Follow Us :              

Gagal Rayu Mbah Jumadi Tinggal di Panti, Gubernur Ganjar Minta Kades dan Warga Peduli

  12 March 2020  |   16:00:00  |   dibaca : 563 
Kategori :
Bagikan :


Gagal Rayu Mbah Jumadi Tinggal di Panti, Gubernur Ganjar Minta Kades dan Warga Peduli

12 March 2020 | 16:00:00 | dibaca : 563
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

KABUPATEN SEMARANG – Meski kondisinya telah renta, Mbah Jumadi (85) bersikukuh tinggal di rumah berukuran 3x3 meter di Desa Polosiri Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Bahkan, tawaran dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar dia pindah ke panti jompo yang lebih nyaman pun tidak dia terima.

Saat kunjungan kerja di Kabupaten Semarang, Kamis (12/3/2020), Ganjar tergugah melihat kondisi rumah Mbah Jumadi. Dia pun berinisiatif untuk mengajak Jumadi pindah ke panti sosial milik Pemprov Jawa Tengah di Ungaran. 

"Purun nggih manggon ing Ungaran? Mangkih enak, kathah rencange. Mangan yo enak, gratis. (Mau ya tinggal di Ungaran, nanti disana enak. Banyak temannya. Makan juga enak, semuanya gratis)," rayu Ganjar.

Tak hanya itu, Ganjar juga berjanji akan membelikan sarung, baju baru dan berbagai kebutuhan Jumadi. Dia juga menggoda Jumadi bahwa di panti banyak janda cantik.

"Boten pengen rabi malih? Ning panti kathah randa, Mbah. (Tidak ingin menikah lagi? Di Panti Sosial banyak janda, Mbah)," canda Ganjar.

Segala tawaran Ganjar tak membuat Jumadi bergeming. Dia tetap memilih tinggal di rumah tepi sawahnya.

"Boten, kula manggon mriki mawon. Nek manggon liyane, kula cepet mati. (Tidak, saya tinggal di sini saja. Kalau tinggal di tempat lain, nanti cepat meninggal)," jawab Jumadi.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Jarwanto mengatakan, sudah tak terhitung orang-orang merayu Mbah Jumadi. Mulai kepala desa, camat, bupati hingga saat ini gubernur. Menurut Jarwanto, Jumadi adalah penganut Kejawen yang tidak akan pernah mau meninggalkan rumahnya.

"Dia itu tidak mau pergi alasannya karena seluruh keluarganya meninggal di desa itu. Kalau dia pergi, katanya siapa yang mendoakan. Mbahnya tidak mau meninggalkan tempat kelahirannya," kata 

Hal itu pula yang membuat warga pasrah. Warga pun berinisiatif membangunkan rumah sederhana, memberikan makanan, pakaian serta uang. 

"Kondisinya sehat, hanya memang sudah lansia. Kami selalu mengawasi bersama-sama," imbuh Jarwanto.

Melihat tawarannya tidak menggugah Jumadi, Ganjar pun berpesan kepada kades, TKSK dan masyarakat untuk lebih peduli pada pria renta ini. "Saya juga minta tempat tinggalnya dibersihkan, kesehatan dicek terus dan dipastikan mendapat kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah pak kades, TKSK dan warganya peduli," tutup Ganjar.


Bagikan :

KABUPATEN SEMARANG – Meski kondisinya telah renta, Mbah Jumadi (85) bersikukuh tinggal di rumah berukuran 3x3 meter di Desa Polosiri Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Bahkan, tawaran dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar dia pindah ke panti jompo yang lebih nyaman pun tidak dia terima.

Saat kunjungan kerja di Kabupaten Semarang, Kamis (12/3/2020), Ganjar tergugah melihat kondisi rumah Mbah Jumadi. Dia pun berinisiatif untuk mengajak Jumadi pindah ke panti sosial milik Pemprov Jawa Tengah di Ungaran. 

"Purun nggih manggon ing Ungaran? Mangkih enak, kathah rencange. Mangan yo enak, gratis. (Mau ya tinggal di Ungaran, nanti disana enak. Banyak temannya. Makan juga enak, semuanya gratis)," rayu Ganjar.

Tak hanya itu, Ganjar juga berjanji akan membelikan sarung, baju baru dan berbagai kebutuhan Jumadi. Dia juga menggoda Jumadi bahwa di panti banyak janda cantik.

"Boten pengen rabi malih? Ning panti kathah randa, Mbah. (Tidak ingin menikah lagi? Di Panti Sosial banyak janda, Mbah)," canda Ganjar.

Segala tawaran Ganjar tak membuat Jumadi bergeming. Dia tetap memilih tinggal di rumah tepi sawahnya.

"Boten, kula manggon mriki mawon. Nek manggon liyane, kula cepet mati. (Tidak, saya tinggal di sini saja. Kalau tinggal di tempat lain, nanti cepat meninggal)," jawab Jumadi.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Jarwanto mengatakan, sudah tak terhitung orang-orang merayu Mbah Jumadi. Mulai kepala desa, camat, bupati hingga saat ini gubernur. Menurut Jarwanto, Jumadi adalah penganut Kejawen yang tidak akan pernah mau meninggalkan rumahnya.

"Dia itu tidak mau pergi alasannya karena seluruh keluarganya meninggal di desa itu. Kalau dia pergi, katanya siapa yang mendoakan. Mbahnya tidak mau meninggalkan tempat kelahirannya," kata 

Hal itu pula yang membuat warga pasrah. Warga pun berinisiatif membangunkan rumah sederhana, memberikan makanan, pakaian serta uang. 

"Kondisinya sehat, hanya memang sudah lansia. Kami selalu mengawasi bersama-sama," imbuh Jarwanto.

Melihat tawarannya tidak menggugah Jumadi, Ganjar pun berpesan kepada kades, TKSK dan masyarakat untuk lebih peduli pada pria renta ini. "Saya juga minta tempat tinggalnya dibersihkan, kesehatan dicek terus dan dipastikan mendapat kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah pak kades, TKSK dan warganya peduli," tutup Ganjar.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu