Follow Us :              

Unesco Tetapkan Gamelan Sebagai WBTb, Pemprov Jateng Siap Kerjasama dengan Seniman

  16 December 2021  |   12:00:00  |   dibaca : 308 
Kategori :
Bagikan :


Unesco Tetapkan Gamelan Sebagai WBTb, Pemprov Jateng Siap Kerjasama dengan Seniman

16 December 2021 | 12:00:00 | dibaca : 308
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

SEMARANG -  Penetapan gamelan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) disambut gembira oleh pemerintah dan praktisi budaya Jawa. Penetapan ini dilakukan Komite Konvensi Warisan Budaya Tak Benda/WBTB (Intangible Cultural Heritage/ICH) UNESCO pada 15 Desember 2021 lalu. 

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah Eris Yunianto, menyebut untuk lebih menyemangati para pelaku seni, pihaknya akan berkolaborasi dengan masyarakat untuk melestarikan gamelan. 

"Kita bergerak gotong royong dengan dukungan masyarakat. Dalam konteks ini, kami sudah mencoba untuk melestarikan lewat lomba karawitan virtual untuk para pelajar pada Oktober 2021 lalu," tuturnya, dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (16/12/2021). 

Proses ditetapkannya gamelan sebagai WBTb oleh UNESCO telah melalui mekanisme yang panjang. Usulan ini dimulai dari praktisi sekaligus dosen di ISI Surakarta pada sekitar tahun 2014. 

Pada saat itu, gamelan bersaing dengan calon WBTb lain seperti lukisan Bali, Tempe, Kolintang dan Reog Ponorogo. Setelah kompetisi itu, barulah Kemendikbudristek RI menobatkan gamelan, untuk diusulkan ke UNESCO sebagai calon WBTb. 

Hingga saat ini, sudah ada 11 WBTb asal Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO. Di antaranya, Wayang, Keris, Batik, Pendidikan dan Pelatihan Batik, Angklung , Tari Saman, Noken, Tiga Genre Tari Tradisional di Bali, Seni Pembuatan Kapal Pinisi, Tradisi Pencak Silat, dan Pantun. 

"Kalau usulan dari Jawa Tengah itu ada empat, yang masuk di antaranya batik, wayang, keris dan gamelan. Ini sedang proses Jamu dan  tempe," ungkapnya 

Dosen ISI Surakarta lainnya yang juga seorang praktisi gamelan Suraji, menyambut  gembira pencapaian ini. Ia menyebut, setelah ini pihaknya akan mengadakan rencana aksi untuk dapat membumikan dan mempopulerkan gamelan di kalangan anak muda. 

Menurut Suraji, gamelan bukan hanya seperangkat alat musik berupa saron, gong dan bonang, kendang, rebab dan sitar. Di dalam gamelan lanjutnya, terdapat nilai filosofi dan historis yang panjang. Hal itu bisa dilihat dari adanya gamelan terukir pada relief Candi Borobudur. 

Suraji mengatakan, penetapan gamelan sebagai WBTb oleh UNESCO, tidak terbatas hanya gamelan Jawa saja tetapi gamelan yang  ada dan menyebar ke seantero negeri, mulai dari Bali, Sumatera dan Kalimantan. 

"Yang ditetapkan bukan sekedar gamelan Jawa tapi Gamelan Indonesia," ucap dosen jurusan karawitan itu. 

Ia menyebut, gamelan bukan hanya dimainkan orang Indonesia. Seperangkat alat musik itu sudah dimainkan di Australia, Jepang, hingga benua Afrika. 

Bahkan, pada saat pandemi banyak mahasiswa dari Jepang yang semangat belajar gamelan, meski lewat daring. 

"Kami sudah merancang rencana aksi setelah penetapan Unesco. Di antaranya, kami akan membuat buku tentang gamelan. Selain itu, kami akan membuat Pusat Studi Gamelan dan museum. Di mana masyarakat bisa belajar tentang itu," imbuhnya. 

Selain Pusat Studi Gamelan, pihaknya juga akan membuat semacam workshop pembuatan alat-alat gamelan. Ini karena, di masa pandemi Covid-19,  banyak di antara perajin gamelan yang tidak lagi berproduksi. 

Itu karena, mahalnya bahan baku dan pemesanan yang jarang, imbas dari tidak adanya pertunjukan offline selama pandemi. 

"Gamelan bukan sekedar alat musik, tetapi mencakup juga filosofi yang lebih dalam. Ada kebersamaan kegotongroyongan. Banyak sekali yang bisa diterjemahkan dalam konsep gamelan," pungkas Suraji.


Bagikan :

SEMARANG -  Penetapan gamelan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) disambut gembira oleh pemerintah dan praktisi budaya Jawa. Penetapan ini dilakukan Komite Konvensi Warisan Budaya Tak Benda/WBTB (Intangible Cultural Heritage/ICH) UNESCO pada 15 Desember 2021 lalu. 

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah Eris Yunianto, menyebut untuk lebih menyemangati para pelaku seni, pihaknya akan berkolaborasi dengan masyarakat untuk melestarikan gamelan. 

"Kita bergerak gotong royong dengan dukungan masyarakat. Dalam konteks ini, kami sudah mencoba untuk melestarikan lewat lomba karawitan virtual untuk para pelajar pada Oktober 2021 lalu," tuturnya, dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (16/12/2021). 

Proses ditetapkannya gamelan sebagai WBTb oleh UNESCO telah melalui mekanisme yang panjang. Usulan ini dimulai dari praktisi sekaligus dosen di ISI Surakarta pada sekitar tahun 2014. 

Pada saat itu, gamelan bersaing dengan calon WBTb lain seperti lukisan Bali, Tempe, Kolintang dan Reog Ponorogo. Setelah kompetisi itu, barulah Kemendikbudristek RI menobatkan gamelan, untuk diusulkan ke UNESCO sebagai calon WBTb. 

Hingga saat ini, sudah ada 11 WBTb asal Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO. Di antaranya, Wayang, Keris, Batik, Pendidikan dan Pelatihan Batik, Angklung , Tari Saman, Noken, Tiga Genre Tari Tradisional di Bali, Seni Pembuatan Kapal Pinisi, Tradisi Pencak Silat, dan Pantun. 

"Kalau usulan dari Jawa Tengah itu ada empat, yang masuk di antaranya batik, wayang, keris dan gamelan. Ini sedang proses Jamu dan  tempe," ungkapnya 

Dosen ISI Surakarta lainnya yang juga seorang praktisi gamelan Suraji, menyambut  gembira pencapaian ini. Ia menyebut, setelah ini pihaknya akan mengadakan rencana aksi untuk dapat membumikan dan mempopulerkan gamelan di kalangan anak muda. 

Menurut Suraji, gamelan bukan hanya seperangkat alat musik berupa saron, gong dan bonang, kendang, rebab dan sitar. Di dalam gamelan lanjutnya, terdapat nilai filosofi dan historis yang panjang. Hal itu bisa dilihat dari adanya gamelan terukir pada relief Candi Borobudur. 

Suraji mengatakan, penetapan gamelan sebagai WBTb oleh UNESCO, tidak terbatas hanya gamelan Jawa saja tetapi gamelan yang  ada dan menyebar ke seantero negeri, mulai dari Bali, Sumatera dan Kalimantan. 

"Yang ditetapkan bukan sekedar gamelan Jawa tapi Gamelan Indonesia," ucap dosen jurusan karawitan itu. 

Ia menyebut, gamelan bukan hanya dimainkan orang Indonesia. Seperangkat alat musik itu sudah dimainkan di Australia, Jepang, hingga benua Afrika. 

Bahkan, pada saat pandemi banyak mahasiswa dari Jepang yang semangat belajar gamelan, meski lewat daring. 

"Kami sudah merancang rencana aksi setelah penetapan Unesco. Di antaranya, kami akan membuat buku tentang gamelan. Selain itu, kami akan membuat Pusat Studi Gamelan dan museum. Di mana masyarakat bisa belajar tentang itu," imbuhnya. 

Selain Pusat Studi Gamelan, pihaknya juga akan membuat semacam workshop pembuatan alat-alat gamelan. Ini karena, di masa pandemi Covid-19,  banyak di antara perajin gamelan yang tidak lagi berproduksi. 

Itu karena, mahalnya bahan baku dan pemesanan yang jarang, imbas dari tidak adanya pertunjukan offline selama pandemi. 

"Gamelan bukan sekedar alat musik, tetapi mencakup juga filosofi yang lebih dalam. Ada kebersamaan kegotongroyongan. Banyak sekali yang bisa diterjemahkan dalam konsep gamelan," pungkas Suraji.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu