Follow Us :              

Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini

  10 July 2026  |   09:00:00  |   dibaca : 125 
Kategori :
Bagikan :

Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini

10 July 2026 | 09:00:00 | dibaca : 125
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini
Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini
Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini
Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini
Berantas Kusta di Jawa Tengah, Gubernur Andalkan Program Speling untuk Deteksi Dini

Foto : Fajar (Humas Jateng)

JAKARTA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memanfaatkan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mempercepat eliminasi penyakit kusta di wilayahnya. 

Melalui program ini, skrining dan deteksi dini kusta akan dilakukan untuk memutus rantai penularan serta memberikan pengobatan berkelanjutan bagi para penderita kusta. Sebagai informasi, kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan.

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di sela acara Konferensi Nasional Kusta 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada Jumat, 10 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng bersama gubernur lainnya membacakan komitmen untuk mempercepat eliminasi kusta di wilayahnya masing-masing. 

Gubernur menyampaikan, penyakit kusta sudah ada obatnya. Maka dari itu, perlu dilakukan penanganan melalui berbagai program. Pihaknya juga akan menggerakkan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya untuk mengatasi persoalan tersebut. 

"Bupati dan wali kota harus dikasih target, pemerintah Kabupaten/kota harus melakukan suatu terobosan untuk deteksi dini terkait kusta ini,” ucapnya.

Ia mengatakan, Dinas Kesehatan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota harus memberikan pengobatan kepada para penderita kusta. Menurutnya, memberantas kusta tidak bisa dilakukan sendiri, upaya ini harus diupayakan secara bersama-sama. 

Adapun angka kusta di Jateng dinilai masih tinggi. Tercatat pada tahun 2025, ditemukan ada 1.541 kasus kusta, sementara hingga triwulan II-2026 ada sekitar 837 kasus.

Tingginya temuan kasus tersebut membuktikan bahwa deteksi dini penyakit kusta menjadi hal yang penting, sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat secara berkala dan berkelanjutan. 

Oleh karena itu, program Speling yang sudah berjalan di Jateng akan digalakkan dengan menambahkan skrining kusta. Nantinya, data kuantitatif yang ada di masing-masing kabupaten/kota akan dikumpulkan di tingkat provinsi agar bisa segera dilakukan intervensi.

Adapun penyintas kusta akan mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan tanpa putus. Rentang waktu pengobatan bervariatif mulai dari 6-12 bulan, bahkan24 bulan. Pengobatan tersebut tidak boleh terputus agar penderitanya tidak mengulang dari awal.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, penyakit kusta saat ini sudah ada obatnya. Tak hanya itu, penularan kusta tidak secepat penyakit yang disebabkan oleh virus. Begitu ditemukan ada penderita kusta, tentunya harus langsung diobati secara berkelanjutan. 

"Kusta ini yang jadi masalah adalah telat terdeteksi, maka untuk mengeliminasi kusta harus ditingkatkan lagi (deteksi penyakitnya). Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya, lalu diobati," katanya.


Bagikan :

JAKARTA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memanfaatkan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mempercepat eliminasi penyakit kusta di wilayahnya. 

Melalui program ini, skrining dan deteksi dini kusta akan dilakukan untuk memutus rantai penularan serta memberikan pengobatan berkelanjutan bagi para penderita kusta. Sebagai informasi, kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan.

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di sela acara Konferensi Nasional Kusta 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada Jumat, 10 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng bersama gubernur lainnya membacakan komitmen untuk mempercepat eliminasi kusta di wilayahnya masing-masing. 

Gubernur menyampaikan, penyakit kusta sudah ada obatnya. Maka dari itu, perlu dilakukan penanganan melalui berbagai program. Pihaknya juga akan menggerakkan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya untuk mengatasi persoalan tersebut. 

"Bupati dan wali kota harus dikasih target, pemerintah Kabupaten/kota harus melakukan suatu terobosan untuk deteksi dini terkait kusta ini,” ucapnya.

Ia mengatakan, Dinas Kesehatan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota harus memberikan pengobatan kepada para penderita kusta. Menurutnya, memberantas kusta tidak bisa dilakukan sendiri, upaya ini harus diupayakan secara bersama-sama. 

Adapun angka kusta di Jateng dinilai masih tinggi. Tercatat pada tahun 2025, ditemukan ada 1.541 kasus kusta, sementara hingga triwulan II-2026 ada sekitar 837 kasus.

Tingginya temuan kasus tersebut membuktikan bahwa deteksi dini penyakit kusta menjadi hal yang penting, sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat secara berkala dan berkelanjutan. 

Oleh karena itu, program Speling yang sudah berjalan di Jateng akan digalakkan dengan menambahkan skrining kusta. Nantinya, data kuantitatif yang ada di masing-masing kabupaten/kota akan dikumpulkan di tingkat provinsi agar bisa segera dilakukan intervensi.

Adapun penyintas kusta akan mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan tanpa putus. Rentang waktu pengobatan bervariatif mulai dari 6-12 bulan, bahkan24 bulan. Pengobatan tersebut tidak boleh terputus agar penderitanya tidak mengulang dari awal.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, penyakit kusta saat ini sudah ada obatnya. Tak hanya itu, penularan kusta tidak secepat penyakit yang disebabkan oleh virus. Begitu ditemukan ada penderita kusta, tentunya harus langsung diobati secara berkelanjutan. 

"Kusta ini yang jadi masalah adalah telat terdeteksi, maka untuk mengeliminasi kusta harus ditingkatkan lagi (deteksi penyakitnya). Strateginya cuma satu, temukan sebanyak-banyaknya, lalu diobati," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu