Follow Us :              

Teduhnya Peringatan Asadha di Borobudur

  22 July 2018  |   17:00:00  |   dibaca : 3019 
Kategori :
Bagikan :


Teduhnya Peringatan Asadha di Borobudur

22 July 2018 | 17:00:00 | dibaca : 3019
Kategori :
Bagikan :

Foto : (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : (Humas Jateng)

MAGELANG - Peringatan Asadha menjadi momentum bagi umat Buddha untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan isi ajaran kitab suci sebagai pedoman hidup, petunjuk yang abadi, dan universal. Umat Buddha meyakini bahwa Tipitaka adalah sumber utama ajaran Buddha dan sumber ilmu pengetahuan yang tak habis-habisnya untuk digali dan dikaji. 

Dalam ajaran Buddha, pikiran adalah karunia yang sangat penting yang dimiliki oleh manusia. Hidup berdasarkan pikiran semata tidak akan pernah mampu membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan yang hakiki. 

"Sebagaimana Buddha mengajarkan, pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus bergerak ke mana dia mau pergi. Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya karena pikiran yang terkendali seiring dengan kebenaran sejati akan membawa kebahagiaan yang hakiki," terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menghadiri acara Puja Bakti Agung Asadha (Asalha Mahapuja) 2562 Tahun 2018 di Lapangan Kenari Borobudur, Minggu (22/7/2018) sore.

Menag Lukman Hakim menjelaskan, agama mengajarkan kepada manusia tentang toleransi, keadilan, kebaikan, kedamaian kesejahteraan, dan tidak mengajarkan kekerasan. Namun, dalam kenyataan sehari-hari terkadang masih dijumpai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab, seolah-olah memberi kesan bahwa tindakan mereka itu ditujukan untuk membela agama. 

"Saya ingin tegaskan bahwa setiap tindakan memaksakan kehendak, apalagi dengan menggunakan kekerasan, adalah bertentangan dengan ajaran agama. Karena agama sesungguhnya mengajarkan kedamaian dan bertujuan untuk menyelamatkan segenap umat manusia," tegasnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat, termasuk umat Buddha, untuk tidak terpengaruh dengan paham-paham yang menggunakan kekerasan atas nama agama. 

"Para bhikkhu perlu terus menyampaikan pemahaman Buddha Dhamma yang benar dan utuh kepada umat di tengah perkembangan kehidupan masyarakat yang penuh dinamika dan tantangan. Marilah kita jaga rumah-rumah ibadah kita dan tempat pendidikan anak kita agar tidak menjadi tempat yang rawan akan pengaruh paham yang tidak benar," imbaunya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengungkapkan, Puja Bakti Agung Asadha (Asalha Mahapuja) memberikan pengalaman spiritual bagi umat Buddha.

"Rasanya hati ini adem ayem, teduh karena Bapak/Ibu berkonsentrasi penuh sejak kurang lebih dua setengah hari lalu untuk melaksanakan acara ini dan pasti ada pengalaman-pengalaman spiritual," ujarnya.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu menambahkan, Candi Borobudur merupakan "mahakarya" candi Buddha terbesar di dunia yang menjadi "magnet" bukan hanya bagi umat Buddha, namun juga masyarakat umum. Dari segi kebudayaan, pengunjung Candi Borobudur dapat mempelajari kerukunan antar umat beragama yang tinggal di sekitarnya.

"Untuk warga Indonesia, sebenarnya ini adalah warisan di antara kita semua, seluruh umat beragama. Bagaimana kita menjaga kerukunan, saling menghormati, bergotong-royong dan inilah cagaknya republik. Inilah kekuatan bangsa dan negara yang tidak boleh tergoyahkan oleh siapapun dan oleh isu apapun sehingga setiap saat semua punya hak untuk beribadah dengan tenang," pungkasnya.

(Arifa/Puji/Humas Jateng)

 

Baca juga : Tak Hanya Fahami Tripitaka, Tapi Dukung Revolusi Mental


Bagikan :

MAGELANG - Peringatan Asadha menjadi momentum bagi umat Buddha untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan isi ajaran kitab suci sebagai pedoman hidup, petunjuk yang abadi, dan universal. Umat Buddha meyakini bahwa Tipitaka adalah sumber utama ajaran Buddha dan sumber ilmu pengetahuan yang tak habis-habisnya untuk digali dan dikaji. 

Dalam ajaran Buddha, pikiran adalah karunia yang sangat penting yang dimiliki oleh manusia. Hidup berdasarkan pikiran semata tidak akan pernah mampu membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan yang hakiki. 

"Sebagaimana Buddha mengajarkan, pikiran itu sangat sulit untuk diawasi dan sangat halus bergerak ke mana dia mau pergi. Orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya karena pikiran yang terkendali seiring dengan kebenaran sejati akan membawa kebahagiaan yang hakiki," terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menghadiri acara Puja Bakti Agung Asadha (Asalha Mahapuja) 2562 Tahun 2018 di Lapangan Kenari Borobudur, Minggu (22/7/2018) sore.

Menag Lukman Hakim menjelaskan, agama mengajarkan kepada manusia tentang toleransi, keadilan, kebaikan, kedamaian kesejahteraan, dan tidak mengajarkan kekerasan. Namun, dalam kenyataan sehari-hari terkadang masih dijumpai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab, seolah-olah memberi kesan bahwa tindakan mereka itu ditujukan untuk membela agama. 

"Saya ingin tegaskan bahwa setiap tindakan memaksakan kehendak, apalagi dengan menggunakan kekerasan, adalah bertentangan dengan ajaran agama. Karena agama sesungguhnya mengajarkan kedamaian dan bertujuan untuk menyelamatkan segenap umat manusia," tegasnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat, termasuk umat Buddha, untuk tidak terpengaruh dengan paham-paham yang menggunakan kekerasan atas nama agama. 

"Para bhikkhu perlu terus menyampaikan pemahaman Buddha Dhamma yang benar dan utuh kepada umat di tengah perkembangan kehidupan masyarakat yang penuh dinamika dan tantangan. Marilah kita jaga rumah-rumah ibadah kita dan tempat pendidikan anak kita agar tidak menjadi tempat yang rawan akan pengaruh paham yang tidak benar," imbaunya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengungkapkan, Puja Bakti Agung Asadha (Asalha Mahapuja) memberikan pengalaman spiritual bagi umat Buddha.

"Rasanya hati ini adem ayem, teduh karena Bapak/Ibu berkonsentrasi penuh sejak kurang lebih dua setengah hari lalu untuk melaksanakan acara ini dan pasti ada pengalaman-pengalaman spiritual," ujarnya.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu menambahkan, Candi Borobudur merupakan "mahakarya" candi Buddha terbesar di dunia yang menjadi "magnet" bukan hanya bagi umat Buddha, namun juga masyarakat umum. Dari segi kebudayaan, pengunjung Candi Borobudur dapat mempelajari kerukunan antar umat beragama yang tinggal di sekitarnya.

"Untuk warga Indonesia, sebenarnya ini adalah warisan di antara kita semua, seluruh umat beragama. Bagaimana kita menjaga kerukunan, saling menghormati, bergotong-royong dan inilah cagaknya republik. Inilah kekuatan bangsa dan negara yang tidak boleh tergoyahkan oleh siapapun dan oleh isu apapun sehingga setiap saat semua punya hak untuk beribadah dengan tenang," pungkasnya.

(Arifa/Puji/Humas Jateng)

 

Baca juga : Tak Hanya Fahami Tripitaka, Tapi Dukung Revolusi Mental


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu