Follow Us :              

Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan

  06 August 2026  |   15:00:00  |   dibaca : 141 
Kategori :
Bagikan :

Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan

06 August 2026 | 15:00:00 | dibaca : 141
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan
Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan
Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan
Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan
Soroti Kasus Perundungan, Wagub Minta Optimalkan Upaya Pencegahan

Foto : Mizan (Humas Jateng)

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyatakan, kasus perundungan (bullying) masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diatasi oleh semua pihak. 

Hal ini menyusul adanya dugaan kasus bullying siswa MTs di Kabupaten Pati dan Kabupaten Pemalang akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, Wagub meminta semua pihak terlibat dalam upaya pencegahan bullying. Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi harus melibatkan semua pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

"Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi," ucapnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendorong berbagai upaya preventif/pencegahan, salah satunya melalui Forum Anak Pesantren sebagai ruang edukasi dan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Selain itu, pendidikan karakter dan pencegahan perundungan juga mulai diperkuat sejak jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD).

"Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan," ujarnya.

Wagub menilai, setiap kasus bullying harus ditangani dengan melihat akar masalahnya. Lingkungan tempat anak tumbuh dan berinteraksi perlu dianalisis agar penyebab perundungan dapat diidentifikasi secara tepat.

"Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua dalam memantau perkembangan perilaku anak, baik di lingkungan pendidikan maupun rumah.

"Kita harapkan, sekolah-sekolah memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Bagaimana perilaku anak di sekolah dan rumah harus diketahui. Dengan begitu, potensi bullying bisa ditekan sejak dini," ucap Wagub.

Wagub mengungkapkan, banyaknya laporan atau pengaduan terkait kasus perundungan menjadi bukti meningkatnya kesadaran masyarakat, untuk melaporkan setiap dugaan kekerasan terhadap anak.

"Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani. Itu menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik," ucapnya.

Ia berharap, seluruh elemen masyarakat terus memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan, sehingga anak-anak di Jawa Tengah dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan optimal.


Bagikan :

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyatakan, kasus perundungan (bullying) masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diatasi oleh semua pihak. 

Hal ini menyusul adanya dugaan kasus bullying siswa MTs di Kabupaten Pati dan Kabupaten Pemalang akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, Wagub meminta semua pihak terlibat dalam upaya pencegahan bullying. Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi harus melibatkan semua pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

"Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi," ucapnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendorong berbagai upaya preventif/pencegahan, salah satunya melalui Forum Anak Pesantren sebagai ruang edukasi dan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Selain itu, pendidikan karakter dan pencegahan perundungan juga mulai diperkuat sejak jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD).

"Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan," ujarnya.

Wagub menilai, setiap kasus bullying harus ditangani dengan melihat akar masalahnya. Lingkungan tempat anak tumbuh dan berinteraksi perlu dianalisis agar penyebab perundungan dapat diidentifikasi secara tepat.

"Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua dalam memantau perkembangan perilaku anak, baik di lingkungan pendidikan maupun rumah.

"Kita harapkan, sekolah-sekolah memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Bagaimana perilaku anak di sekolah dan rumah harus diketahui. Dengan begitu, potensi bullying bisa ditekan sejak dini," ucap Wagub.

Wagub mengungkapkan, banyaknya laporan atau pengaduan terkait kasus perundungan menjadi bukti meningkatnya kesadaran masyarakat, untuk melaporkan setiap dugaan kekerasan terhadap anak.

"Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani. Itu menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik," ucapnya.

Ia berharap, seluruh elemen masyarakat terus memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan, sehingga anak-anak di Jawa Tengah dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan optimal.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu