, Gubernur menemukan jika harga telur, cabai, bawang dan sayuran mengalami kenaikan, namun sejumlah kebutuhan lain stabil, bahkan ada pula yang sudah mulai menurun. 

"Tapi minyak goreng sudah bagus, jumlahnya bagus dan harga turun. Tapi rasa-rasanya beberapa bahan pokok mengalami peningkatan. Misalnya telur biasanya Rp25.000 sekarang Rp29.000. (Informasi) ini yang penting agar tim pengendali inflasi ngecek kenapa itu naik dan dicarikan solusinya," jelasnya. 

Terkait harga telur, Gubernur menemukan beberapa penjual telur di pinggir jalan bisa menjual diharga Rp27.500 perkilogram. Melihat hal ini, Gubernur menduga, jika para pedagang pasar bisa melacak sumbernya, kemungkinan mereka bisa juga bisa mendapat harga lebih murah.


Bagikan :

BANYUMAS - Dinginnya cuaca Purwokerto tidak menghalangi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, untuk ikut jogging (lari pagi) bersama para relawan peduli ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) Banyumas, Senin (18/7) pagi. Tidak hanya untuk olahraga, jogging pagi ini juga menjadi ajang pencarian ODGJ terlantar yang butuh bantuan. 

"Pagi Pak, kami dari relawan ODGJ Banyumas ingin ikut jogging sama Bapak. Dan kalau mau Bapak, kami ajak hunting ODGJ," kata Sapto Hadi Wibowo, salah satu dari belasan anggota relawan peduli ODGJ Banyumas yang ikut jogging pagi ini. Meski pagi buta, tidak butuh waktu lama untuk persiapan, Gubernur langsung bergegas berangkat jogging bersama mereka. 

Selama perjalanan Gubernur dan para relawan berbincang akrab dengan para relawan. Saat itu tepat di depan Masjid Tujuh Belas Purwokerto, nampak seorang pria dengan rambut gondrong dan baju lusuh sedang duduk di halte. Pria itu adalah ODGJ yang biasa duduk di tempat itu. 

"Itu Pak, ada ODGJ. Mari kita coba dekati dan dievakuasi untuk diberikan pengobatan," kata Sapto. 

Belasan relawan itu langsung mendekati ODGJ. Dengan pendekatan yang ramah, mereka berhasil membujuk ODGJ tersebut untuk makan dan dibersihkan tumbuhnya. Tidak hanya rambut dan kukunya di potong, ODGJ tersebut juga dimandikan di kamar mandi masjid. 

"Dipotong ya kuku sama rambutnya. Biar ganteng," bujuk para relawan. Awalnya ODGJ itu tidak mau karena takut akan dipasung. Namun akhirnya para relawan berhasil meyakinkan dengan pendekatan humanis. Agar ODGJ tersebut tenang selama dibersihkan, Gubernur sempat memberi uang pada ODGJ tersebut. Gubernur mengatakan, uang itu untuk biaya ke notaris. Alasan ini dipilih Gubernur, karena sepanjang rancauannya, ODGJ tersebut mengaku ia sedang akan pergi ke notaris. 

"Ini uangnya buat ke notaris. Itu dipotong dulu rambutnya sama kukunya biar ganteng. Kan mau ketemu notaris," bujuk Gubernur yang kontan dituruti ODGJ tersebut. 

Usai dimandikan, relawan menelpon ambulans PMI untuk mengevakuasi ODGJ ke rumah sakit. "Ini luar biasa. Jadi sebenarnya kalau kita melihat dulu ada Sinau Hurip, hari ini ada relawan ODGJ Banyumas. Cara komunikasinya juga bagus. Mulai dari tidak mau sampai dia bisa tersenyum. Itu sebuah proses yang saya tidak punya ilmunya. Ini betul-betul kawan-kawan yang dengan hati, tulus, mereka peduli dengan ODGJ. Hebat lah," kata ungkapnya. 

Gubernur mengaku kagum melihat bagaimana relawan bekerja. Mereka sering mencari ODGJ terlantar dan melakukan perawatan. Mereka juga sudah memahami SOP mulai dari pendekatan, membersihkan tubuh ODGJ, sampai membawa mereka ke rumah sakit. Selain itu mereka juga membawa peralatan lengkap saat melakukan pencarian. Mereka bawa alat cukur, alat pemotong kuku, P3K, makanan dan bawa baju. 

"Kalau kita bicara Pancasilanya, ini itu tidak hanya menghafal, tapi melakukan (nilai) kemanusiaan yang adil dan beradabnya itu. Nilai kemanusiaan yang tinggi sekali dan tidak banyak orang yang peduli dengan mereka. Makanya saya mendukung kawan-kawan hebat ini. Mudah-mudahan berkembang, tunjukkan keikhlasan dalam membantu saudara-saudara kita ini," pungkasnya. 

Sapto, salah satu relawan peduli ODGJ Banyumas menceritakan, komunitasnya terbentuk sejak Desember 2020 lalu. Anggotanya kini sudah 52 orang dari berbagai kalangan. 

"Alasan kami mendirikan relawan ini karena kadang ODGJ di jalanan dipandang orang sebelah mata, mungkin karena orangnya kotor, dekil, apalagi terlihat rambutnya gondrong atau gimbal, mungkin dari situlah orang jadi takut. Kita terbentuk setidaknya untuk mengedukasi warga masyarakat agar bisa membersihkan ODGJ agar nantinya bisa bersih, bisa seperti kita semua," katanya. 

Selama berkegiatan, sudah lebih dari 200 ODGJ mereka selamatkan atau evakuasi untuk mendapat perawatan. Ada banyak kisah haru, diantaranya sempat mempertemukan ODGJ yang hilang selama puluhan tahun dengan keluarga. 

"Ada juga ODGJ yang kita temukan, kita rawat dan kembalikan ke keluarga. Alhamdulillah dia sembuh dan diterima oleh keluarga serta lingkungan. Sekarang, ODGJ itu sudah jadi pengusaha batu bata, ada yang perajin genting dan lainnya. Itu yang membuat kami semakin semangat," pungkasnya. 

Setelah ODGJ tersebut dibawa ambulan, Gubernur ditemani para relawan melanjutkan jogging menuju Pasar Manis untuk memantau harga. 

Dari pantauannya, Gubernur menemukan jika harga telur, cabai, bawang dan sayuran mengalami kenaikan, namun sejumlah kebutuhan lain stabil, bahkan ada pula yang sudah mulai menurun. 

"Tapi minyak goreng sudah bagus, jumlahnya bagus dan harga turun. Tapi rasa-rasanya beberapa bahan pokok mengalami peningkatan. Misalnya telur biasanya Rp25.000 sekarang Rp29.000. (Informasi) ini yang penting agar tim pengendali inflasi ngecek kenapa itu naik dan dicarikan solusinya," jelasnya. 

Terkait harga telur, Gubernur menemukan beberapa penjual telur di pinggir jalan bisa menjual diharga Rp27.500 perkilogram. Melihat hal ini, Gubernur menduga, jika para pedagang pasar bisa melacak sumbernya, kemungkinan mereka bisa juga bisa mendapat harga lebih murah.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu