Follow Us :              

CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah

  27 August 2026  |   14:00:00  |   dibaca : 366 
Kategori :
Bagikan :

CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah

27 August 2026 | 14:00:00 | dibaca : 366
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah
CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah
CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah
CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah
CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun untuk Jawa Tengah

Foto : Adit (Humas Jateng)

JAKARTA – Gelaran Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Jakarta, mencatat potensi investasi senilai Rp19,07 triliun.

Angka tersebut diperkirakan masih terus bertambah seiring dengan adanya sesi one-on-one meeting antara pelaku usaha dan calon investor pada kegiatan yang dihelat di Hotel Bidakara, Jakarta pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyampaikan, CJIBF 2026 diselenggarakan di Jakarta untuk mendekatkan berbagai peluang investasi di Jawa Tengah kepada calon investor yang banyak beraktivitas di ibu kota.

“Kegiatan CJIBF diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, asosiasi, BUMD, BUMN, perbankan, serta calon investor dari dalam dan luar negeri,” ucapnya.

CJIBF 2026 yang diselenggarakan di Jakarta merupakan gelaran kedua. Sebelumnya, CJIBF sudah dilaksanakan di Kota Semarang pada Mei 2026.

Kegiatan ini diawali dengan one-on-one meeting antara pelaku usaha dan calon investor. Dari kegiatan tersebut, tercatat ada 74 pertemuan dari 36 pelaku usaha. Kemudian, pertemuan ini akan ditindaklanjuti dengan pendampingan investasi.

Selain itu, pertemuan tersebut juga menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama investasi, di antaranya penandatanganan Letter of Intent (LoI) penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Komitmen kerja sama datang dari berbagai pihak, antara lain PT Hyrecmas Garam Nusantara dengan rencana investasi Rp681,84 miliar; PT Hailex Technology Indonesia sebesar Rp175 miliar; PT Cipta Kreasi Wisata sebesar Rp200 miliar; serta PT Fayyad Industri Pangan Halal Terhubung dengan rencana investasi Rp8,75 triliun.

Selain itu, terdapat kerja sama pengembangan Waste to Energy atau pengolahan sampah/limbah menjadi energi antara PT Energy International dan 7 kabupaten/kota di Jateng, serta komitmen investasi PT Yosun Tire and Rubber Indonesia asal Cina senilai Rp4 triliun di KEK Industropolis Batang.

Perwakilan British Chamber, Danish Chamber of Commerce, dan Consul Asia, Ian Betts, menilai Jawa Tengah memiliki potensi besar, terutama pada sektor investasi hijau, ekowisata, serta kawasan industri.

Menurut Ian, konsep pembangunan berkelanjutan juga menjadi salah satu daya tarik bagi investor global, karena sejalan dengan kebutuhan industri masa depan.

“Saya melihat ada ketertarikan besar terhadap sektor hijau dan berkelanjutan, serta ekowisata. Ini merupakan hal baru dan sangat menarik, sehingga investor asing mungkin akan tertarik dengan peluang tersebut,” ucapnya.

Ia juga menilai keberadaan kawasan industri dan ekonomi khusus memberikan keuntungan bagi para investor, karena kawasan ini menghadirkan ekosistem usaha yang lebih siap, mulai dari fasilitas, insentif, hingga kepastian dalam menjalankan bisnis.

“Saya tertarik dengan Batang dan Kendal, karena keduanya terhubung dengan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Bagi saya, kawasan seperti itu lebih mudah dipromosikan kepada investor asing,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan bahwa CJIBF menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem investasi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

“Tugas kami adalah mempermudah izin, menyiapkan lahan, menjaga keamanan, serta menjamin kepastian (hukum), agar pertumbuhan ekonomi dan bisnis berkembang di Jawa Tengah,” ucapnya.

Ia mengatakan, setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki potensi yang berbeda, sehingga strategi investasinya perlu disesuaikan dengan karakter dan keunggulan masing-masing daerah.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah daerah ingin memastikan investasi tidak hanya berkembang di pusat ekonomi tertentu, tetapi juga membuka peluang terciptanya pusat pertumbuhan baru di berbagai wilayah.

Selain menarik investasi besar, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong agar pertumbuhan industri dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal.

Gubernur menyebut, Jawa Tengah memiliki sekitar 4,2 juta UMKM yang perlu didorong agar berkembang dan masuk dalam rantai pasok industri.

“Yang dibutuhkan bukan hanya permodalan dan pemasaran, tetapi bagaimana usaha mikro bisa naik kelas menjadi kecil atau menengah,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Ichsan Zulkarnaen, mengatakan bahwa investasi Indonesia ke depan akan diarahkan pada sektor yang memberikan nilai tambah lebih tinggi.

Ia menilai, Jawa Tengah memiliki daya tarik investasi yang kuat, karena didukung kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta ekosistem pendukung yang terus berkembang.

“Jawa Tengah menjadi salah satu pendorong investasi, karena memiliki 2 kawasan ekonomi khusus dan 7 kawasan industri, yang beberapa di antaranya sudah memiliki fasilitas KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi),” katanya.


Bagikan :

JAKARTA – Gelaran Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Jakarta, mencatat potensi investasi senilai Rp19,07 triliun.

Angka tersebut diperkirakan masih terus bertambah seiring dengan adanya sesi one-on-one meeting antara pelaku usaha dan calon investor pada kegiatan yang dihelat di Hotel Bidakara, Jakarta pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyampaikan, CJIBF 2026 diselenggarakan di Jakarta untuk mendekatkan berbagai peluang investasi di Jawa Tengah kepada calon investor yang banyak beraktivitas di ibu kota.

“Kegiatan CJIBF diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, asosiasi, BUMD, BUMN, perbankan, serta calon investor dari dalam dan luar negeri,” ucapnya.

CJIBF 2026 yang diselenggarakan di Jakarta merupakan gelaran kedua. Sebelumnya, CJIBF sudah dilaksanakan di Kota Semarang pada Mei 2026.

Kegiatan ini diawali dengan one-on-one meeting antara pelaku usaha dan calon investor. Dari kegiatan tersebut, tercatat ada 74 pertemuan dari 36 pelaku usaha. Kemudian, pertemuan ini akan ditindaklanjuti dengan pendampingan investasi.

Selain itu, pertemuan tersebut juga menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama investasi, di antaranya penandatanganan Letter of Intent (LoI) penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Komitmen kerja sama datang dari berbagai pihak, antara lain PT Hyrecmas Garam Nusantara dengan rencana investasi Rp681,84 miliar; PT Hailex Technology Indonesia sebesar Rp175 miliar; PT Cipta Kreasi Wisata sebesar Rp200 miliar; serta PT Fayyad Industri Pangan Halal Terhubung dengan rencana investasi Rp8,75 triliun.

Selain itu, terdapat kerja sama pengembangan Waste to Energy atau pengolahan sampah/limbah menjadi energi antara PT Energy International dan 7 kabupaten/kota di Jateng, serta komitmen investasi PT Yosun Tire and Rubber Indonesia asal Cina senilai Rp4 triliun di KEK Industropolis Batang.

Perwakilan British Chamber, Danish Chamber of Commerce, dan Consul Asia, Ian Betts, menilai Jawa Tengah memiliki potensi besar, terutama pada sektor investasi hijau, ekowisata, serta kawasan industri.

Menurut Ian, konsep pembangunan berkelanjutan juga menjadi salah satu daya tarik bagi investor global, karena sejalan dengan kebutuhan industri masa depan.

“Saya melihat ada ketertarikan besar terhadap sektor hijau dan berkelanjutan, serta ekowisata. Ini merupakan hal baru dan sangat menarik, sehingga investor asing mungkin akan tertarik dengan peluang tersebut,” ucapnya.

Ia juga menilai keberadaan kawasan industri dan ekonomi khusus memberikan keuntungan bagi para investor, karena kawasan ini menghadirkan ekosistem usaha yang lebih siap, mulai dari fasilitas, insentif, hingga kepastian dalam menjalankan bisnis.

“Saya tertarik dengan Batang dan Kendal, karena keduanya terhubung dengan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Bagi saya, kawasan seperti itu lebih mudah dipromosikan kepada investor asing,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan bahwa CJIBF menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem investasi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

“Tugas kami adalah mempermudah izin, menyiapkan lahan, menjaga keamanan, serta menjamin kepastian (hukum), agar pertumbuhan ekonomi dan bisnis berkembang di Jawa Tengah,” ucapnya.

Ia mengatakan, setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki potensi yang berbeda, sehingga strategi investasinya perlu disesuaikan dengan karakter dan keunggulan masing-masing daerah.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah daerah ingin memastikan investasi tidak hanya berkembang di pusat ekonomi tertentu, tetapi juga membuka peluang terciptanya pusat pertumbuhan baru di berbagai wilayah.

Selain menarik investasi besar, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong agar pertumbuhan industri dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal.

Gubernur menyebut, Jawa Tengah memiliki sekitar 4,2 juta UMKM yang perlu didorong agar berkembang dan masuk dalam rantai pasok industri.

“Yang dibutuhkan bukan hanya permodalan dan pemasaran, tetapi bagaimana usaha mikro bisa naik kelas menjadi kecil atau menengah,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Ichsan Zulkarnaen, mengatakan bahwa investasi Indonesia ke depan akan diarahkan pada sektor yang memberikan nilai tambah lebih tinggi.

Ia menilai, Jawa Tengah memiliki daya tarik investasi yang kuat, karena didukung kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta ekosistem pendukung yang terus berkembang.

“Jawa Tengah menjadi salah satu pendorong investasi, karena memiliki 2 kawasan ekonomi khusus dan 7 kawasan industri, yang beberapa di antaranya sudah memiliki fasilitas KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi),” katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu