Follow Us :              

Pernah Dikunjungi Ganjar, Ini Rahasia Tekstur Empuk Sate Kambing Tali Roso

  02 March 2019  |   11:30:00  |   dibaca : 32741 
Kategori :
Bagikan :


Pernah Dikunjungi Ganjar, Ini Rahasia Tekstur Empuk Sate Kambing Tali Roso

02 March 2019 | 11:30:00 | dibaca : 32741
Kategori :
Bagikan :

Foto : Aditya (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Aditya (Humas Jateng)

KLATEN - Menjelajahi wisata kuliner di Klaten memang tak pernah ada habisnya. Apalagi mencicipi menu di warung makan yang menyajikan olahan daging kambing. Salah satu yang paling mantap untuk disambangi adalah warung makan Sate Kambing Tali Roso. 

Warung sate kambing ini berlokasi di kawasan selatan Pasar Wedi, tepatnya di Jalan Raya Bendogantungan - Bayat, Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Bila sudah berada di kawasan tersebut, anda akan mudah menemukannya. 

Kepulan asap membumbung ke langit, dapat menjadi penanda keberadaan warung makan di pinggir jalan yang sudah ada sejak tahun 1990-an ini. Menariknya, Sate Kambing Tali Roso dalam proses pembakarannya tidak menggunakan tusuk kayu, melainkan tusuk besi dari jeruji sepeda.

“Kalau pakai tusuk bambu bisa terbakar itu tusuknya. Tetapi kalau menggunakan tusuk ruji menjadikan pembakaran daging lebih matang dan empuk saat digigit,” ucap Tri Sumarno, 50, pemilik warung makan Sate Kambing Tali Roso membuka rahasianya.

Dia juga menjelaskan, dalam setiap porsinya terdiri dari satu tusuk besi. Namun bukan berarti jumlah dagingnya sedikit. Karena setiap tusuk dari besi yang panjangnya 30cm tersebut berisi potongan daging kambing yang kira-kira hampir tiga kali lipat dari porsi sate pada umumnya.

Proses memasak berikutnya, sambung dia, tusukan sate besi "super besar" itu langsung dibakar di atas tungku yang sudah diisi dengan arang panas. Begitu matang, daging kambing hasil pembakaran langsung dilepas dari tusukannya dan dimasukkan ke dalam kuah bumbu kecap.

"Panci berisi bumbu kecap ini kayak celupan masakan ayam bakar. Isinya ada ketumbar, brambang (bawang merah), bawang (bawang putih), rempah dan bumbu lainnya. Kemudian daging yang dibakar dengan ruji bercampur racikan bumbu kecap ini bisa meresap sampai ke dalam daging. Alhasil, memberikan rasa dan aroma nikmat," jelas Tri. 

Sementara itu, sang istri, Partiyem, 48, menambahkan, dalam sehari sekitar 3-4 ekor kambing dipotong untuk bahan baku sate. Sedangkan tiap akhir pekan jumlahnya bisa meningkat hingga 5-6 ekor kambing yang dipotong. Pemotongan kambing dilakukan setiap subuh itu bertujuan untuk menjaga kesegaran rasa daging. "Bumbu kecap kita masak sendiri, potong kambingnya pun juga. Sehingga tetap fresh," imbuhnya.

Soal penyajian, sate hasil pembakaran dari jeruji tersebut dihidangkan dengan irisan kol mentah, tomat dan mentimun serta sepiring nasi putih. Pembeli cukup merogoh kocek Rp35 ribu untuk mendapatkan seporsi sate kambing Tali Roso plus segelas minuman es teh maupun es jeruk. Adapun jam operasionalnya, buka setiap hari mulai pukul 09.00WIB sampai petang atau habis.

"Pak Ganjar Pranowo usai menghadiri perayaan Hari Raya Nyepi di Candi Prambanan tiga tahun lalu juga pernah makan di sini. Saya sajikan dua porsi sate juga habis. Mungkin sate kambing kami memang naleni roso (mengikat rasa)," ujar Partiyem, seraya menunjuk foto Gubernur Ganjar Pranowo yang dipigura di dinding sebagai bukti bahwa orang nomor satu di Jateng itu pernah mampir makan di warungnya.

 

Baca juga : Hendak Berwisata ke Umbul Ponggok? Yuk Cicipi Opor Bebek Bu Yadi Yang Mak Nyus


Bagikan :

KLATEN - Menjelajahi wisata kuliner di Klaten memang tak pernah ada habisnya. Apalagi mencicipi menu di warung makan yang menyajikan olahan daging kambing. Salah satu yang paling mantap untuk disambangi adalah warung makan Sate Kambing Tali Roso. 

Warung sate kambing ini berlokasi di kawasan selatan Pasar Wedi, tepatnya di Jalan Raya Bendogantungan - Bayat, Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Bila sudah berada di kawasan tersebut, anda akan mudah menemukannya. 

Kepulan asap membumbung ke langit, dapat menjadi penanda keberadaan warung makan di pinggir jalan yang sudah ada sejak tahun 1990-an ini. Menariknya, Sate Kambing Tali Roso dalam proses pembakarannya tidak menggunakan tusuk kayu, melainkan tusuk besi dari jeruji sepeda.

“Kalau pakai tusuk bambu bisa terbakar itu tusuknya. Tetapi kalau menggunakan tusuk ruji menjadikan pembakaran daging lebih matang dan empuk saat digigit,” ucap Tri Sumarno, 50, pemilik warung makan Sate Kambing Tali Roso membuka rahasianya.

Dia juga menjelaskan, dalam setiap porsinya terdiri dari satu tusuk besi. Namun bukan berarti jumlah dagingnya sedikit. Karena setiap tusuk dari besi yang panjangnya 30cm tersebut berisi potongan daging kambing yang kira-kira hampir tiga kali lipat dari porsi sate pada umumnya.

Proses memasak berikutnya, sambung dia, tusukan sate besi "super besar" itu langsung dibakar di atas tungku yang sudah diisi dengan arang panas. Begitu matang, daging kambing hasil pembakaran langsung dilepas dari tusukannya dan dimasukkan ke dalam kuah bumbu kecap.

"Panci berisi bumbu kecap ini kayak celupan masakan ayam bakar. Isinya ada ketumbar, brambang (bawang merah), bawang (bawang putih), rempah dan bumbu lainnya. Kemudian daging yang dibakar dengan ruji bercampur racikan bumbu kecap ini bisa meresap sampai ke dalam daging. Alhasil, memberikan rasa dan aroma nikmat," jelas Tri. 

Sementara itu, sang istri, Partiyem, 48, menambahkan, dalam sehari sekitar 3-4 ekor kambing dipotong untuk bahan baku sate. Sedangkan tiap akhir pekan jumlahnya bisa meningkat hingga 5-6 ekor kambing yang dipotong. Pemotongan kambing dilakukan setiap subuh itu bertujuan untuk menjaga kesegaran rasa daging. "Bumbu kecap kita masak sendiri, potong kambingnya pun juga. Sehingga tetap fresh," imbuhnya.

Soal penyajian, sate hasil pembakaran dari jeruji tersebut dihidangkan dengan irisan kol mentah, tomat dan mentimun serta sepiring nasi putih. Pembeli cukup merogoh kocek Rp35 ribu untuk mendapatkan seporsi sate kambing Tali Roso plus segelas minuman es teh maupun es jeruk. Adapun jam operasionalnya, buka setiap hari mulai pukul 09.00WIB sampai petang atau habis.

"Pak Ganjar Pranowo usai menghadiri perayaan Hari Raya Nyepi di Candi Prambanan tiga tahun lalu juga pernah makan di sini. Saya sajikan dua porsi sate juga habis. Mungkin sate kambing kami memang naleni roso (mengikat rasa)," ujar Partiyem, seraya menunjuk foto Gubernur Ganjar Pranowo yang dipigura di dinding sebagai bukti bahwa orang nomor satu di Jateng itu pernah mampir makan di warungnya.

 

Baca juga : Hendak Berwisata ke Umbul Ponggok? Yuk Cicipi Opor Bebek Bu Yadi Yang Mak Nyus


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu