Follow Us :              

Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 

  12 August 2026  |   12:00:00  |   dibaca : 130 
Kategori :
Bagikan :

Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 

12 August 2026 | 12:00:00 | dibaca : 130
Kategori :
Bagikan :

Foto : Sigit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 
Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 
Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 
Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 
Bertemu Penerima Beasiswa Santri dan Pengasuh Ponpes, Wagub Tekankan Pentingnya Padukan STEM dan Nilai-Nilai Pesantren 

Foto : Sigit (Humas Jateng)

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan pentingnya memadukan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) dengan nilai-nilai keislaman yang diajarkan di pesantren.

Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan dalam acara Penyerahan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren di Gedung Merah Putih, Kota Semarang pada Rabu 12 Agustus 2026.

Maka dari itu, ia meminta para penerima beasiswa santri untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan modern tanpa meninggalkan tradisi serta nilai-nilai keilmuan pesantren.

Wagub menilai, perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah mengarahkan pemanfaatannya agar memberikan manfaat bagi pendidikan, pesantren, dan masyarakat.

Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi semakin penting bagi santri, terlebih di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang sudah masuk dalam berbagai bidang pendidikan.

Wagub mengingatkan agar AI tidak digunakan sekadar untuk mempermudah pengerjaan tugas, tetapi harus menjadi sarana pendukung proses belajar. Bahkan, kemampuan memahami teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan keilmuan dan akhlak.

"Para santri yang kami beri beasiswa kali ini, tolong pelajari betul teknologi, sains. Saat ini sudah menjadi metode pembelajaran bukan hanya di Indonesia, tetapi internasional," ujarnya.

Wagub juga menekankan bahwa beasiswa yang diberikan Pemerintah Provinsi Jateng tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata ketika kembali ke pesantren.

Ia mencontohkan kebutuhan pesantren terhadap tenaga profesional di berbagai bidang, seperti dokter, pertanian, maupun pengelolaan usaha.

"Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya," ujarnya.

Maka dari itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat mengembangkan keahlian yang tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan pesantren dan masyarakat.

Wagub mengatakan, salah satu bentuk komitmen penerima beasiswa adalah kesediaan untuk kembali dan berkontribusi kepada pesantren yang memberikan rekomendasi.

"Ketika mereka dikembalikan ke pesantrennya masing-masing, salah satu MOU (perjanjian) antara penerima beasiswa dengan kami adalah mereka siap untuk dikembalikan ke pesantrennya yang memberikan rekomendasi untuk berkontribusi," katanya.

Menurutnya, pola tersebut penting agar beasiswa mampu memberikan dampak berkelanjutan. Santri tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga diharapkan menjadi sumber daya manusia yang mampu mengembangkan pesantren dan lingkungan sekitarnya.

Pada kesempatan itu, Pemprov Jateng juga memperluas kerja sama pendidikan melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan 25 Ma'had Aly atau perguruan tinggi berbasis pesantren.

Wagub menyebut kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses beasiswa bagi santri sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan perguruan tinggi.

Ia mengatakan, mekanisme seleksi penerima beasiswa untuk Ma'had Aly akan berbeda. Setelah kerja sama disepakati, proses seleksi dapat dilakukan dengan melibatkan pihak yang terkait langsung dengan pesantren.

Selain dalam negeri, Pemprov Jateng juga terus membuka peluang kerja sama pendidikan dengan perguruan tinggi di luar negeri. Wagub menyebut, pihaknya telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah kampus di Maroko.

Ia mengatakan, Pemprov Jateng sebelumnya juga telah memberikan beasiswa bagi santri yang menempuh pendidikan di sejumlah negara, antara lain Yaman, Mesir, Cina, serta perguruan tinggi di Indonesia.

Wagub meminta para penerima beasiswa memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Ia ingin para santri yang memperoleh beasiswa memiliki kompetensi akademik sekaligus tetap kuat dalam tradisi keilmuan pesantren.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu memahami perkembangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuan pesantren.


Bagikan :

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan pentingnya memadukan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) dengan nilai-nilai keislaman yang diajarkan di pesantren.

Hal itu disampaikannya saat memberikan arahan dalam acara Penyerahan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren di Gedung Merah Putih, Kota Semarang pada Rabu 12 Agustus 2026.

Maka dari itu, ia meminta para penerima beasiswa santri untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan modern tanpa meninggalkan tradisi serta nilai-nilai keilmuan pesantren.

Wagub menilai, perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah mengarahkan pemanfaatannya agar memberikan manfaat bagi pendidikan, pesantren, dan masyarakat.

Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi semakin penting bagi santri, terlebih di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang sudah masuk dalam berbagai bidang pendidikan.

Wagub mengingatkan agar AI tidak digunakan sekadar untuk mempermudah pengerjaan tugas, tetapi harus menjadi sarana pendukung proses belajar. Bahkan, kemampuan memahami teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan keilmuan dan akhlak.

"Para santri yang kami beri beasiswa kali ini, tolong pelajari betul teknologi, sains. Saat ini sudah menjadi metode pembelajaran bukan hanya di Indonesia, tetapi internasional," ujarnya.

Wagub juga menekankan bahwa beasiswa yang diberikan Pemerintah Provinsi Jateng tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata ketika kembali ke pesantren.

Ia mencontohkan kebutuhan pesantren terhadap tenaga profesional di berbagai bidang, seperti dokter, pertanian, maupun pengelolaan usaha.

"Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya," ujarnya.

Maka dari itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat mengembangkan keahlian yang tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan pesantren dan masyarakat.

Wagub mengatakan, salah satu bentuk komitmen penerima beasiswa adalah kesediaan untuk kembali dan berkontribusi kepada pesantren yang memberikan rekomendasi.

"Ketika mereka dikembalikan ke pesantrennya masing-masing, salah satu MOU (perjanjian) antara penerima beasiswa dengan kami adalah mereka siap untuk dikembalikan ke pesantrennya yang memberikan rekomendasi untuk berkontribusi," katanya.

Menurutnya, pola tersebut penting agar beasiswa mampu memberikan dampak berkelanjutan. Santri tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga diharapkan menjadi sumber daya manusia yang mampu mengembangkan pesantren dan lingkungan sekitarnya.

Pada kesempatan itu, Pemprov Jateng juga memperluas kerja sama pendidikan melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan 25 Ma'had Aly atau perguruan tinggi berbasis pesantren.

Wagub menyebut kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses beasiswa bagi santri sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan perguruan tinggi.

Ia mengatakan, mekanisme seleksi penerima beasiswa untuk Ma'had Aly akan berbeda. Setelah kerja sama disepakati, proses seleksi dapat dilakukan dengan melibatkan pihak yang terkait langsung dengan pesantren.

Selain dalam negeri, Pemprov Jateng juga terus membuka peluang kerja sama pendidikan dengan perguruan tinggi di luar negeri. Wagub menyebut, pihaknya telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah kampus di Maroko.

Ia mengatakan, Pemprov Jateng sebelumnya juga telah memberikan beasiswa bagi santri yang menempuh pendidikan di sejumlah negara, antara lain Yaman, Mesir, Cina, serta perguruan tinggi di Indonesia.

Wagub meminta para penerima beasiswa memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Ia ingin para santri yang memperoleh beasiswa memiliki kompetensi akademik sekaligus tetap kuat dalam tradisi keilmuan pesantren.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu memahami perkembangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuan pesantren.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu