Follow Us :              

Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri

  20 August 2026  |   10:00:00  |   dibaca : 152 
Kategori :
Bagikan :

Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri

20 August 2026 | 10:00:00 | dibaca : 152
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri
Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri
Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri
Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri
Atasi Kemiskinan lewat Pendidikan, Pemprov Jateng Terapkan Metode PBL di Desa Kepyar Wonogiri

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadikan Desa Kepyar, Kabupaten Wonogiri, sebagai proyek percontohan Project Based Learning (PBL) dalam upaya penuntasan kemiskinan. 

Program yang dijalankan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jateng itu mengandalkan kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan potensi desa.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, program tersebut melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, badan usaha milik daerah (BUMD), perangkat daerah, dan masyarakat.

“Harapannya, desa-desa itu bisa naik kelas, tidak miskin lagi, dan mampu bersaing dengan desa lain,” ucapnya di Kota Semarang pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, pendidikan dasar mempunyai peran penting dalam upaya memutus mata rantai kemiskinan. Oleh karena itu, penanganan kemiskinan tidak cukup hanya dilakukan melalui bantuan ekonomi, tetapi juga harus dibersamai dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pengentasan kemiskinan itu basisnya adalah (ditingkatkan) layanan dasar, yaitu pendidikan. Saya berharap terobosan kreatif ini bisa mereduksi jumlah desa miskin di tempat kita,” ujarnya.

Sebagai informasi, Desa Kepyar merupakan salah satu lokus program Desa Dampingan Pemprov Jateng. Desa tersebut memiliki jumlah penduduk sekitar 4.400 orang. Saat ini, sebagian masyarakat masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan bekerja sebagai buruh tani.

Selain penguatan ekonomi, program ini menyasar persoalan pendidikan, kesehatan, pemenuhan gizi, rumah tidak layak huni, dan sanitasi. Literasi serta inklusi keuangan masyarakat juga menjadi bagian dari pendampingan.

Desa Kepyar memiliki sekitar 596 hektare lahan pertanian, 8 kelompok tani, 12 UMKM, dan 15 pedagang mikro. Berbagai potensi tersebut akan dikembangkan untuk memperluas sumber penghasilan masyarakat.

Potensi wisata di desa itu juga cukup beragam, mulai dari agrowisata semangka dan melon, river tubing, Air Terjun Sanginan, hingga Watu Lumbung. Pengembangannya diharapkan dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus memperkuat usaha masyarakat.

Melalui PBL, sektor pertanian akan diperkuat, UMKM didampingi, dan potensi wisata dibantu agar semakin berkembang. Dengan demikian, penanganan kemiskinan tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga peningkatan kapasitas dan akses usaha masyarakat.

“Tentu perlu kebersamaan antara universitas, masyarakat, BUMD, dan dinas terkait untuk ikut turun, sehingga masyarakat lebih berdaya dan tidak kembali miskin,” ucap Gubernur.

Pemprov Jateng berharap pola pendampingan ini mampu memberikan hasil nyata dan berkelanjutan. Apabila berhasil diterapkan di Desa Kepyar, program itu dapat dikembangkan sebagai model penuntasan kemiskinan di desa-desa lain di Jawa Tengah.


Bagikan :

SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadikan Desa Kepyar, Kabupaten Wonogiri, sebagai proyek percontohan Project Based Learning (PBL) dalam upaya penuntasan kemiskinan. 

Program yang dijalankan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jateng itu mengandalkan kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan potensi desa.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, program tersebut melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, badan usaha milik daerah (BUMD), perangkat daerah, dan masyarakat.

“Harapannya, desa-desa itu bisa naik kelas, tidak miskin lagi, dan mampu bersaing dengan desa lain,” ucapnya di Kota Semarang pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, pendidikan dasar mempunyai peran penting dalam upaya memutus mata rantai kemiskinan. Oleh karena itu, penanganan kemiskinan tidak cukup hanya dilakukan melalui bantuan ekonomi, tetapi juga harus dibersamai dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pengentasan kemiskinan itu basisnya adalah (ditingkatkan) layanan dasar, yaitu pendidikan. Saya berharap terobosan kreatif ini bisa mereduksi jumlah desa miskin di tempat kita,” ujarnya.

Sebagai informasi, Desa Kepyar merupakan salah satu lokus program Desa Dampingan Pemprov Jateng. Desa tersebut memiliki jumlah penduduk sekitar 4.400 orang. Saat ini, sebagian masyarakat masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan bekerja sebagai buruh tani.

Selain penguatan ekonomi, program ini menyasar persoalan pendidikan, kesehatan, pemenuhan gizi, rumah tidak layak huni, dan sanitasi. Literasi serta inklusi keuangan masyarakat juga menjadi bagian dari pendampingan.

Desa Kepyar memiliki sekitar 596 hektare lahan pertanian, 8 kelompok tani, 12 UMKM, dan 15 pedagang mikro. Berbagai potensi tersebut akan dikembangkan untuk memperluas sumber penghasilan masyarakat.

Potensi wisata di desa itu juga cukup beragam, mulai dari agrowisata semangka dan melon, river tubing, Air Terjun Sanginan, hingga Watu Lumbung. Pengembangannya diharapkan dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus memperkuat usaha masyarakat.

Melalui PBL, sektor pertanian akan diperkuat, UMKM didampingi, dan potensi wisata dibantu agar semakin berkembang. Dengan demikian, penanganan kemiskinan tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga peningkatan kapasitas dan akses usaha masyarakat.

“Tentu perlu kebersamaan antara universitas, masyarakat, BUMD, dan dinas terkait untuk ikut turun, sehingga masyarakat lebih berdaya dan tidak kembali miskin,” ucap Gubernur.

Pemprov Jateng berharap pola pendampingan ini mampu memberikan hasil nyata dan berkelanjutan. Apabila berhasil diterapkan di Desa Kepyar, program itu dapat dikembangkan sebagai model penuntasan kemiskinan di desa-desa lain di Jawa Tengah.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu