Follow Us :              

Gubernur Jateng Imbau Konservasi Mata Air Dilakukan di Seluruh Daerah

  04 August 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 101 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Jateng Imbau Konservasi Mata Air Dilakukan di Seluruh Daerah

04 August 2022 | 10:00:00 | dibaca : 101
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BOYOLALI - Setelah 12 tahun ditetapkan sebagai cagar budaya, Patirtan Cabean Kunti, di Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali kini juga diproyeksikan sebagai pusat konservasi sumber mata air. Gubernur mengimbau agar daerah lain meniru langkah Cabean Kunti dalam mengkonservasi atau menciptakan sumber mata air baru. 

"Ini sebenarnya bagus, mata airnya bagus, hutan sekitarnya juga bagus, tetapi kurang rungkut (lebat). Maka kami siapkan penataan kawasan karena ide dari desanya sudah bagus, untuk mengkonservasi seluruh mata air yang masih ada. Nah sekarang tidak cukup yang masih ada, kita ciptakan mata air baru dengan cara mengkonservasi dan menanam," terangnya usai mengunjungi Patirtan Cabean Kunti, Kamis (4/8/2022). 

Terkait penataan Patirtan Cabean Kunti, Gubernur meminta pemerintah desa untuk bekerja sama dengan kampus, pemerintah daerah, dan DPRD. Ia ingin semua pihak terlibat untuk bergotong royong menata kawasan tersebut. Selain memanfaatkan sumber mata air yang ada, diharapkan situs yang diperkirakan sudah ada sejak abad VIII-X Masehi itu, nantinya juga bisa menjadi destinasi wisata.

"Semuanya nyengkuyung (mendukung) menata, termasuk agar ini bisa menjadi desa wisata karena situsnya bagus. Sehingga nanti ada sejarawan yang bisa menceritakan, ada yang bisa memanfaatkan airnya dengan baik, penataan kawasan baik, sehingga nanti orang akan datang ke sini. Mereka ikut merawat dan menikmati," jelas Gubernur. 

Berdasarkan keterangan tertulis di tempat itu, Patirtan Cabean Kunti terdiri atas tujuh sendang. Ketujuh sendang itu adalah Sendang Jangkang, Sendang Sidotopo, Sendang Lerep atau Palerepan, Sendang Kunti Lanang, Sendang Panguripan, Sendang Kunti Wadon, dan Sendang Semboja. Oleh masyarakat sekitar kawasan Patirtan Cabean Kunti juga disebut sebagai Sendang Pitu.

Temuan relief yang terdapat di Sendang Lerep diperkirakan merupakan tantri atau cerita binatang berisi ajaran moral agama Buddha. Berdasarkan relief itu, fungsi dari Patirtan Cabean Kunti sendiri sebagai bangunan suci. Bangunan di sendang itu diperkirakan dibangun oleh tokoh bangsawan yang mengasingkan diri atau petapa yang ingin mencapai moksa. 

"Mudah-mudahan dalam jangka pendek penataannya akan segera dilakukan. Minimal desainnya dulu. Menanamnya segera dimulai, nanti soal fisiknya bisa sambil berjalan dan bertahap." 

Turut ditambahkan, gerakan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Cabean Kunti menurut Gubernur bisa dicontoh oleh desa lainnya. Ia ingin setiap desa mencari sumber mata air yang pernah ada untuk dikonservasi. Untuk memperkuat gerakan tersebut, ia meminta agar kepala desa membuat peraturan desa untuk menggerakkan warga termasuk menjaga kebersihan. 

"Gerakan seperti yang ada di sini perlu dilakukan di banyak desa lain. Kalau menemukan sumber mata air, konservasi. Kalau pernah ada cerita atau sejarah masa lalu yang kemudian warga setempat tahu di situ pernah ada mata air, cari lagi. Hidupkan lagi dengan cara mengkonservasi, menanam, dan kemudian melakukan penghijauan kembali. Kita mendorong untuk mengkonservasi kawasan ini termasuk sumber-sumber air di manapun," tegasnya.


Bagikan :

BOYOLALI - Setelah 12 tahun ditetapkan sebagai cagar budaya, Patirtan Cabean Kunti, di Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali kini juga diproyeksikan sebagai pusat konservasi sumber mata air. Gubernur mengimbau agar daerah lain meniru langkah Cabean Kunti dalam mengkonservasi atau menciptakan sumber mata air baru. 

"Ini sebenarnya bagus, mata airnya bagus, hutan sekitarnya juga bagus, tetapi kurang rungkut (lebat). Maka kami siapkan penataan kawasan karena ide dari desanya sudah bagus, untuk mengkonservasi seluruh mata air yang masih ada. Nah sekarang tidak cukup yang masih ada, kita ciptakan mata air baru dengan cara mengkonservasi dan menanam," terangnya usai mengunjungi Patirtan Cabean Kunti, Kamis (4/8/2022). 

Terkait penataan Patirtan Cabean Kunti, Gubernur meminta pemerintah desa untuk bekerja sama dengan kampus, pemerintah daerah, dan DPRD. Ia ingin semua pihak terlibat untuk bergotong royong menata kawasan tersebut. Selain memanfaatkan sumber mata air yang ada, diharapkan situs yang diperkirakan sudah ada sejak abad VIII-X Masehi itu, nantinya juga bisa menjadi destinasi wisata.

"Semuanya nyengkuyung (mendukung) menata, termasuk agar ini bisa menjadi desa wisata karena situsnya bagus. Sehingga nanti ada sejarawan yang bisa menceritakan, ada yang bisa memanfaatkan airnya dengan baik, penataan kawasan baik, sehingga nanti orang akan datang ke sini. Mereka ikut merawat dan menikmati," jelas Gubernur. 

Berdasarkan keterangan tertulis di tempat itu, Patirtan Cabean Kunti terdiri atas tujuh sendang. Ketujuh sendang itu adalah Sendang Jangkang, Sendang Sidotopo, Sendang Lerep atau Palerepan, Sendang Kunti Lanang, Sendang Panguripan, Sendang Kunti Wadon, dan Sendang Semboja. Oleh masyarakat sekitar kawasan Patirtan Cabean Kunti juga disebut sebagai Sendang Pitu.

Temuan relief yang terdapat di Sendang Lerep diperkirakan merupakan tantri atau cerita binatang berisi ajaran moral agama Buddha. Berdasarkan relief itu, fungsi dari Patirtan Cabean Kunti sendiri sebagai bangunan suci. Bangunan di sendang itu diperkirakan dibangun oleh tokoh bangsawan yang mengasingkan diri atau petapa yang ingin mencapai moksa. 

"Mudah-mudahan dalam jangka pendek penataannya akan segera dilakukan. Minimal desainnya dulu. Menanamnya segera dimulai, nanti soal fisiknya bisa sambil berjalan dan bertahap." 

Turut ditambahkan, gerakan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Cabean Kunti menurut Gubernur bisa dicontoh oleh desa lainnya. Ia ingin setiap desa mencari sumber mata air yang pernah ada untuk dikonservasi. Untuk memperkuat gerakan tersebut, ia meminta agar kepala desa membuat peraturan desa untuk menggerakkan warga termasuk menjaga kebersihan. 

"Gerakan seperti yang ada di sini perlu dilakukan di banyak desa lain. Kalau menemukan sumber mata air, konservasi. Kalau pernah ada cerita atau sejarah masa lalu yang kemudian warga setempat tahu di situ pernah ada mata air, cari lagi. Hidupkan lagi dengan cara mengkonservasi, menanam, dan kemudian melakukan penghijauan kembali. Kita mendorong untuk mengkonservasi kawasan ini termasuk sumber-sumber air di manapun," tegasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu