Follow Us :              

Gubernur Jateng Siap Dampingi Pedagang Asongan Borobudur Dapatkan Tempat Dagang Sementara

  02 August 2022  |   14:00:00  |   dibaca : 256 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Jateng Siap Dampingi Pedagang Asongan Borobudur Dapatkan Tempat Dagang Sementara

02 August 2022 | 14:00:00 | dibaca : 256
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Raut lega terpancar di wajah para pedagang Asongan Komoditas 14 (AK 14) Borobudur usai pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, Selasa (2/8). Setelah sekian lama tidak bisa berjualan karena pandemi dan direlokasi akibat penataan kawasan Candi Borobudur, kini mereka mulai melihat titik terang untuk bisa kembali berdagang. 

Semula, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh manajemen PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB). Namun karena berlangsung lebih awal, Gubernur baru mendengar dari sisi pedagang asongan. 

Diwakili Wito Prasetyo, Ketum Serikat Pekerja Wisata Borobudur, para pedagang  menyampaikan merasakan diskriminasi dari manajemen PT TWC akibat penataan kawasan Candi Borobudur. Mereka yang biasanya berjualan di depan Museum Karmawibhangga dipindah dan berbaur di kawasan parkiran bus. "Kami merasa diusir dan didiskriminasi. Sedangkan di situ masih ada kegiatan komersial juga," ucap Wito saat audiensi. 

Gubernur mendengarkan dengan seksama aspirasi para pedagang. Atas pemasalahan ini. Saat itu ditawarkan solusi pada mereka untuk untuk menempati tempat berdagang sementara di area relokasi. Usulan itu disambut sukacita para pedagang asongan. Mereka setuju untuk tidak berjualan keliling atau asongan jika disediakan tempat yang jelas. Solusi ini dinilai Gubernur paling ideal mengingat lokasi yang disediakan saat ini juga masih bersifat sementara. "Ada harapan baru, ini yang kami terima setelah pertemuan," kata Wito usai audiensi. 

Wito berharap usulan Gubernur tersebut bisa segera direalisasikan dan secepatnya disampaikan kepada PT TWC. Wito menegaskan para pedagang asongan siap untuk mengikuti aturan jika usulan tersebut terwujud. "Karena mereka (pedagang asongan) kan sudah dua tahun tidak jualan. Padahal itu profesi pokok mereka," katanya. 

Wito mengatakan, usulan tempat sementara bagi pedagang asongan di titik relokasi pedagang yang sudah ada dinilai cukup. Sembari menunggu pemindahan pedagang ke zona III, di Lapangan Kujon seluas 10,74 hektare. "Karena untuk sampai ke Kujon belum tahu berapa lama lagi, kasihan karena kerjaannya hanya di situ. (Solusi) alhamdulillah sekali, karena selama ini kaya anak tiri, mau mengadu ke siapa. Ngadu ke lingkungan kecamatan, kabupaten, DPRD nggak ada solusi," tandasnya. 

Adapun Gubernur Ganjar Pranowo menegaskan solusi yang ditawarkan kepada para pedagang asongan akan segera diusulkan ke pihak PT TWCB. Sebab hingga akhir audiensi, pihak PT TWCB masih dalam perjalanan. Menurutnya, solusi dengan memberikan tempat alternatif sementara di lokasi yang saat ini ditetapkan cukup adil. Apalagi titik tersebut sifatnya sementara selama kawasan Candi Borobudur dalam masa penataan. 

"Menurut saya, dalam konteks sementara atau transisi, sediakan saja tempat di situ, kemudian dibuat aturannya sehingga semua bisa terjaga. Agar kemudian semuanya nyaman dan mereka bisa mencari rejeki, harus ada alternatif satu, dua, tiga. Ini pikiran dari saya yang nanti coba kita usulkan," ujarnya. "Menurut saya, secara aturan tidak akan terlanggar karena (hanya) sementara, intinya itu," imbuhnya. 

Selama proses ini, Gubernur memastikan pihaknya akan terus mendampingi para pedagang asongan hingga mencapai kesepakatan dengan PT TWCB. Di sisi lain, ia berharap pihak PT TWCB bersedia berkomunikasi lebih intens. Para kepala daerah setempat juga terlibat aktif mendampingi para pedagang asongan tersebut. "Jangan sampai masyarakat sekitar Borobudur ini jadi penonton. Mereka mesti dilibatkan. Karena tertatanya Borobudur, harapan kita, juga akan menambah kesejahteraan mereka," tegasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Raut lega terpancar di wajah para pedagang Asongan Komoditas 14 (AK 14) Borobudur usai pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, Selasa (2/8). Setelah sekian lama tidak bisa berjualan karena pandemi dan direlokasi akibat penataan kawasan Candi Borobudur, kini mereka mulai melihat titik terang untuk bisa kembali berdagang. 

Semula, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh manajemen PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB). Namun karena berlangsung lebih awal, Gubernur baru mendengar dari sisi pedagang asongan. 

Diwakili Wito Prasetyo, Ketum Serikat Pekerja Wisata Borobudur, para pedagang  menyampaikan merasakan diskriminasi dari manajemen PT TWC akibat penataan kawasan Candi Borobudur. Mereka yang biasanya berjualan di depan Museum Karmawibhangga dipindah dan berbaur di kawasan parkiran bus. "Kami merasa diusir dan didiskriminasi. Sedangkan di situ masih ada kegiatan komersial juga," ucap Wito saat audiensi. 

Gubernur mendengarkan dengan seksama aspirasi para pedagang. Atas pemasalahan ini. Saat itu ditawarkan solusi pada mereka untuk untuk menempati tempat berdagang sementara di area relokasi. Usulan itu disambut sukacita para pedagang asongan. Mereka setuju untuk tidak berjualan keliling atau asongan jika disediakan tempat yang jelas. Solusi ini dinilai Gubernur paling ideal mengingat lokasi yang disediakan saat ini juga masih bersifat sementara. "Ada harapan baru, ini yang kami terima setelah pertemuan," kata Wito usai audiensi. 

Wito berharap usulan Gubernur tersebut bisa segera direalisasikan dan secepatnya disampaikan kepada PT TWC. Wito menegaskan para pedagang asongan siap untuk mengikuti aturan jika usulan tersebut terwujud. "Karena mereka (pedagang asongan) kan sudah dua tahun tidak jualan. Padahal itu profesi pokok mereka," katanya. 

Wito mengatakan, usulan tempat sementara bagi pedagang asongan di titik relokasi pedagang yang sudah ada dinilai cukup. Sembari menunggu pemindahan pedagang ke zona III, di Lapangan Kujon seluas 10,74 hektare. "Karena untuk sampai ke Kujon belum tahu berapa lama lagi, kasihan karena kerjaannya hanya di situ. (Solusi) alhamdulillah sekali, karena selama ini kaya anak tiri, mau mengadu ke siapa. Ngadu ke lingkungan kecamatan, kabupaten, DPRD nggak ada solusi," tandasnya. 

Adapun Gubernur Ganjar Pranowo menegaskan solusi yang ditawarkan kepada para pedagang asongan akan segera diusulkan ke pihak PT TWCB. Sebab hingga akhir audiensi, pihak PT TWCB masih dalam perjalanan. Menurutnya, solusi dengan memberikan tempat alternatif sementara di lokasi yang saat ini ditetapkan cukup adil. Apalagi titik tersebut sifatnya sementara selama kawasan Candi Borobudur dalam masa penataan. 

"Menurut saya, dalam konteks sementara atau transisi, sediakan saja tempat di situ, kemudian dibuat aturannya sehingga semua bisa terjaga. Agar kemudian semuanya nyaman dan mereka bisa mencari rejeki, harus ada alternatif satu, dua, tiga. Ini pikiran dari saya yang nanti coba kita usulkan," ujarnya. "Menurut saya, secara aturan tidak akan terlanggar karena (hanya) sementara, intinya itu," imbuhnya. 

Selama proses ini, Gubernur memastikan pihaknya akan terus mendampingi para pedagang asongan hingga mencapai kesepakatan dengan PT TWCB. Di sisi lain, ia berharap pihak PT TWCB bersedia berkomunikasi lebih intens. Para kepala daerah setempat juga terlibat aktif mendampingi para pedagang asongan tersebut. "Jangan sampai masyarakat sekitar Borobudur ini jadi penonton. Mereka mesti dilibatkan. Karena tertatanya Borobudur, harapan kita, juga akan menambah kesejahteraan mereka," tegasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu